Opini
Kuburan Bantuan, Kuburan Nurani: Gaza yang Dikubur Hidup-hidup
Langit Gaza sudah lama kehilangan warnanya. Debu menggantikan udara, dan diam menggantikan kehidupan. Di tengah tanah yang nyaris tandus itu, ribuan truk bantuan kemanusiaan ternyata dikubur — bukan karena tak berguna, tapi karena ada yang sengaja menimbunnya, menutupinya dengan pasir dan dosa. Laporan dari penyiar Israel sendiri, Kan, membuka kenyataan paling telanjang: tentara Israel membakar dan mengubur lebih dari seribu truk berisi makanan, air, dan obat-obatan, sementara anak-anak Palestina meregang nyawa karena lapar. Dunia, seperti biasa, menonton dalam diam.
Kita hidup di zaman ketika kejahatan tak lagi disembunyikan; ia diumumkan. “Kami mengubur semuanya di tanah, bahkan membakar sebagian,” kata seorang sumber dari militer Israel dengan enteng, seperti sedang melaporkan cuaca. Tak ada rasa bersalah, tak ada malu. Kalimat itu terdengar seperti ejekan terhadap seluruh nilai kemanusiaan yang pernah kita yakini. Di saat dunia memproduksi konferensi tentang perdamaian dan hak asasi manusia, di tanah Gaza, kemanusiaan dikubur hidup-hidup—bersama ribuan ton gandum, air, dan harapan.
Lalu alasan yang mereka berikan? “Mekanisme distribusi tidak berfungsi.” “Koordinasi gagal.” “Ada masalah pada kualitas as roda.” Serangkaian kalimat administratif yang terdengar seperti parodi birokrasi di tengah genosida. Seolah penderitaan rakyat bisa dijelaskan dengan formulir rusak. Seolah kelaparan massal bisa dimaafkan dengan kalimat pasif: sistemnya tidak berjalan. Padahal sistem itu tak pernah dimaksudkan untuk berjalan.
Israel bukan gagal menyalurkan bantuan; Israel menolak menyalurkan kehidupan. Ini bukan kesalahan teknis, tapi keputusan politis. Sebab dalam logika penjajahan modern, kelaparan adalah senjata. Ketika peluru tak lagi menundukkan, lapar yang berbicara. Inilah yang disebut Amnesty International sebagai kampanye kelaparan sistematis, bagian dari genosida yang berlangsung selama dua tahun di Gaza. Mereka menghancurkan bukan hanya tubuh, tapi struktur sosial, kesehatan, dan ketahanan psikologis rakyat Palestina. Dan kini, laporan ini hanya menyingkap metode kotor yang selama ini disembunyikan di balik jargon “keamanan nasional.”
Ironinya, dunia seolah butuh bukti tambahan padahal bukti itu sudah di depan mata. Foto-foto anak kurus kering, bayi tanpa susu, dan keluarga yang makan daun, belum cukup untuk menggugah hati. Tapi mungkin begitulah watak kemunafikan global: mereka baru bereaksi jika kekejaman itu menyentuh kulit berwarna sama. Ketika pelakunya sekutu mereka, pelanggaran disebut “insiden tragis.” Ketika korbannya orang kulit cokelat di tanah yang disebut “wilayah sengketa,” penderitaan itu hanya “konsekuensi perang.”
Saya rasa, di sinilah absurditas terbesar dunia modern. Bantuan dikirim dengan lambang kemanusiaan, tapi dibakar oleh tangan yang menerima dana dari negara yang sama. Amerika Serikat, Eropa, dan para sekutu regional tetap menyuplai senjata, lalu berpura-pura prihatin di sidang PBB. Bahkan ketika laporan Kan menunjukkan ribuan paket masih menunggu di bawah terik matahari, tak ada sanksi, tak ada kecaman tegas. Hanya serangkaian kalimat diplomatik: “Kami menyerukan semua pihak menahan diri.” Padahal hanya satu pihak yang menahan makanan untuk orang kelaparan.
Situasi ini bukan soal kegagalan kemanusiaan; ini adalah keberhasilan penjajahan. Penjajahan yang tak lagi memakai rantai besi, tapi memakai logistik. Gaza hari ini adalah laboratorium peradaban yang gagal. Dunia menguji seberapa jauh manusia bisa menoleransi penderitaan orang lain tanpa kehilangan rasa malu. Dan sejauh ini, eksperimen itu berhasil.
Ada ironi pahit yang sulit dilewatkan. Ketika truk bantuan dikubur, sebagian orang di kota besar berswafoto dengan poster “Pray for Gaza.” Dunia maya penuh simpati, tapi dunia nyata kekurangan aksi. Simbol-simbol empati menjadi kosmetik moral yang menenangkan rasa bersalah kolektif. Kita menulis doa di kolom komentar, tapi lupa menuntut keadilan. Padahal, doa tanpa keberanian adalah bunga di kuburan yang terus basah.
Sementara itu, di Gaza, waktu berhenti di antara reruntuhan. Orang-orang hidup dengan aroma gandum busuk yang seharusnya bisa menyelamatkan mereka. Mereka tahu makanan itu ada, tapi dikubur beberapa meter di bawah tanah—dijaga oleh tentara yang mengaku beradab. Itu bukan hanya kejahatan perang, tapi kejahatan eksistensial. Karena di sana, yang dimusnahkan bukan hanya tubuh manusia, tapi gagasan tentang kemanusiaan itu sendiri.
Ketika saya membaca laporan itu, saya teringat betapa seringnya kita di Indonesia mendengar berita bantuan salah sasaran, logistik terbuang, atau dana kemanusiaan dikorupsi. Kita marah, tentu. Tapi bayangkan, jika itu bukan karena korupsi, melainkan keputusan sengaja untuk membiarkan orang mati. Itulah yang terjadi di Gaza. Bayangkan pejabat di negeri kita berkata, “Kami bakar saja bantuan itu, karena mekanismenya gagal.” Gila, bukan? Tapi di sana, kegilaan itu menjadi kebijakan negara.
Dan masih ada satu bab lebih gelap: Israel mempersenjatai geng-geng di Gaza untuk menjarah bantuan, lalu menuduh Hamas. Ini strategi lama yang dipakai penjajah di banyak tempat — menciptakan kekacauan agar bisa berkata, “Lihat, mereka barbar.” Tapi siapa sebenarnya yang membakar bantuan makanan untuk anak-anak? Siapa yang menimbun air minum di tengah kelaparan? Geng atau negara?
Kini, bahkan gencatan senjata tak berarti kehidupan. PBB menyebut sekitar 560 ton makanan masuk ke Gaza setiap hari, tapi tak sampai ke utara karena jalan hancur oleh bom yang sama yang dijatuhkan oleh tentara yang sama yang kini bicara soal “distribusi sulit.” Ironi yang nyaris sempurna: mereka merusak jalan, lalu menyalahkan jalan. Mereka membunuh sistem, lalu mengeluh sistem tak berjalan.
Semakin lama, semakin jelas bahwa zionisme bukan sekadar ideologi politik, tapi mesin penghapus empati. Ia menuntut pembenaran moral bagi setiap kejahatan. Dengan alasan “keamanan”, mereka menembak anak-anak. Dengan alasan “mekanisme rusak”, mereka mengubur bantuan. Dan dengan alasan “hak mempertahankan diri”, mereka membombardir kamp pengungsi. Semua pembenaran itu berputar dalam logika yang sama: bahwa kehidupan orang Palestina tidak bernilai.
Tapi sejarah punya kebiasaan buruk: ia selalu kembali menghantui pelaku kejahatan. Seperti apartheid di Afrika Selatan yang dulu dianggap abadi, seperti kekuasaan kolonial yang dulu dianggap tak tergoyahkan, rezim ini pun akan retak oleh bobot dosanya sendiri. Mungkin tidak hari ini. Tapi nanti, ketika generasi dunia mulai sadar bahwa mereka pernah diam saat anak-anak dikubur bersama makanan mereka sendiri.
Saya percaya, apa yang dikubur di Gaza bukan hanya bantuan, tapi juga nurani dunia. Namun sesuatu yang dikubur tidak selalu mati. Kadang, dari bawah tanah yang remuk, tumbuh benih perlawanan yang tak bisa lagi dipadamkan. Karena kelaparan bisa membunuh tubuh, tapi tidak bisa membungkam kehendak untuk hidup. Dan di Gaza, kehendak itu masih ada — meski harus tumbuh di atas kuburan gandum dan air yang dibakar oleh tangan yang mengaku membawa cahaya peradaban.
