Connect with us

Opini

Membongkar Lebanon Scenario: Dari Beirut ke Gaza, Gencatan yang Menjadi Jebakan

Published

on

Illustration showing Gaza and Beirut under broken ceasefire, symbolizing the Lebanon scenario repeated in Gaza.

Ada ironi pahit dalam setiap kata “gencatan senjata” yang keluar dari mulut para diplomat. Kata itu terdengar menenangkan, seolah membuka ruang bagi napas kemanusiaan di antara reruntuhan. Tapi di Gaza, seperti halnya dulu di Beirut, “gencatan” sering kali hanya jeda di antara dua babak kekejaman. Sebuah ilusi damai yang diatur dengan rapi, agar dunia bisa kembali tenang menonton dari jauh, sementara mesin perang diam-diam menyiapkan ronde berikutnya.

Hamas tampaknya mulai menyadari jebakan itu. Dalam laporan Asharq al-Awsat pada 22 Oktober, sejumlah sumber internal menyebut kekhawatiran bahwa zionis tengah “menduplikasi skenario Lebanon” di Jalur Gaza — sebuah pola lama: biarkan gencatan diumumkan, lalu lanjutkan pembunuhan dengan dalih keamanan, disarmament, atau operasi “preventif.” Lebanon tahu betul bagaimana kisah itu berakhir — dengan wilayahnya dijadikan laboratorium bagi pembunuhan sistematis dan pelanggaran udara harian yang seolah dianggap lumrah. Kini Gaza sedang berada di ambang eksperimen yang sama.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Kecurigaan itu bukan tanpa dasar. Hanya seminggu setelah gencatan berlaku, beberapa komandan penting Brigade al-Qassam dibunuh melalui serangan udara. Di antaranya Yahya al-Mabhouh, tokoh perlawanan yang memimpin pertempuran di Jabalia. Tak berhenti di situ, Taj al-Din Wahidi juga gugur bersama puluhan warga sipil lain. Semua terjadi dalam “masa damai.” Betapa absurd: istilah “ceasefire” terdengar lebih seperti “pause for assassination.

Israel, seperti biasa, membenarkan tindakannya dengan narasi yang sama: keamanan nasional, pencegahan teror, perlindungan warga. Dalih yang diproduksi industri politik dan disebarkan media arus utama tanpa jeda. Tapi siapa yang benar-benar aman ketika “keamanan” dijadikan alasan untuk membunuh? Ketika Rafah masih dipenuhi suara drone, dan anak-anak Gaza tumbuh di antara bunyi ledakan dan kesunyian setelahnya?

Hamas menuduh bahwa pola yang sedang dibangun mirip dengan yang terjadi di Lebanon. Di sana, setelah perjanjian gencatan senjata disepakati, zionis tetap melanjutkan pembunuhan selektif terhadap anggota Hizbullah, menghancurkan infrastruktur, dan mengintimidasi dengan pesawat tempur yang rutin melanggar ruang udara. Disarmament menjadi mantra baru, bukan untuk menciptakan perdamaian, tapi untuk memastikan perlawanan tak lagi punya gigi. Kini, kata yang sama—“pelucutan senjata”—diputar ulang di Gaza dengan ritme yang mencurigakan.

Sumber dari Hamas menyebut bahwa mereka menaruh sedikit kepercayaan pada mediator Arab, namun sama sekali tak percaya pada Amerika Serikat. Wajar. Sebab Washington, dalam setiap episode konflik ini, selalu berperan ganda: di satu sisi mengaku pendamai, di sisi lain tetap menjadi penyokong utama senjata dan veto yang melindungi agresi zionis. Di meja negosiasi, AS bicara tentang “keamanan bersama.” Di medan perang, ia bicara dalam bahasa bom yang dikirim lewat kapal dan dolar.

Gencatan kali ini, yang diperantarai melalui pertemuan di Sharm el-Sheikh, memang disertai jaminan. Tapi sejarah mengajarkan bahwa “jaminan” di Timur Tengah sering kali tak lebih dari tinta diplomatik yang cepat menguap. Setiap kali Gaza percaya pada janji gencatan, jawabannya selalu sama: rudal yang jatuh di malam hari. Tak perlu menunggu lama, serangan terbaru yang menewaskan warga dan komandan perlawanan membuktikan bahwa “jaminan” itu hanya lembaran kertas yang dibakar di bawah bayangan drone.

