Connect with us

Opini

Api yang Tak Pernah Padam di Gaza

Published

on

Ilustrasi simbolik tentang kehancuran Gaza dengan bayangan tentara di atas reruntuhan tanpa menampilkan sosok bersenjata.

Gaza selalu punya cara membuat dunia terdiam. Kali ini, diamnya bukan karena damai, melainkan karena letih. Letih menyaksikan kebohongan yang diulang dengan penuh keyakinan, letih mendengar kata “gencatan senjata” diucapkan dengan nada suci oleh mereka yang sedang menyiapkan serangan berikutnya. Ada sesuatu yang begitu absurd ketika orang bicara tentang perdamaian, sambil menyalakan mesin perang di latar belakang.

Ketika Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, menyeru agar “operasi penuh di Gaza” segera dimulai, seolah dunia tak lagi punya memori. Katanya, Hamas telah melanggar perjanjian. Katanya, organisasi itu “Nazi” dan harus “dihancurkan sepenuhnya.” Kalimat yang berputar di lingkar kebencian dan kepongahan. Ironi yang nyaris sempurna: negara yang selalu menuntut dunia mengingat tragedi Holocaust, kini mengulangnya dengan wajah baru—mereka sendiri sebagai pelakunya.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Israel menuduh Hamas menembakkan rudal anti-tank dan menyerang tentaranya di Rafah. Mereka menyebut itu “pelanggaran gencatan senjata.” Lalu apa yang dilakukan? Balasan udara. Serangan demi serangan ke wilayah yang bahkan sudah tak punya bentuk kota lagi. Apakah itu reaksi proporsional? Atau sekadar pelampiasan dendam yang dibungkus jargon keamanan nasional? Saya rasa, jawaban itu sudah jelas, hanya saja banyak orang pura-pura tidak mendengar.

Gencatan senjata kali ini—yang disebut-sebut hasil “rencana damai 20 poin” dari Donald Trump—tak lebih dari ilusi. Rencana yang di atas kertas terlihat diplomatis, tapi di lapangan hanya menjadi instrumen legitimasi untuk memperpanjang napas penjajahan. Sejak awal, perjanjian itu tidak berdiri di atas keadilan, tapi di atas kekuasaan. Ketika satu pihak masih menguasai langit, laut, dan gerbang keluar masuk wilayah yang disebut “merdeka,” maka apa arti damai? Damai yang disetujui di bawah todongan senjata hanyalah jeda, bukan penghentian.

Ben Gvir tahu itu. Netanyahu tahu itu. Bahkan rakyat Israel pun, sebagian besar, tahu bahwa ini bukan soal keamanan, melainkan soal politik domestik. Ketika popularitas jatuh, perang selalu jadi alat yang mujarab. Retorika “menghancurkan Hamas” adalah mantra lama yang selalu diulang untuk menyatukan bangsa yang retak. Persis seperti seorang penguasa yang menyalakan api di halaman tetangga agar rakyatnya lupa bahwa rumahnya sendiri sedang terbakar.

Dan benar saja, Netanyahu langsung menanggapi seruan Ben Gvir. Ia memerintahkan IDF untuk “bertindak tegas terhadap target teror.” Tidak ada penjelasan lebih lanjut, tidak ada kejelasan apakah perang akan dilanjutkan penuh. Kalimatnya menggantung, sengaja dibiarkan kabur agar bisa ditafsir sesuka waktu. Sementara itu, bom sudah jatuh lagi di Rafah. Begitulah politik Israel bekerja: ambigu di depan dunia, brutal di lapangan.

Di sisi lain, Hamas menyatakan tetap berkomitmen pada gencatan senjata. Mereka bahkan menuduh Israel melanggarnya lebih dulu. Dan jika kita jujur, sulit membantah klaim itu. Gaza adalah puing, warganya hidup di bawah bayangan drone, dan wilayah Rafah berada di bawah kendali Israel sendiri. Jadi siapa menyerang siapa? Logikanya terbalik, tapi narasi tetap dikendalikan oleh mereka yang punya mikrofon terbesar.

Yang paling tragis dari semua ini bukanlah perang itu sendiri, melainkan rutinitasnya. Dunia sudah terbiasa melihat Gaza terbakar. Kita semua, entah sadar atau tidak, telah menjadi penonton yang menunggu episode berikutnya. Setiap kali Israel menyerang, kita berkata “lagi-lagi.” Dan setiap kali anak-anak mati, kita menulis “doa untuk Gaza.” Lalu melanjutkan hidup seolah tragedi itu bagian dari kalender tahunan.

Di Indonesia, kita sering menyebut ketidakadilan itu dengan kata “zalim.” Tapi kata itu mungkin terlalu ringan untuk menggambarkan apa yang terjadi di sana. Apa yang dilakukan Israel bukan sekadar kezaliman, tapi dehumanisasi yang sistematis. Mereka ingin Gaza tak hanya hancur secara fisik, tapi juga secara makna—agar dunia lupa bahwa di sana masih ada manusia, bukan sekadar statistik atau bahan laporan media.

Ben Gvir menyebut Hamas “Nazi.” Sebuah cermin terbalik yang kejam. Jika Nazi dahulu menjustifikasi pembunuhan dengan ide tentang “ras unggul,” Israel kini melakukannya atas nama “hak membela diri.” Dua kata yang kini terasa memuakkan karena sering diucapkan untuk menutupi pembunuhan. Dunia Barat pun masih menutup mata. Amerika menegaskan “hak Israel untuk membela diri,” padahal yang mereka bela bukan diri, melainkan dominasi.

Di tengah semua absurditas ini, kita bisa melihat satu pola: kekerasan selalu membutuhkan narasi moral untuk bertahan hidup. Israel membungkus agresinya dengan kata “keamanan,” dan dunia membungkus kelalaiannya dengan kata “netralitas.” Padahal tidak ada yang netral di hadapan kejahatan. Diam adalah bentuk keberpihakan paling halus, tapi paling berbahaya.

Saya rasa, tragedi Gaza bukan sekadar urusan geopolitik. Ia adalah cermin tentang bagaimana dunia kehilangan nuraninya. Tentang bagaimana kita hidup di era di mana yang menentukan kebenaran bukan lagi fakta, tapi siapa yang punya pesawat tempur dan siaran pers. Dan di antara semua itu, manusia kecil—anak-anak, ibu-ibu, warga sipil—menjadi angka di layar televisi.

Mungkin dunia menunggu Hamas “mati sempurna,” atau Gaza menjadi tanah kosong sebelum kata “perdamaian” diucapkan dengan lega. Tapi bahkan jika itu terjadi, apa yang tersisa dari kemanusiaan kita? Sebab perang ini bukan lagi tentang siapa yang benar, tapi siapa yang masih bisa merasa.

Dunia boleh diam, tapi luka Gaza tetap berbicara. Ia berbicara lewat reruntuhan rumah, lewat air mata ibu yang kehilangan anaknya, lewat puing-puing yang masih hangat di bawah sinar matahari. Dan selama suara itu masih terdengar, seruan Ben Gvir dan Netanyahu hanya akan terdengar seperti teriakan orang yang ketakutan—bukan pada Hamas, tapi pada kemungkinan bahwa kebohongan mereka akhirnya terbongkar.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer