Opini
Eropa Menyiapkan Perang, Dunia Menyiapkan Kubur
Pagi di Eropa mungkin terasa sama: kafe penuh, trem berlalu di jalan-jalan berbatu, dan aroma kopi menguap di udara musim gugur. Namun di balik rutinitas yang tampak tenang itu, ada bayangan yang mulai tumbuh di bawah permukaan — seperti retakan halus di kaca jendela yang pelan-pelan melebar hingga pecah. Kini, bayangan itu bernama perang. Bukan perang yang dimulai dengan peluru, tapi perang yang sedang dibangun dengan narasi. Dan yang paling mengerikan, perang itu disiapkan dengan penuh kesadaran — bahkan dengan kebanggaan.
Jerman, jantung ekonomi Eropa, kini berdetak seperti mesin perang yang siap dinyalakan kapan saja. Laporan tentang kesiapan Berlin memfasilitasi pengerahan 800.000 pasukan NATO ke perbatasan Rusia terasa seperti deja vu yang tak ingin kita ingat. Operation Plan Germany, setebal seribu halaman, menjadi kitab baru yang menulis ulang takdir Eropa: sebuah daratan yang seharusnya belajar dari dua perang besar, tapi kini kembali berlari ke arah yang sama dengan langkah lebih cepat. Ironisnya, semua ini dilakukan atas nama “pertahanan.”
Letnan Jenderal Alexander Sollfrank, dengan wajah dingin khas birokrat militer, mengatakan Rusia bisa menyerang “bahkan besok.” Kalimat yang dimaksudkan sebagai peringatan itu terdengar lebih seperti ajakan. Karena setelah itu, tak lama, Kanselir Friedrich Merz dan Menteri Pertahanan Boris Pistorius ikut menggaungkan nada yang sama: bahwa “keberadaan Jerman” terancam. Di sinilah absurditas itu mekar. Sebuah negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di Eropa, dengan NATO di belakangnya, berbicara seolah sedang dikepung musuh yang tak kelihatan. Seolah ketakutan adalah bahan bakar politik yang paling manjur untuk menggerakkan mesin militer.
Kita tahu logika seperti ini. Ia muncul di banyak tempat. Di negeri kita pun, ketakutan sering dipelihara agar publik patuh. Ketika pemerintah ingin menaikkan anggaran, membatasi kebebasan, atau menekan kritik, biasanya mereka tak lupa menyebut satu kata ajaib: ancaman. Dan kini Eropa sedang melakukan hal yang sama — hanya saja skalanya global, dengan Rusia dijadikan hantu kolektif yang menakut-nakuti semua warga agar bersatu di balik bendera NATO.
Namun siapa sebenarnya yang sedang mengancam siapa? Rusia, dalam banyak pernyataannya, menegaskan tak berniat menyerang NATO. Tapi Berlin menolak percaya. Atau mungkin, justru tak mau percaya — karena ketakutan selalu menguntungkan mereka yang berkuasa. Dengan alasan ancaman Rusia, Jerman menyiapkan anggaran €377 miliar untuk persenjataan. Uang rakyat, yang seharusnya untuk pendidikan, energi hijau, atau kesejahteraan sosial, kini diubah menjadi rudal dan kendaraan lapis baja.
Sementara itu, di Belgia, 149.000 surat dikirimkan kepada anak-anak berusia 17 tahun — bukan undangan pesta ulang tahun, tapi ajakan untuk “belajar tentang pertahanan.” Sebuah cara halus menanamkan militerisasi di kepala generasi muda. Menteri Pertahanan Theo Francken menyebutnya “peluang berharga,” tetapi banyak yang tahu: ini bukan sekadar kesempatan, ini latihan pembiasaan. Hari ini sukarela, besok mungkin wajib.
Saya rasa kita sedang menyaksikan kelahiran ulang Eropa yang dulu kita kira sudah dewasa. Benua yang selama puluhan tahun membangun reputasi sebagai kampiun perdamaian dan diplomasi, kini malah terperangkap dalam euforia war readiness. Bukan lagi soal pertahanan, melainkan semacam ritual kebangkitan yang memerlukan musuh eksternal untuk menghidupkan identitasnya kembali. Setelah Uni Eropa kehilangan arah moral karena krisis energi, inflasi, dan migrasi, kini Rusia dijadikan kaca pembesar tempat mereka bisa melihat bayangan keberanian sendiri — meski palsu.
Dalam dunia yang lelah dengan krisis, militerisasi selalu tampak sebagai jalan cepat menuju kontrol. Ia memberi kepastian semu: ada musuh, ada misi, ada rasa “bersatu.” Tapi sejarah, yang entah kenapa selalu dilupakan manusia, sudah berkali-kali menunjukkan hasil akhirnya: kehancuran. Dulu, generasi muda Eropa yang bersemangat membela negaranya di tahun 1914 juga percaya bahwa mereka sedang mempertahankan peradaban. Mereka berangkat ke parit-parit dengan keyakinan sama seperti para pemuda Belgia yang hari ini mendapat surat dari kementerian pertahanan. Hasilnya kita tahu: jutaan mayat, tanah terbakar, dan generasi patah.
Sekarang, Eropa kembali menulis ulang naskah yang sama — hanya dengan pemeran baru dan kamera modern. Ketakutan pada “agresi Rusia” menjadi alibi sempurna untuk menutup krisis internal: turunnya daya beli, ketimpangan sosial, dan kebangkrutan moral. Politik perang lebih mudah dijual daripada politik kesejahteraan. Ia menawarkan narasi sederhana: “Kita melawan yang jahat.” Tak perlu berpikir panjang. Tak perlu menuntut pertanggungjawaban ekonomi. Dan rakyat, seperti biasa, menelan narasi itu karena siapa yang ingin disebut pengecut di tengah propaganda heroik?
Di sisi lain, NATO tampak seperti pemain lama yang tak ingin pensiun. Ia memerlukan panggung baru setelah perang dingin berakhir. Dan panggung itu kini bernama Eropa Timur. Dengan mengerahkan pasukan, membangun pangkalan logistik, dan menyiapkan operation plan yang bisa digelar dalam 180 hari, NATO seolah berkata: “Kami masih relevan.” Padahal, setiap rencana semacam itu hanya memperkuat paranoia, mendorong perlombaan senjata, dan memperpendek jarak menuju bencana.
Saya teringat sebuah pepatah lama: ketika satu pihak mengasah pedang, pihak lain tak akan menanam bunga. Eropa sedang mengasah pedangnya, dan Rusia tentu tak akan diam. Maka, siapa pun yang memulai, perang tetap akan menjadi simfoni bersama — dimainkan oleh dua tangan yang sama-sama keras kepala.
Dari jauh, kita di Asia mungkin merasa aman, seolah konflik itu hanya urusan mereka. Tapi sejarah global tak bekerja seperti itu. Setiap kali Eropa terbakar, percikan apinya sampai ke sini — lewat harga minyak, nilai tukar, hingga kebijakan luar negeri yang ikut bergeser. Dunia ini sudah terlalu terhubung untuk berharap kebodohan satu benua tak menular ke benua lain.
Ironinya, mereka yang mengaku membela demokrasi kini justru menutup ruang bagi perbedaan pandangan. Siapa pun yang berbicara tentang diplomasi dianggap “lemah,” siapa pun yang menolak militerisasi dianggap “pro-Rusia.” Retorika ini persis seperti yang dulu mereka kritik di negara-negara otoriter. Dan ketika media Eropa menulis berita, mereka tak lagi menganalisis — mereka mereproduksi ketakutan.
Saya jadi berpikir: mungkin dunia memang punya kecanduan terhadap perang. Seolah setiap generasi membutuhkan dosisnya sendiri agar merasa hidup. Eropa, dengan sejarah panjang luka dan kebanggaan, tampaknya belum benar-benar sembuh. Kini, ia kembali merias wajahnya dengan cat kamuflase, dan memandang ke Timur sambil berkata, “Kami siap.” Tapi siap untuk apa? Untuk mempertahankan perdamaian, atau untuk mengulang dosa lama dengan cara yang lebih modern?
Kalau perang benar-benar datang, ia tak akan mengenal perbatasan. Ia akan menelan masa depan anak-anak Belgia yang sekarang membaca surat ajakan “volunteer.” Ia akan menghancurkan perekonomian yang dibiayai oleh anggaran militer €377 miliar itu. Ia akan menguji klaim moral Eropa bahwa mereka lebih “beradab” dari Timur. Dan ketika semuanya berakhir, yang tersisa hanyalah keheningan — sama seperti setelah perang sebelumnya, ketika kafe-kafe hancur, trem berhenti, dan kopi di cangkir menjadi dingin tanpa sempat diminum.
Saya kira, di situlah absurditas paling nyata dunia ini: manusia membangun peradaban hanya untuk menghancurkannya lagi dengan alasan “melindungi.” Eropa, yang seharusnya menjadi contoh kedewasaan politik global, kini sedang menyiapkan bukan masa depan, tapi kuburannya sendiri. Dan seperti biasa, mereka menyebutnya: perdamaian melalui kekuatan.
Sumber:

Pingback: Retorika Eropa dan Ancaman Rusia Tutupi Krisis Ekonomi
Pingback: Protes Petani di Eropa dan Demokrasi yang Tuli