Apa yang disebut “Lebanon scenario” sesungguhnya adalah pola dominasi jangka panjang: melemahkan musuh tanpa perang terbuka. Bukan perang total, tapi perdamaian yang dipasangi perangkap. Di Lebanon, Israel memanfaatkan isu senjata Hizbullah untuk melegitimasi serangan lintas batas selama bertahun-tahun. Di Gaza, Hamas khawatir pola itu akan diulang — dengan narasi disarmament, disusul tekanan politik dan ekonomi yang pelan-pelan mencekik. Skenario ini menciptakan keadaan yang seolah “stabil” tapi sejatinya menggerus kedaulatan. Sebuah perdamaian palsu yang menuntut pihak tertindas untuk tetap diam.

Dan dunia tampaknya kembali terperangkap dalam jebakan narasi yang sama. Dunia bersorak setiap kali kata “ceasefire” diumumkan. Para pemimpin Barat berebut mengklaim diri sebagai penjaga moralitas global, padahal mereka tahu, dari Beirut hingga Gaza, tak ada jeda yang sungguh damai. Setiap gencatan adalah strategi; setiap “rekonstruksi” hanyalah jeda ekonomi untuk menyiapkan reruntuhan berikutnya.

Saya rasa inilah bentuk kolonialisme modern yang paling halus: mengatur perang agar tidak pernah benar-benar berakhir. Kolonialisme yang tak lagi memakai bendera, tapi menggunakan bahasa diplomasi. Yang menuntut perlawanan untuk patuh pada aturan yang ditulis oleh penindasnya sendiri. Ironisnya, banyak pihak di dunia Arab yang ikut memainkan peran ini—mendukung perundingan demi perundingan tanpa menantang akar kezaliman yang sama.

Ketika Israel membunuh Yahya al-Mabhouh dan Taj al-Din Wahidi, ia bukan sekadar menargetkan individu. Ia sedang mengirim pesan bahwa “perdamaian” adalah konsep yang akan ditentukan sepenuhnya oleh kekuatan senjata, bukan kesepakatan bersama. Dalam logika semacam ini, Hamas boleh menandatangani gencatan, tetapi tak boleh benar-benar merasa aman. Dan dunia diminta untuk mempercayai narasi bahwa yang mati hanyalah “kombatan,” padahal angka sipil terus bertambah di setiap laporan kemanusiaan.

Lebanon sudah membayar mahal untuk memahami bahwa gencatan versi zionis bukan tentang menghentikan perang, tapi mengendalikannya. Gaza kini sedang dipaksa belajar pelajaran yang sama. Dan jika dunia terus menutup mata, maka kita akan menyaksikan gencatan senjata “Beirut 2024” diputar ulang di Jalur Gaza 2025 — hanya dengan aktor dan latar yang sedikit berbeda.

Mungkin, inilah bentuk paling kejam dari ketidakadilan modern: ketika kematian berlangsung di tengah perjanjian damai, dan dunia menyebutnya “stabilitas.” Ketika pelaku pelanggaran masih duduk di forum PBB sambil berbicara tentang hak asasi. Ketika darah yang mengering di Rafah dianggap sebagai “kolateral.”

Kita semua tahu, perdamaian sejati tidak dibangun di atas kekerasan yang berulang. Tapi barangkali dunia memang tidak mencari perdamaian. Dunia hanya mencari keheningan — keheningan media, keheningan publik, keheningan hati nurani. Maka setiap kali Gaza membara, dan setiap kali gencatan diumumkan, dunia akan kembali merasa lega: sebab keheningan telah kembali, meski hanya sementara.

Namun bagi rakyat Gaza, keheningan itu bukan kedamaian. Itu adalah jeda di antara dua serangan. Dan mereka tahu, seperti yang dulu dirasakan Beirut, bahwa selama pelaku agresi tidak pernah diadili, “gencatan” hanyalah sinonim lain dari “penundaan pembunuhan.”

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Kesepakatan Hamas-PA dan Rencana Damai Palsu

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer