Connect with us

Opini

Ketika Perang Berhenti, Netanyahu Mulai Terbakar

Published

on

Ilustrasi editorial menampilkan Benjamin Netanyahu berdiri di antara reruntuhan benteng yang terbakar, simbol kehancuran politiknya setelah perang berhenti, dengan siluet Donald Trump mengawasi dari kejauhan.

Gaza berhenti berasap, tapi bara kekuasaan Benjamin Netanyahu justru mulai menyala di bawah kakinya sendiri. Ironi yang pahit. Dua tahun penuh darah, api, dan reruntuhan yang disebutnya “pembelaan diri” kini berakhir dalam hening yang menyingkap kebusukan. Tak ada lagi teriakan sirene, tapi gema kebohongan politiknya masih terdengar di seluruh dunia. Perdana menteri yang dulu dielu-elukan sebagai “Mr. Security” kini menjadi wajah kehancuran moral sebuah negara yang kehilangan arah dan nurani.

Kita semua tahu, setiap perang menyisakan dua korban: yang mati, dan yang akhirnya harus bercermin. Netanyahu tampaknya belum siap melihat bayangannya sendiri. Selama dua tahun ia menjadikan Gaza sebagai cermin kebesaran palsunya—tempat ia menampilkan kekuatan, keangkuhan, dan keabadian politik. Tapi saat gencatan senjata tiba, bayangan itu berubah menjadi wajah ketakutan. Ketakutan kehilangan kuasa. Ketakutan duduk di kursi pesakitan.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Kini, di bawah kepemimpinan Donald Trump yang kembali ke Gedung Putih pada 2024, Netanyahu tak lagi bisa bersembunyi di balik ilusi sekutu abadi. Trump bukan Biden—ia bukan sosok yang akan menutupi aib dengan diplomasi halus. Ia pedagang yang menghitung setiap dukungan dengan kalkulator politik. “He’s screwing me!” katanya, ketika Netanyahu berusaha membunuh negosiator Hamas di Doha. Sebuah kalimat yang terdengar sepele, tapi cukup untuk mengubah masa depan diplomasi. Karena jika Amerika marah, Israel kehilangan napasnya.

Laporan Al Jazeera menyingkap paradoks besar itu: perang yang dijadikan alat bertahan justru menjadi jebakan bagi Netanyahu. Ketika gencatan senjata diumumkan, dunia mengira Israel menang. Tapi yang sebenarnya kalah adalah Netanyahu sendiri. Ia kehilangan alasan untuk menunda pengadilan, kehilangan momentum untuk memainkan kartu keamanan, dan kehilangan sekutu yang mulai jenuh dengan kebohongannya.

Kita sedang menyaksikan seorang pemimpin yang kehabisan musuh luar, lalu mulai dimakan oleh musuh dalam—dosa dan kebodohannya sendiri.

Israel kini terisolasi secara internasional, lebih dalam dari sebelumnya. Lebih dari 67.000 warga Palestina tewas dalam dua tahun, dan gambar tubuh-tubuh yang hancur itu menembus batas sensor media Barat. Tak peduli seberapa keras juru bicara Israel berteriak “kami diserang duluan,” dunia tak lagi mendengar. Suara kebenaran kini datang dari reruntuhan Gaza, bukan dari podium Tel Aviv.

Netanyahu mencoba membungkus kehancuran ini dengan retorika kebesaran. Dalam pidatonya, ia menyebut visi “Super Sparta” — negara yang hidup dalam kekuatan dan perang abadi. Tapi yang ia lupakan, Sparta mati bukan karena musuh, melainkan karena lelah berperang melawan diri sendiri. Bursa saham Israel anjlok, nilai shekel merosot, dan para pengusaha besar menolak terjebak dalam mimpi perang abadi itu. “We are not Sparta,” kata mereka. Dan mungkin untuk pertama kalinya dalam sejarah Israel modern, rakyatnya lebih realistis daripada pemimpinnya.

Masalahnya, Netanyahu tidak tahu bagaimana cara berhenti berperang. Ia dibentuk oleh konflik, dipelihara oleh krisis, dan kini tanpa perang, ia kehilangan identitasnya. Seperti pemabuk yang kehilangan botolnya. Ia pun mulai mencari pengganti: mungkin Iran, mungkin Hizbullah, mungkin siapa pun yang bisa dijadikan alasan untuk tetap menunda pengadilan. Tapi waktu tak bisa lagi ditipu.

Dua pengadilan internasional kini menghantui langkahnya: ICC dengan surat penangkapan atas kejahatan perang, dan ICJ dengan dakwaan genosida. Ia tahu bahwa jika dunia mulai menegakkan hukum internasional dengan konsisten, ia akan menjadi salah satu terdakwa paling memalukan di abad ini. Namun, alih-alih menghadapi kenyataan itu, Netanyahu memilih menantang dunia: menolak jurnalis internasional masuk ke Gaza, memutarbalikkan fakta, dan memerintahkan propaganda bahwa “perang ini belum selesai.” Padahal yang sebenarnya belum selesai adalah pengadilan terhadap dirinya.

Ironi terbesar adalah: Israel, yang selama puluhan tahun memposisikan diri sebagai korban sejarah, kini menjadi pelaku yang paling menolak bercermin pada sejarah. Netanyahu adalah puncak dari ironi itu—seorang pemimpin yang menjadikan penderitaan masa lalu sebagai senjata untuk membenarkan penderitaan baru. Ia melanggengkan trauma agar kekuasaannya tetap hidup.

Namun trauma punya batas, dan rakyat pun mulai lelah.

Penyelidikan internal atas serangan 7 Oktober 2023 membuka borok besar di tubuh pemerintahan Netanyahu. Kepala militer dan intelijen sudah mengundurkan diri. Tapi Netanyahu menolak diselidiki, berdalih ini waktu yang salah. Sayangnya, Mahkamah Tinggi Israel berkata sebaliknya: perang sudah berhenti, tak ada alasan menunda kebenaran. Inilah titik di mana kekuasaan mulai kehilangan tamengnya. Ketika hukum domestik dan tekanan internasional berjalan bersamaan, setiap langkah Netanyahu akan terasa seperti jalan di atas ranjau.

Di tengah semua itu, kasus korupsinya terus berjalan seperti jam pasir yang tak mau berhenti. Ia dituduh menerima suap, melakukan penipuan, dan menyalahgunakan wewenang. Trump, dengan sinis, menyarankan agar Presiden Herzog “memaafkan Netanyahu untuk urusan cerutu dan sampanye.” Sebuah sindiran yang terdengar seperti peluru—karena pada dasarnya, Trump tidak menghormati Netanyahu, ia hanya memakainya. Dan dalam dunia politik Trump, barang rusak biasanya dibuang tanpa peringatan.

Saya rasa, di sinilah absurditas paling pahit dari kisah ini: seorang perdana menteri yang memimpin genosida atas nama keamanan nasional justru sedang menggali kubur politiknya sendiri dengan sekop yang sama.

Netanyahu kini seperti arsitek yang membangun benteng tanpa pintu keluar. Ia mengelilingi dirinya dengan ekstremis kanan, fanatisme agama, dan retorika militer, seolah itu akan menyelamatkannya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya: semua itu mempercepat keruntuhan. Karena di dunia yang semakin sadar, kejahatan tidak bisa lagi disembunyikan di balik bendera. Dunia digital menyimpan semuanya—setiap bom, setiap mayat, setiap wajah anak yang hilang.

Dan di tengah semua itu, Netanyahu masih berbicara tentang “kemenangan.” Sebuah kata yang kini kehilangan makna. Apa artinya menang ketika dunia menolak menjabat tanganmu? Apa artinya menang ketika negaranya sendiri muak? Apa artinya menang jika satu-satunya cara bertahan adalah dengan menunda keadilan?

Di titik ini, Israel bukan lagi Sparta seperti impian Netanyahu—melainkan Babel, menara keangkuhan yang sebentar lagi runtuh oleh dosa yang dibangunnya sendiri.

Sejarah punya cara yang unik dalam menulis akhir cerita: kadang bukan bom yang menjatuhkan pemimpin tiran, tapi gencatan senjata. Bukan perang yang menghancurkannya, melainkan perdamaian yang datang terlalu cepat bagi ambisinya.

Dan bagi Netanyahu, kedamaian itu kini menjadi vonis paling mematikan.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Netanyahu dan Israel Kembali Langgar Gencatan di Gaza

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer