Connect with us

Opini

Ketika Beirut Berbicara, Dunia Arab Bangkit Lagi

Published

on

Ilustrasi kebangkitan bangsa Arab di Beirut, simbol perlawanan dan solidaritas untuk Palestina.

Bayangkan Beirut. Kota yang dulu dihantam perang, kini menjadi tuan rumah bagi ratusan tokoh Arab yang datang membawa satu kata yang sudah lama dikubur: perlawanan. Di tengah reruntuhan sejarah dan propaganda modernisasi yang memabukkan, suara-suara itu terdengar seperti gema masa lalu yang menolak mati. Di sebuah aula di jantung Lebanon, kata “resistance” tak lagi berarti sekadar pertempuran bersenjata—ia menjadi doa politik, manifesto kultural, dan harapan sosial yang dirapal bersama oleh mereka yang menolak menyerah. Ironisnya, semangat itu justru muncul dari reruntuhan, bukan dari istana-istana megah dunia Arab yang sibuk berdamai dengan penjajah.

Saya rasa, ada sesuatu yang mengguncang nalar ketika bangsa-bangsa yang telah lama ditaklukkan mulai berbicara dengan bahasa yang pernah mereka tinggalkan. Laporan tentang Konferensi Nasional Arab ke-34 di Beirut seperti membuka bab baru yang tak ditulis dalam buku sejarah resmi: bab tentang bangsa yang tak mau mati. Lebih dari 250 tokoh dari berbagai penjuru dunia Arab berkumpul, bukan untuk menegosiasikan proyek ekonomi, bukan untuk membahas investasi, tetapi untuk menegaskan kembali bahwa perlawanan adalah inti kebangkitan bangsa Arab. Kata itu—resistance—mengandung luka, tapi juga nyala.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Ma’an Bashour, pendiri Forum Nasional Arab, menyebut perlawanan sebagai “fondasi kebangkitan bangsa.” Ia bicara bukan dengan gaya seorang jenderal, melainkan seperti seorang filsuf yang tahu: bangsa tanpa perlawanan akan hilang arah. Dalam pandangannya, perlawanan bukan cuma senjata, tapi kesadaran. Ia adalah sistem nilai, cara berpikir, dan bahkan bentuk cinta terhadap tanah air. Kita semua tahu, cinta yang tidak diperjuangkan hanyalah nostalgia. Dan dunia Arab sudah terlalu lama hidup dalam nostalgia.

Hamdeen Sabahi menambahkan nada yang lebih emosional: “Bangsa ini belum kalah.” Kalimat itu terdengar sederhana, tapi diucapkan di hadapan kenyataan pahit—Palestina terbakar, Gaza dikepung, dan sebagian negara Arab justru bergegas menormalisasi hubungan dengan Tel Aviv. “Bangsa ini belum kalah” bukan pernyataan faktual; ia adalah deklarasi iman politik. Dalam dunia yang menilai kekuatan dari tank dan dolar, Sabahi mengingatkan bahwa kekalahan sejati justru lahir ketika bangsa berhenti percaya pada dirinya sendiri.

Namun, apa arti kebangkitan bangsa Arab hari ini ketika sebagian besar pemerintahnya justru memeluk ideologi pragmatisme tanpa arah? Konferensi Beirut menjawab dengan satu kalimat yang menggigit: “The pen, the voice, and the image will play as important a role as the weapon.” Ini bukan lagi tentang perang melawan Israel semata, tapi perang melawan narasi kekalahan yang disebarkan setiap hari lewat media, diplomasi, dan pasar. Dalam dunia yang dikuasai oleh opini publik global, perang ide bisa lebih menentukan dari perang senjata.

Khalil al-Hayya dari Hamas menegaskan bahwa serangan Al-Aqsa Flood telah “mengembalikan sentralitas Palestina.” Ia menyebut Gaza sebagai luka yang berdarah tapi berdiri tegak. Ada kebanggaan yang aneh dalam kalimat itu—kebanggaan seorang bangsa yang tetap berdiri di tengah kehancuran. Dan mungkin itu yang membuat dunia Arab mulai menoleh lagi ke Gaza. Bukan karena kemenangan militer, tapi karena kemenangan moral. Dalam setiap reruntuhan rumah, ada simbol keberanian yang tak bisa dihancurkan oleh bom.

