Connect with us

Opini

Ethiopia Menantang Dolar: Simbol Perlawanan Dunia Selatan

Published

on

Ethiopia illustrated breaking away from the U.S. dollar toward China’s yuan as a symbol of dedollarization.

Ethiopia mungkin bukan pusat perhatian dunia keuangan. Ia bukan New York, bukan London, bahkan bukan Shanghai. Tapi di tengah kota Addis Ababa yang berdebu, di antara sisa-sisa perang saudara dan ekonomi yang koyak, sebuah langkah kecil sedang mengguncang fondasi tatanan global: negosiasi dengan China untuk mengonversi utang senilai 5,38 miliar dolar menjadi pinjaman berbasis yuan. Kedengarannya teknis, bahkan membosankan. Tapi di balik angka itu tersembunyi sebuah perlawanan diam-diam—perlawanan terhadap dunia yang sudah terlalu lama dipaksa tunduk pada satu mata uang, satu sistem, satu kekuasaan.

Ethiopia, negara yang baru saja keluar dari perang dua tahun di Tigray, tercekik pandemi, dan bahkan gagal bayar obligasi internasionalnya tahun lalu, kini memilih menempuh jalan berbeda. Ia tak lagi memohon belas kasihan IMF. Ia tak lagi menggantungkan harapan pada dolar yang selalu disertai syarat politik. Ia justru beralih pada yuan—mata uang yang selama ini dipandang Barat dengan curiga, seolah setiap lembarannya mengandung ideologi. Dan langkah ini bukan sekadar pragmatisme ekonomi. Ini deklarasi halus: kami lelah menjadi budak dolar.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Langkah Ethiopia bukan satu-satunya. Kenya sudah lebih dulu menukar pinjaman rel kereta api dari dolar ke yuan, menghemat sekitar 215 juta dolar per tahun. Nigeria pun memperpanjang perjanjian swap 15 miliar yuan untuk menopang perdagangan langsung naira–yuan. Gelombang ini tumbuh senyap, tapi pasti. Dari Nairobi hingga Lagos, dari Addis Ababa hingga Harare, satu per satu negara Afrika mulai melonggarkan cengkeraman dolar. Sebuah revolusi finansial tengah terjadi—tanpa tembakan, tanpa kudeta, tanpa parade. Hanya lewat tinta di atas kontrak, dan keberanian menantang kebiasaan.

Kita semua tahu bagaimana permainan ini berjalan. Dolar bukan sekadar alat tukar, tapi alat kekuasaan. Negara-negara berkembang selama puluhan tahun dipaksa tunduk pada sistem finansial yang ditulis di Washington, dijaga di Wall Street, dan dijalankan lewat “bantuan” IMF atau Bank Dunia. Utang diberikan dengan bunga, tapi juga dengan belenggu. Setiap pinjaman berarti kehilangan sedikit kedaulatan. Setiap negosiasi berarti kompromi terhadap kebijakan domestik. Dan setiap keterlambatan pembayaran bisa berarti bencana: pemotongan subsidi, privatisasi aset, hingga penyesuaian struktural yang menghancurkan sendi sosial.

Karena itu, saya rasa langkah Ethiopia adalah bentuk keberanian yang langka. Bukan karena mereka punya kekuatan besar, tapi justru karena mereka tahu betapa kecilnya mereka dalam peta dunia, namun tetap memilih berkata tidak. Tidak pada jebakan utang dolar yang menyesakkan. Tidak pada sistem yang menilai kemajuan hanya dari seberapa patuh pada lembaga keuangan Barat. Mereka beralih ke yuan, bukan karena romantisme terhadap Beijing, tapi karena realitas: dunia yang dikuasai dolar tidak memberi ruang bagi napas alternatif.

Tentu saja, banyak yang mencibir langkah ini. Barat menuduh Tiongkok menjebak negara-negara miskin lewat “debt trap diplomacy.” Tuduhan yang ironis, mengingat selama puluhan tahun mereka sendiri yang menguasai seluruh arsitektur utang global. Mereka lupa bahwa perangkap sesungguhnya bukan berasal dari bunga pinjaman China, tapi dari ketergantungan struktural terhadap dolar. Setiap kali mata uang lokal melemah, setiap kali harga pangan dan energi naik, negara-negara seperti Ethiopia harus mengeluarkan lebih banyak dolar untuk impor—sementara ekspornya dibayar lebih murah. Sebuah lingkaran setan yang menjaga dominasi Barat tetap abadi.

Kini Ethiopia mencoba keluar dari lingkaran itu. Dan tak bisa dipisahkan dari fakta bahwa mereka kini bergabung dengan BRICS, blok ekonomi yang kini mencakup Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Iran, UEA, dan Indonesia. BRICS bukan hanya forum dagang; ia mulai menjadi poros ideologis baru dunia multipolar. Agenda dedolarisasi bukan sekadar jargon, tapi strategi bertahan dari hegemoni finansial yang menindas. Ketika Donald Trump mengancam dengan tarif dan sanksi, itu bukan sekadar respons emosional. Itu adalah tanda ketakutan. Ketakutan bahwa dunia tak lagi mau bermain dengan aturan yang ditulis oleh satu tangan.

Ironinya, langkah ini datang dari benua yang selama ini dipandang “terbelakang.” Afrika—yang selama berabad-abad dijarah sumber dayanya, dipaksa tunduk pada utang, dan direduksi jadi pasar bagi produk impor Barat—kini justru menjadi laboratorium bagi sistem keuangan baru. Mungkin, inilah titik baliknya. Dunia Selatan mulai menulis ulang narasi ekonomi globalnya.

Saya melihat Ethiopia seperti petani kecil yang akhirnya bosan meminjam dari lintah darat yang setiap kali datang bukan membawa pertolongan, tapi membawa timbangan yang curang. Kini ia memilih meminjam dari tetangga lain, yang mungkin juga tak sepenuhnya tanpa kepentingan, tapi setidaknya memberi ruang tawar. Tentu ada risiko. Yuan belum sekuat dolar di pasar internasional, dan ketergantungan baru terhadap China bisa berubah jadi versi lain dari penjajahan ekonomi jika tak diimbangi kemandirian. Tapi bagi Ethiopia, risiko itu lebih baik daripada terus berada dalam penjara finansial lama.

Apa yang terjadi di Addis Ababa hari ini mungkin tampak kecil, tapi efeknya bisa menjalar jauh. Jika langkah Ethiopia terbukti efektif menstabilkan ekonomi, negara-negara lain di Afrika Timur akan meniru. BRICS akan semakin kuat. Dolar akan sedikit kehilangan cengkeramannya. Dan untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, negara-negara berkembang punya alternatif nyata. Inilah mengapa keputusan ini jauh lebih penting daripada sekadar restrukturisasi utang—ia adalah simbol emansipasi finansial.

Kita di Indonesia seharusnya memperhatikan ini dengan seksama. Sebagai anggota baru BRICS, kita punya posisi strategis untuk ikut mendorong perdagangan lintas mata uang lokal. Rupiah–yuan, rupiah–rupee, atau bahkan rupiah–real Brasil, bisa menjadi fondasi baru ekonomi Asia Selatan dan Tenggara yang lebih berdaulat. Kita tak bisa terus bergantung pada dolar yang naik turun mengikuti hawa politik Washington. Apalagi saat setiap fluktuasi The Fed bisa mengguncang nilai tukar kita dan memicu inflasi tanpa kita berbuat apa pun. Ethiopia memberi pelajaran sederhana tapi tajam: kedaulatan ekonomi dimulai dari keberanian menolak dominasi mata uang asing.

Mungkin dunia tak langsung berubah besok pagi. Tapi setiap langkah kecil seperti ini adalah retakan di tembok besar dominasi dolar. Dan sebagaimana setiap tembok besar dalam sejarah, ia runtuh bukan karena dihantam meriam, melainkan karena pelan-pelan rapuh dari dalam. Ethiopia baru saja menaruh palu pertamanya. Dunia akan mendengar gema pukulannya.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer