Opini
Bayang-bayang ISIS di Suriah: Kebangkitan atau Hanya Hantu Masa Lalu?
Di tengah puing-puing Suriah, di mana debu perang tak pernah benar-benar mengendap, ISIS merangkak kembali dari kuburnya. Laporan The Cradle, mengutip Wall Street Journal pada 24 Oktober 2025, menggambarkan pemandangan kelam: serangan sel tidur di Deir Ezzor, bom pinggir jalan, dan penyergapan yang mencuri nyawa. Saya rasa kita semua tahu, ini bukan sekadar berita—ini absurditas dunia yang kita biarkan berulang. ISIS, yang kita kira telah terkubur di Baghouz pada 2019, kini menari di atas reruntuhan rezim Assad yang runtuh dan penarikan pasukan AS yang separuh hati. Ironis, bukan? Dunia yang pernah bersorak atas “kemenangan” melawan terorisme kini harus menahan napas, menyaksikan hantu masa lalu mengintip dari balik bayang-bayang.
Mari kita mulai dengan fakta yang mencakar. The Cradle melaporkan 117 serangan ISIS di Suriah timur laut sepanjang Januari hingga Agustus 2025, menewaskan puluhan prajurit SDF, termasuk 10 di bulan Mei dan tujuh di Agustus. Syrian Observatory for Human Rights mencatat lonjakan tiga kali lipat serangan ISIS pada 2024 dibandingkan 2023—700 insiden yang merenggut 750 nyawa. Ini bukan kebangkitan megah seperti era kalifah 2014, ketika mereka menguasai Mosul dan Raqqa bagai raja tanpa mahkota. Tidak, ini geliat. Geliat yang licik, seperti semute yang merayap di sela tembok retak, menunggu celah untuk membangun sarang baru. Dengan hanya 1.500-3.000 pejuang tersisa di Irak dan Suriah, ISIS bukan lagi monster raksasa, melainkan serigala kecil yang menggigit di kegelapan, menggunakan IED dan penyergapan untuk mengingatkan kita: mereka masih ada.
Tapi, jangan salah paham—geliat ini bukan cuma soal angka. Ini soal kekacauan yang kita ciptakan sendiri. Jatuhnya Assad pada Desember 2024, setelah kudeta HTS (Hay’at Tahrir al-Sham) yang didukung Turki, meninggalkan Suriah bagai pasar tanpa pengawas. HTS, yang dulu lahir dari rahim al-Qaeda, sibuk menata Damaskus, berpose sebagai pahlawan transisi sambil mencari legitimasi internasional. Sementara itu, di timur laut, SDF—sekutu Kurdi yang dulu jadi ujung tombak melawan ISIS—tertinggal sendirian, ditinggalkan AS yang menarik 500 pasukannya sejak April 2025. Komandan SDF, Goran Tel Tamir, bilang jujur: “Penarikan AS menginspirasi Daesh.” Kalimat itu bukan sekadar keluhan, melainkan tamparan. Kita semua tahu, ketika kekuatan besar mundur setengah hati, yang tersisa adalah celah untuk kekacauan.
Laporan The Cradle tak hanya menyoroti serangan, tapi juga melempar tuduhan yang bikin bulu kuduk berdiri: AS diduga sengaja mempersenjatai ISIS pada 2014 untuk merebut Mosul, melindungi perdagangan minyak mereka ke Turki dan Israel, bahkan berkolusi dengan KDP Barzani dalam genosida Yezidi di Sinjar. Benarkah? Saya tak akan buru-buru menolak—ada asap, pasti ada api, bukan? Tapi mari kita bedah dengan pisau analisis, bukan emosi. Program CIA Timber Sycamore, yang mengalirkan senjata ke oposisi Suriah, memang berantakan. Dokumen DIA 2012 sudah memperingatkan risiko senjata jatuh ke tangan ekstremis seperti ISI, cikal bakal ISIS. Laporan Guardian (2015) bilang senjata itu bocor ke Jabhat al-Nusra dan kelompok lain. Bisa diduga, kebocoran ini—entah disengaja atau tidak—menggemukkan ISIS di awal. Tapi menyebut AS sengaja membesarkan monster yang lalu mereka habisi dengan miliaran dolar? Itu seperti petani yang membakar lumbungnya sendiri setelah panen—tak masuk akal, tapi kelalaiannya tetap patut dicurigai.
Lalu soal minyak. ISIS, pada 2014-2015, meraup $500 juta per tahun dari ladang Deir Ezzor, menjualnya melalui pasar gelap ke Turki dan wilayah Kurdi Irak. Ada indikasi korupsi lokal di KDP memungkinkan ini—Reuters (2015) pernah menyinggungnya. Tapi tuduhan bahwa AS melindungi truk-truk minyak ini hingga ke Israel? Itu butuh lebih dari sekadar cerita pasar. AS justru mengebom ratusan tanker ISIS pada 2015 dalam Operasi Tidal Wave II. Jika mereka “melindungi” minyak, mengapa menghancurkannya? Bisa diduga ada kelalaian awal, mungkin karena fokus AS waktu itu tertuju pada Assad, tapi narasi konspirasi besar-besaran terasa seperti dongeng yang enak didengar, tapi sulit dibuktikan.
Yang paling menusuk adalah tuduhan KDP Barzani membantu genosida Yezidi di Sinjar, 2014. Fakta pahitnya, Peshmerga KDP mundur saat ISIS menyerang, meninggalkan ribuan Yezidi terbunuh atau diperbudak. Human Rights Watch (2015) menyebut ini kegagalan militer, bukan kolusi. Bisa diduga KDP memprioritaskan otonomi Kurdi ketimbang perlindungan Yezidi, dan kemarahan komunitas Yezidi memperkuat persepsi pengkhianatan. Tapi menyebut ini bagian dari agenda AS-Israel? Itu lompatan yang terlalu jauh, seperti menuduh tetangga mencuri ayam hanya karena ia tak menutup pintu kandang. Tanpa dokumen intelijen atau kesaksian kuat, tuduhan ini lebih berbau narasi anti-Barat yang populer di kalangan tertentu.
Kembali ke Suriah hari ini, geliat ISIS ini bukan cuma urusan lokal. Ini seperti luka kecil yang bisa bernanah jika dibiarkan. Di Suriah, ancaman ini memperparah krisis. SDF, yang mengelola wilayah kaya minyak, kini menghadapi serangan ISIS sambil berjuang melawan protes suku Arab Sunni di Raqqa-Hasakah. Kamp Al-Hol, rumah bagi 10.000 tahanan ISIS, bagai bom waktu—pelarian massal pernah terjadi sebelumnya, dan bisa terulang. HTS, yang sibuk berparade di Damaskus, tak punya insentif kuat untuk membantu SDF, apalagi dengan Turki yang memusuhi Kurdi. Ini seperti keluarga yang bertengkar di depan rumah yang terbakar—tak ada yang menang.
Bagi dunia, ini peringatan yang pahit. ISIS, meski lemah, punya jaringan global. Laporan PBB (Juli 2025) bilang mereka masih pegang $50 juta, cukup untuk membiayai serangan di Eropa atau Asia. Afiliasi mereka di Afrika—Sahel, Somalia—menyumbang 70% serangan global ISIS. Abdulqadir Mumin, diduga pemimpin operasional dari Somalia, menunjukkan pusat gravitasi ISIS bergeser, tapi Suriah tetap panggung utama. Penarikan AS, yang kini tinggal 1.500 pasukan, mencerminkan kelelahan Barat, tapi juga membuka celah. Rusia dan Iran, yang kehilangan Assad, mungkin tersenyum sinis, menyalahkan AS atas kekacauan ini. Turki, pendukung HTS, terjebak dalam dilema: mendukung stabilitas Suriah, tapi memusuhi SDF. Dan Israel? Mereka mengintip dari Golan, siap mengebom jika ancaman mendekat.
Saya rasa kita semua muak dengan siklus ini—terorisme bangkit, dunia panik, lalu lupa lagi. Tapi kebenaran yang paling getir ada di sini: kita ikut menciptakan kekacauan ini. Kebijakan AS yang kacau di Suriah, kebocoran senjata, kelalaian KDP, semua itu seperti benih yang kita tabur tanpa sadar. Bisa diduga ada niat buruk di balik beberapa langkah—mungkin untuk melemahkan Assad, mungkin untuk mengamankan minyak—tapi tanpa bukti, kita hanya bisa menduga. Yang jelas, Suriah membayar harganya. Rakyatnya, yang sudah kehilangan rumah dan harapan, kini menghadapi bayang-bayang ISIS lagi.
Apa solusinya? Koordinasi, meski kedengarannya klise. HTS dan SDF harus dipaksa duduk bersama, mungkin oleh Turki atau Yordania, untuk menutup celah keamanan. AS, meski lelah, harus pertahankan intelijen dan serangan udara—bukan pasukan besar, tapi cukup untuk menekan ISIS. Dunia harus serius soal Al-Hol; repatriasi tahanan atau deradikalisasi bukan cuma slogan, tapi keharusan. Kita tak bisa lagi pura-pura terkejut saat monster ini bangkit. Ini seperti kebocoran pipa di rumah—abaikan sekarang, banjir nanti.
Di ujung narasi ini, saya ingin kita berhenti sejenak. Bayangkan seorang anak di Deir Ezzor, berlari dari suara bom, tak tahu apakah itu ISIS atau drone AS. Dunia kita, yang sibuk dengan geopolitik dan drama Twitter, sering lupa wajah-wajah itu. ISIS bukan cuma soal teror; ini soal kegagalan kita semua. Kita bisa menyalahkan AS, HTS, atau siapa saja, tapi cerminnya ada di depan kita. Geliat ISIS ini, kecil tapi licik, adalah pengingat: perang tak pernah benar-benar usai, dan hantu masa lalu selalu menanti kesempatan. Jadi, mari berpikir kritis—dan mungkin tersenyum getir—sambil bertanya: kapan kita belajar?

Pingback: Pangkalan Militer AS di Damaskus: Ironi Baru Timur Tengah