Ziyad al-Nakhalah dari Jihad Islam memperluas medan tafsir: Gaza, katanya, tidak hanya melawan Israel, tetapi “koalisi internasional yang dipimpin Amerika Serikat.” Kalimat itu tajam, karena menyingkap siapa sebenarnya lawan yang dihadapi. Di balik jargon demokrasi dan keamanan, ada proyek global yang berusaha menghapus Palestina dari peta kesadaran dunia. Tapi Gaza, kecil dan miskin, mampu menahan gempuran itu lebih lama dari yang diperkirakan siapa pun. “Kami keluar dari pertempuran dengan senjata di tangan,” ujarnya. Dalam bahasa politik, itu berarti Gaza belum tunduk. Dalam bahasa moral, itu berarti dunia Arab belum mati.

Di sisi lain, Jamil Mezher dari PFLP melontarkan kritik tajam ke dalam tubuh dunia Arab sendiri: saatnya berhenti berslogan, saatnya bergerak. Ia menuntut Liga Arab untuk berhenti menjadi forum retorika dan mulai bertindak. Kalimatnya seperti tamparan bagi elite-elite Arab yang sibuk membangun menara kaca sementara Palestina terus berdarah. Dan mungkin, di situlah inti kebangkitan baru ini: bukan pada kekuatan negara, tetapi pada keberanian rakyat untuk berkata cukup.

Amar al-Mousawi dari Hizbullah berbicara dengan nada yakin: “Perlawananlah yang akan membentuk masa depan, dari Palestina hingga Lebanon.” Ia bicara dengan gaya seorang yang tahu betapa mahal harga dari keputusan itu. Hizbullah kehilangan banyak pejuang, tapi bagi mereka, pengorbanan adalah mata uang sejarah. Ia bahkan menyebut dukungan moral dari negara-negara Amerika Latin sebagai bukti bahwa poros perlawanan tak lagi eksklusif Arab atau Islam—ia kini menjadi bahasa global melawan ketidakadilan.

Dan di ujung selatan jazirah, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi dari Yaman menutup dengan data yang tak bisa diabaikan: 1.830 operasi militer, 228 kapal musuh diserang, 22 drone MQ-9 AS ditembak jatuh. Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Mereka adalah pesan: bahkan negara yang hancur seperti Yaman pun bisa melawan. Dunia Arab, tampaknya, sedang belajar satu hal penting—bahwa kedaulatan tidak diberikan, tapi direbut.

Namun, di balik semua itu, saya tak bisa tidak merasakan ironi. Kebangkitan Arab hari ini justru lahir bukan dari pusat kekuasaan, melainkan dari pinggiran: Beirut, Gaza, Sana’a. Kota-kota yang dulu dianggap beban sejarah kini menjadi lentera moral. Sementara pusat-pusat lama seperti Riyadh dan Kairo tampak lebih sibuk menjaga kenyamanan hubungan diplomatik dengan Washington ketimbang menjaga martabat kawasan. Dunia berputar aneh: yang dulu lemah kini memberi arah; yang dulu kuat kini kehilangan suara.

Kita bisa sinis dan berkata, “Ah, itu cuma retorika.” Tapi sejarah sering dimulai dari retorika. Sebelum perlawanan menjadi kenyataan, ia selalu dimulai sebagai kata yang diucapkan dengan keyakinan. Dan hari ini, kata “resistance” kembali diucapkan dengan nada penuh keyakinan di Beirut. Mungkin belum ada kebangkitan politik yang nyata, tapi ada kebangkitan moral yang tak bisa diremehkan. Dunia Arab tampaknya mulai sadar bahwa diam sama saja dengan mati perlahan.

Mungkin inilah saatnya dunia Arab berhenti menunggu penyelamat dan mulai menjadi penyelamat bagi dirinya sendiri. Karena seperti yang diucapkan Sabahi: bangsa ini belum kalah. Ya, mungkin terluka, mungkin terpecah, mungkin lelah—tapi belum kalah. Dan dari reruntuhan Beirut, Gaza, dan Sana’a, ada tanda-tanda kehidupan. Masih samar, tapi ada.

Saya rasa, kebangkitan bangsa-bangsa Arab bukan lagi soal kekuasaan, tapi soal kesadaran. Kesadaran bahwa martabat lebih berharga dari kenyamanan. Kesadaran bahwa sejarah tidak menulis ulang dirinya sendiri. Dan mungkin, dalam setiap konferensi kecil seperti di Beirut, dunia sedang menyaksikan sesuatu yang tak bisa dihentikan: bangsa-bangsa yang belajar kembali cara berdiri.

Karena pada akhirnya, kebangkitan selalu dimulai dari satu kalimat sederhana: Kami belum kalah.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer