Connect with us

Opini

Hegemoni yang Retak: Ketika Iran Menyulut Kiamat Legitimasi Barat

Published

on

Iranian diplomat holding “UN Resolution 2231 — Expired” in front of cracked UN building.

Asap diplomasi itu kini menipis, tapi sisa panasnya masih terasa di dada dunia. Iran baru saja mengumumkan sesuatu yang, bagi sebagian orang, mungkin tampak teknis—UN Security Council Resolution 2231 has expired. Tetapi di balik kalimat kering itu, ada letusan besar: tamatnya simbol hegemoni hukum internasional versi Barat. Dunia seolah menahan napas, tapi di Teheran, mereka justru tersenyum. Sebab untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, mereka bukan pihak yang bertahan, melainkan yang menyerang balik—dengan pena, bukan peluru.

Selama puluhan tahun, Iran hidup di bawah bayang-bayang tuduhan: melanggar kesepakatan nuklir, mengancam stabilitas kawasan, berbahaya bagi dunia. Tetapi kini, mereka berdiri di podium dan berkata dengan lantang bahwa yang melanggar justru Eropa dan Amerika Serikat. Illegal. Non-binding. Dua kata itu diulang-ulang oleh Kementerian Luar Negeri Iran seperti mantra untuk membongkar kemunafikan global. Dan anehnya, tak banyak yang berani membantah dengan argumen hukum yang sahih.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Eropa—dengan wajah diplomasi yang dulu bersih dan berwibawa—tampak lusuh. Inggris, Prancis, dan Jerman, tiga negara yang dulu mengklaim diri sebagai penjaga moralitas internasional, kini disebut melanggar hukum yang mereka sendiri buat. Mereka mengaktifkan kembali sanksi yang secara hukum sudah mati, seolah dunia ini bisa diatur dengan nostalgia kolonial: kalau Barat yang melanggar, maka pelanggaran itu sah.

Iran menjawabnya dengan langkah elegan: menggandeng Rusia dan Tiongkok, lalu mengirim surat resmi ke Dewan Keamanan dan Sekretaris Jenderal PBB, menyatakan bahwa Resolusi 2231 telah berakhir, penuh dan tuntas. Bukan ancaman, bukan propaganda, tapi langkah hukum yang cermat—dan itu membuat Barat gelagapan. Sebab kali ini, mereka tak berhadapan dengan retorika, melainkan dengan legitimasi.

Dalam suratnya, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menulis dengan nada dingin tapi mematikan: “Tidak ada tindakan apa pun yang dapat menghidupkan kembali resolusi yang telah berakhir.” Kalimat itu mungkin sederhana, tapi maknanya menghantam jantung tatanan dunia lama. Karena selama ini, Barat memonopoli hak untuk menentukan kapan sesuatu “berakhir” dan kapan “dimulai kembali”. Kini Iran menepuk meja dan berkata: tidak lagi.

Kita semua tahu, konflik ini bukan semata soal nuklir. Ini soal siapa yang berhak mendefinisikan hukum internasional. Iran tak sedang melawan sanksi ekonomi; mereka sedang menantang monopoli moral. Dan ironinya, mereka justru melakukannya dengan memegang teguh prinsip hukum internasional—sesuatu yang seharusnya dijaga oleh PBB dan negara-negara Eropa itu sendiri.

Lebih dari 120 negara anggota Non-Aligned Movement menyatakan dukungan terbuka pada posisi Iran. Ini bukan angka kecil. Itu lebih dari separuh dunia. Ketika negara-negara dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin mengamini bahwa Resolusi 2231 telah berakhir, kita sedang menyaksikan pergeseran pusat gravitasi moral dunia: dari Barat ke Selatan. Dunia yang dulu diam kini bicara. Dunia yang dulu dipaksa tunduk kini berdiri sejajar.

Dan yang paling getir—PBB kini tampak seperti panggung kosong. Araghchi dengan sinis memperingatkan Sekretariat PBB agar tidak bertindak melampaui kewenangan. Sebab jika Sekretariat ikut bermain politik, maka PBB resmi kehilangan netralitasnya. Pernyataan itu bukan sekadar kritik, tapi tudingan terbuka: bahwa lembaga yang seharusnya menjaga hukum, kini justru menjadi alat kekuasaan.

Barat tentu berupaya menepis narasi itu. Tapi bagaimana bisa menepis sesuatu yang kini menjadi kenyataan terbuka? Amerika Serikat—yang dulu keluar dari perjanjian nuklir secara sepihak—sekarang menuntut agar perjanjian itu dipatuhi kembali oleh pihak yang tak pernah keluar. Eropa, yang gagal memenuhi kewajibannya terhadap Iran, malah menjatuhkan sanksi tambahan. Ini seperti penjudi yang kalah, lalu mengubah aturan main agar tetap menang.

Saya rasa, yang paling menarik dari langkah Iran adalah keberaniannya untuk membiarkan waktu yang berbicara. Selama bertahun-tahun, mereka dituduh ingin membuat senjata nuklir. Tapi bahkan laporan intelijen AS sendiri mengakui: tidak ada bukti. Nol. Zero proof. Araghchi bahkan menyindir langsung Trump, yang dalam pidatonya di Knesset menuduh Iran berbohong. “Yang memberi makan kebohongan pada Anda bukan Teheran,” tulisnya di X, “melainkan aktor parasit yang selama ini memerah Amerika.” Sebuah pukulan telak yang, tentu saja, merujuk pada zionis.

Ada ironi di sana yang sulit diabaikan. Negara yang dikenal dengan kekuatan militer paling brutal di kawasan justru menyebut dirinya korban, sementara negara yang masih berjuang untuk membangun reaktor energi sipil disebut ancaman dunia. Ini absurditas yang begitu sempurna, bahkan Kafka mungkin akan menolak menulisnya karena terlalu berlebihan.

Tapi absurditas itulah kenyataan kita. Dunia yang menormalisasi embargo tapi menolak empati. Dunia yang menganggap sanksi ekonomi sebagai bentuk diplomasi, padahal pada hakikatnya itu adalah bentuk kekerasan yang lebih halus—membunuh dengan angka, bukan dengan bom.

Kita di Indonesia tentu paham rasa itu. Kita pernah dijatuhi embargo senjata, diadili di forum internasional, dan dipaksa mengikuti standar yang tidak pernah berlaku bagi mereka yang berkuasa. Karena itu, langkah Iran terasa dekat: semacam pembelaan harga diri dunia ketiga yang lama dilecehkan oleh “tatanan internasional” yang hanya menguntungkan segelintir negara.

Yang dilakukan Iran hari ini mungkin tampak kecil—sebuah deklarasi tentang resolusi yang kedaluwarsa. Tapi efeknya berlapis. Ia bukan sekadar menolak sanksi, melainkan menolak logika kolonial yang menyamar sebagai hukum. Ia bukan sekadar menyanggah Barat, melainkan membongkar struktur keangkuhan yang telah menahun dalam sistem global.

Kita sedang menyaksikan apa yang bisa disebut sebagai “kiamat legitimasi Barat.” Bukan karena mereka kalah perang, tapi karena mereka kehilangan moral untuk memimpin. Ketika aturan internasional hanya berlaku sepihak, ketika PBB bisa dibengkokkan oleh kekuatan finansial dan veto, ketika fakta dipelintir demi kepentingan politik, maka seluruh bangunan hegemoni itu mulai retak dari dalam.

Iran tahu itu. Dan dengan langkah ini, mereka menaruh palu di tangan sejarah—bukan untuk memukul siapa pun, tapi untuk mengetuk pintu tatanan baru yang lebih setara. Apakah dunia siap menyambutnya? Mungkin belum. Tapi retakan itu sudah terdengar.

Dan dalam dunia yang penuh kebohongan diplomatik, suara kecil yang berkata “kami tidak tunduk” bisa jadi adalah gema paling jujur dari masa depan.

Sumber:

 

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Kegagalan Intelijen NATO dalam Perang Hibrida Iran

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer