Opini
Netanyahu dan Israel: Mengulang Dosa di Tengah Debu Gaza
Di Gaza, asap belum benar-benar hilang. Langit masih kelabu, bahkan ketika dunia sudah bosan menatap layar yang menampilkan reruntuhan dan tubuh-tubuh kecil tertutup debu. Tapi pada 19 Oktober, dentuman kembali terdengar. Israel melanjutkan pemboman di Rafah—kota yang bahkan nyaris tak punya lagi bangunan untuk dijadikan sasaran. Ironi itu begitu telanjang: setelah perang, datang gencatan; setelah gencatan, datang lagi perang. Seolah darah warga Gaza hanyalah jeda di antara siasat politik seorang Benjamin Netanyahu yang sedang panik menjaga kursinya.
Kita tahu, perang ini bukan lagi soal pertahanan diri. Ini soal kelangsungan kekuasaan. Tentara Israel mengebom Rafah dengan dalih “balasan atas serangan militan”, tapi banyak laporan justru menyebutkan bahwa serangan itu bertujuan melindungi Yasser Abu Shabab, pemimpin geng bersenjata yang disebut-sebut mendapat dukungan Israel. Jika benar, maka Israel bukan sedang berperang melawan “terorisme”, tapi sedang memelihara kekacauan untuk dijadikan bahan bakar moral bagi mesin perangnya sendiri. Taktik lama kolonial: ciptakan masalah, lalu datang sebagai penyelamat.
Di tengah reruntuhan Rafah, kata “perdamaian” berubah menjadi lelucon pahit. Kesepakatan gencatan senjata yang seharusnya menjadi titik balik justru dijadikan panggung baru bagi Israel untuk menebar api. Amerika Serikat, seperti biasa, hadir bukan untuk menegakkan hukum, tapi untuk memberi pelindung politik. Departemen Luar Negeri AS menuduh Hamas berencana “menyerang rakyat Gaza”—sebuah tuduhan yang absurd, karena rakyat Gaza adalah mereka sendiri. Tuduhan itu tidak lebih dari strategi lama: menggiring opini global agar setiap peluru Israel terdengar sah sebagai pembelaan diri.
Hamas memang tidak sempurna. Tapi yang dilakukan Israel jelas jauh dari kata benar. Hamas kini sedang menertibkan Gaza pascaperang, menindak geng kriminal dan kolaborator yang memanfaatkan kekacauan. Bahkan sempat ada amnesti bagi mereka yang bersalah tapi tidak membunuh. Namun alih-alih melihat ini sebagai proses pemulihan internal, Israel dan AS malah menuduhnya sebagai “ancaman”. Ironi itu memuncak ketika yang menindas menuduh korban sebagai pelaku kekerasan.
Dan di saat Gaza kembali diserang, di Yerusalem, Netanyahu menunda sidang kasus korupsinya. Alasannya: “pertemuan diplomatik mendesak.” Sebuah alasan yang terdengar manis di telinga pengadilan, tapi busuk bagi siapa pun yang tahu konteksnya. Ia menolak hadir di pengadilan pada Senin dan Selasa, juga Rabu dan Kamis—karena harus menerima kunjungan Wakil Presiden AS dan menghadiri pelantikan kepala baru Shin Bet. Singkatnya: ia sibuk menjaga citra, bukan menegakkan keadilan.
Beginilah wajah seorang pemimpin yang menjadikan perang sebagai panggung pelarian. Setiap bom yang dijatuhkan di Gaza adalah gema dari pengadilan yang ia hindari. Setiap retorika “melindungi Israel” hanyalah selimut bagi ambisinya untuk menunda hari pertanggungjawaban. Ia memerintah bukan dari rasa takut pada musuh, tapi dari ketakutan kehilangan kekuasaan. Dan bagi Netanyahu, Gaza hanyalah panggung teater tempat ia memainkan peran sebagai pahlawan di depan rakyat yang resah, sambil menutupi kebusukan di belakang layar.
Itamar Ben Gvir, menteri keamanan nasionalnya, malah menabuh genderang perang lebih keras. Ia menyerukan agar perang dilanjutkan dengan kekuatan penuh, menyebut Hamas “organisasi Nazi”. Dunia pun terdiam di antara absurditas kalimat itu. Seorang politisi dari pemerintahan yang mengebom anak-anak dengan dalih keamanan kini menyebut orang lain Nazi. Sebuah kebalikannya moral yang begitu sempurna—sampai sejarah pun mungkin kelelahan menertawakan.
Kita bisa melihat pola berulang ini bahkan dari jauh, dari Indonesia, negeri yang juga pernah diajari bahwa penjajahan itu kejahatan kemanusiaan. Ketika Israel mengklaim “berhak membela diri”, saya rasa kita semua tahu: yang dibela bukanlah warga negaranya, tapi ilusi keunggulan yang diciptakan dari superioritas etnis dan politik. Gaza, bagi mereka, hanyalah laboratorium penderitaan. Setiap kali dunia mulai mempertanyakan kebijakan Zionis, maka serangan baru diluncurkan—agar kamera dunia kembali menyorot roket, bukan ruang sidang tempat Netanyahu seharusnya duduk sebagai terdakwa.
Yang mengerikan dari situasi ini bukan hanya kekerasan yang terus berulang, tapi juga keberhasilan Israel membentuk persepsi global. Dalam narasi media Barat, pemboman di Rafah hanyalah “respons terbatas”. Dalam kenyataan, itu adalah pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata, menewaskan puluhan warga sipil termasuk anak-anak dan perempuan. Tapi di dunia di mana algoritma menentukan simpati, berita tentang satu serangan di Gaza kalah cepat dibanding unggahan hewan lucu atau gosip selebriti.
Kita sedang menyaksikan tragedi yang dikelola dengan manajemen media tingkat tinggi. Netanyahu paham betul bahwa dunia kini tak diatur oleh logika moral, tapi oleh arus informasi. Selama ia mampu mengatur narasi—mengalihkan fokus dari pengadilan ke “ancaman keamanan”—ia bisa bertahan. Bahkan dengan darah orang lain. Seperti pedagang yang menutupi bangkrutnya bisnis dengan kebakaran yang “tak disengaja”.
Namun, sejarah selalu menemukan jalannya sendiri. Setiap ledakan di Gaza adalah batu nisan kecil bagi legitimasi moral Israel. Dunia mungkin lambat menyadarinya, tapi luka yang tak sembuh akan selalu meninggalkan bau. Netanyahu mungkin bisa menunda sidangnya, tapi ia tak bisa menunda penghakiman sejarah. Dan ketika kelak generasi mendatang membaca kisah ini, mereka tak akan melihatnya sebagai pahlawan yang melindungi bangsanya, melainkan sebagai penguasa yang memperpanjang perang demi menyelamatkan dirinya.
Saya rasa, yang paling menakutkan dari semua ini bukan kebiadaban Israel yang sudah begitu sering kita lihat, melainkan kebisuan dunia yang terus berulang. Setiap kali Gaza diserang, kita menatap layar, menunduk sebentar, lalu melanjutkan hidup. Seolah penderitaan itu jauh, padahal ia begitu dekat dengan nilai-nilai kemanusiaan yang kita klaim miliki. Mungkin di situlah letak kemenangan sebenarnya bagi Netanyahu dan Israel—mereka berhasil membuat dunia terbiasa dengan ketidakadilan.
Tapi Gaza tak akan diam. Setiap puing yang tersisa adalah saksi bisu bahwa kebenaran tak bisa dibom. Setiap anak yang kehilangan rumah akan tumbuh dengan ingatan tentang siapa yang menghancurkannya. Dan setiap kali Netanyahu menunda pengadilan, ia menunda datangnya hari di mana dunia tak lagi tertipu oleh retorikanya.
Israel mungkin menang dalam perang propaganda, tapi ia kalah dalam perang moral. Netanyahu mungkin lolos dari sidang hari ini, tapi tak akan lolos dari sejarah. Gaza yang hancur hari ini akan menjadi saksi bahwa kezaliman, sekuat apa pun dilindungi, selalu menemukan batasnya.
Dan batas itu, saya rasa, sudah semakin dekat.
Sumber:
- https://thecradle.co/articles/gaza-ceasefire-at-risk-of-collapse-as-israeli-jets-bomb-rafah
- https://www.timesofisrael.com/liveblog_entry/court-agrees-to-nix-netanyahu-testimony-this-week-over-urgent-diplomatic-meetings/

Pingback: Netanyahu Tak Sendiri dalam Kejahatan Gaza
Pingback: Ketika Trump Minta Herzog Ampuni Netanyahu