Connect with us

Opini

Penyiksaan Tahanan Palestina, Luka yang Dunia Diamkan

Published

on

Ilustrasi editorial simbolik tentang tahanan Palestina yang menderita dalam kesunyian penjara, sementara dunia memilih diam.

Mereka dikembalikan bukan sebagai manusia, tapi sebagai angka. Seratus lebih jasad warga Palestina dilepas Israel ke Gaza tanpa nama, hanya nomor di kantong jenazahnya. Sebagian dengan tangan terikat, mata tertutup, bahkan ada yang masih melilit tali di leher. Tubuh-tubuh itu bukan korban perang di medan terbuka, melainkan saksi bisu dari ruang-ruang gelap tempat manusia dipatahkan martabatnya. Gaza menyambut mereka dengan tangis yang nyaris tanpa suara—karena di tengah kebisuan dunia, suara kemanusiaan seakan ikut terkubur.

Saya membayangkan para keluarga yang menunggu di halaman rumah sakit, berdiri di antara tumpukan kantong mayat. Mereka bukan mencari jenazah, mereka mencari nama. Nama anaknya, suaminya, saudaranya—yang mungkin masih hidup, mungkin tidak. Tapi ketika tubuh-tubuh itu dikembalikan hanya dengan nomor, seolah dunia ingin berkata: kalian tidak pantas disebut manusia. Ada kekejaman yang lebih menyakitkan dari kematian: dilenyapkan dari catatan kemanusiaan.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Laporan Al Jazeera mengungkap kenyataan mengerikan di balik “pengembalian jenazah” ini. Tubuh-tubuh itu membawa tanda-tanda penyiksaan brutal: luka bakar, gigi tanggal, tulang patah, bahkan sebagian kehilangan anggota tubuh. Ada pula yang jelas-jelas dieksekusi dalam keadaan terikat. Forensik di Gaza menyebutnya dengan kata sederhana namun mengerikan: “mereka tidak mati secara alami.” Di dunia yang waras, ini seharusnya mengguncang peradaban. Tapi dunia yang kita tinggali sekarang tampaknya telah kehilangan rasa ngeri terhadap penderitaan.

Israel, seperti biasa, bungkam. Tak satu pun tanggapan berarti keluar dari militer atau lembaga pemasyarakatan mereka. Tapi kesunyian itu justru menegaskan segalanya. Sebab diam adalah bentuk pembelaan paling efektif ketika kejahatan sudah terlalu telanjang. Yang lebih ironis, sejumlah politisi Israel bahkan membenarkan penyiksaaterhadap tahanan Palestina. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir, misalnya, dengan lantang menyebut masa “kamp musim panas bagi teroris sudah berakhir.” Dalam bahasa yang lebih jujur, ia sedang berkata: “Kami akan menyiksa mereka, dan kami bangga melakukannya.”

Kita sering diajari bahwa demokrasi adalah benteng kemanusiaan. Tapi apa yang terjadi bila negara yang mengaku demokratis justru menjadikan penyiksaan sebagai kebijakan resmi? Ironinya, Israel tetap menuntut dunia menghormati “haknya untuk membela diri,” bahkan ketika pembelaan itu dilakukan dengan menindas tubuh orang lain. Dunia Barat pun, dengan standar moralnya yang elastis, kembali pura-pura buta. Mereka bisa memboikot negara karena isu iklim atau perdagangan, tapi menutup mata terhadap tubuh yang disiksa dan dikembalikan tanpa nama.

Salah satu peristiwa paling menjijikkan terjadi di pusat penahanan Sde Teiman. Seorang tahanan Palestina diperkosa oleh penjaga, dan rekaman kejahatan itu diverifikasi oleh media Israel sendiri. Para penjaga menggunakan tameng untuk menutupi tindakan mereka dari kamera, lalu meninggalkan korban dalam kondisi tak bisa berjalan. Bayangkan, sebuah negara yang mengaku “korban abadi Holocaust” kini menciptakan kamp penyiksaan dengan kebanggaan yang sama sekali tak mengenal malu. Apa yang dulu mereka kutuk, kini mereka tiru.

Palang Merah Internasional (ICRC) pun bersikap seperti diplomasi yang kehilangan jiwa. Mereka menolak berkomentar tentang kondisi jenazah, hanya menyebut bahwa fokus mereka adalah “pemindahan jenazah secara bermartabat.” Kata “bermartabat” itu terdengar begitu kosong di hadapan tubuh-tubuh yang disiksa. Martabat macam apa yang tersisa bagi mereka yang bahkan tak lagi punya nama? Kadang, bahasa diplomatik bisa lebih kejam dari peluru—karena ia menutupi luka dengan kata-kata lembut yang membius nurani.

Laporan yang sama mencatat bahwa setidaknya 75 tahanan Palestina tewas di penjara Israel sejak Oktober 2023, dan ribuan lainnya dibebaskan dalam kondisi mengenaskan. Salah satunya, Mahmoud Abu Foul, buta akibat pukulan. Ada pula Kamal Abu Shanab, yang berat badannya turun dari 127 kilogram menjadi 68. Wajahnya berubah total, bahkan keponakannya tak mengenalinya lagi. Mereka bukan sekadar korban kekerasan fisik, tapi juga kehancuran psikologis yang nyaris tak bisa dipulihkan.

B’Tselem, lembaga HAM Israel sendiri, menyebut penjara-penjara Israel sebagai “jaringan kamp penyiksaan”. Mereka mencatat praktik pemukulan brutal, kelaparan sengaja, penghinaan seksual, dan larangan ibadah. Bayangkan, semua itu terjadi di bawah pengawasan negara yang masih menuntut dunia menghormati “nilai-nilai demokrasi”. Dunia menyaksikan, tapi tak bersuara. Diamnya dunia adalah cermin paling jujur dari kemunafikan global hari ini.

Di tengah semua itu, nama Marwan Barghouti kembali muncul—tokoh perlawanan Palestina yang sering disebut “Nelson Mandela-nya Palestina”. Ia dipukuli hingga patah tiga tulang rusuk, bahkan ditunjukkan kursi listrik oleh Ben-Gvir sendiri. Barghouti, yang menolak kekerasan dan mendukung solusi dua negara, justru dijadikan simbol penghinaan. Karena bagi penjajah, suara damai yang berakar pada keadilan jauh lebih berbahaya daripada suara bom.

Saya rasa, absurditas ini mencapai puncaknya ketika dunia masih berbicara tentang “proses perdamaian”. Perdamaian macam apa yang bisa lahir dari ruang penyiksaan? Dari tubuh yang terikat dan terbakar? Dari manusia yang dikembalikan hanya sebagai angka? Perdamaian yang dipaksakan di atas kubur para tawanan hanyalah propaganda yang dicat dengan darah.

Kita di Indonesia mestinya tak tinggal diam. Kita tahu rasanya dijajah, tahu bagaimana rasanya kehilangan hak untuk bicara, bahkan kehilangan nama di mata penjajah. Sejarah bangsa ini dibangun di atas perlawanan terhadap ketidakadilan, maka berpura-pura netral di hadapan kekejaman seperti ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap sejarah sendiri.

Dunia hari ini mungkin tak kekurangan organisasi internasional, tapi jelas kekurangan hati nurani. Para pemimpin yang sibuk berbicara tentang “tatanan dunia baru” tak mampu menatap wajah para tahanan Palestina yang dipukuli hingga buta. Negara-negara yang mengklaim diri sebagai pembela HAM memilih menghitung laba dari penjualan senjata. Dunia modern tampak begitu pandai menulis deklarasi, tapi begitu miskin dalam empati.

Pada akhirnya, penyiksaan tahanan Palestina bukan hanya cerita tentang kekerasan fisik, tapi juga tentang kematian nurani global. Karena kejahatan terbesar bukan hanya ketika seseorang disiksa, tapi ketika dunia tahu dan memilih diam. Tubuh-tubuh itu mungkin tak lagi bisa bicara, tapi luka mereka terus berteriak — menembus batas bahasa dan diplomasi. Dan jika kita tak mendengarnya, mungkin karena hati kita sudah terbiasa hidup di antara kebisuan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer