Opini
Ketika Paspor Amerika Kehilangan Hak Istimewa
Dunia memang aneh. Ada masa ketika selembar paspor berwarna biru tua itu bisa membuka hampir semua pintu di bumi. Ia seperti tiket menuju peradaban modern, simbol kebebasan dan kemakmuran, bahkan lambang superioritas moral. Namun kini, kertas yang dulu disembah-sembah itu pelan-pelan kehilangan kuasanya. Untuk pertama kalinya dalam dua dekade, paspor Amerika Serikat keluar dari daftar sepuluh besar dunia. Sekilas tampak remeh—hanya soal peringkat. Tapi di balik angka itu, ada tanda-tanda kejatuhan simbolik dari sebuah kekaisaran yang mulai kehilangan daya sihirnya.
Saya rasa, ada semacam ironi di sini. Negara yang dulu mengajarkan dunia arti “kebebasan bergerak” kini terjebak di jaring kebijakannya sendiri. Amerika, yang dulu membanggakan diri sebagai rumah bagi “kebebasan”, kini menutup lebih banyak pintu daripada yang ia buka. Henley Passport Index mencatat, paspor AS kini hanya memberikan akses bebas visa ke 180 negara, sementara negara itu sendiri cuma membiarkan 46 kebangsaan masuk tanpa visa. Dunia membaca pesan itu: Amerika tak lagi percaya pada dunia, dan dunia pun mulai membalas dengan cara yang sama.
Penurunan ini bukan kebetulan, melainkan buah dari kebijakan yang terlalu lama menempatkan keamanan di atas kepercayaan. Kini, dengan kembalinya Trump ke Gedung Putih setelah pemilu 2024, dunia tampaknya harus bersiap menghadapi ulangan dari babak lama yang belum tuntas. Retorika xenofobia yang dulu sempat mereda kini kembali bergaung sebagai kebijakan resmi negara. Larangan bagi warga Muslim, pengetatan imigrasi, dan pengawasan terhadap pelajar asing mulai hidup lagi di bawah slogan lama: Make America Great Again. Hanya saja, dunia sudah berubah. Banyak negara belum melupakan bagaimana Amerika memperlakukan dunia—dengan curiga, arogan, dan penuh syarat—dan kali ini, mereka tak lagi diam.
Kini dunia membalas dengan sopan tapi tegas: “kalau begitu, perlakuan yang sama untukmu.” Brasil baru-baru ini mencabut fasilitas bebas visa bagi warga AS, Kanada, dan Australia karena “kurang resiprokal.” Cina dan Vietnam pun menutup daftar visa bebas mereka tanpa menyertakan Amerika. Dunia tak lagi tunduk pada logika unilateral Washington. Ia mulai belajar bahwa kedaulatan bisa juga diwujudkan lewat cap paspor di bandara.
Yang menarik, fenomena ini terjadi bersamaan dengan lonjakan kekuatan Asia. Lihatlah daftar teratas: Singapura, Korea Selatan, dan Jepang. Negara-negara yang dulu dianggap “periferal” kini memimpin daftar paspor paling kuat di dunia. Dunia yang dulu dikuasai visa Barat kini digerakkan oleh diplomasi Timur. Bukan karena mereka lebih kaya, tapi karena mereka lebih dipercaya. Mereka tidak mengebom negara lain, tidak mengatur moral bangsa lain, dan tidak menutup diri dari pertemanan baru. Mereka menunjukkan bahwa kekuatan bukan hanya soal militer atau dolar, tapi juga tentang seberapa besar dunia merasa nyaman berurusan denganmu.
Ada ironi lain yang lebih menyakitkan: warga Amerika kini justru ingin memiliki kewarganegaraan kedua. “Dual citizenship is the new American dream,” kata seorang akademisi dengan nada sarkastik. Dulu, dunia bermimpi menjadi warga Amerika; kini, warga Amerika bermimpi punya opsi lain. Ini bukan sekadar soal perjalanan bebas visa, melainkan krisis kepercayaan terhadap simbol keagungan sendiri. Ketika paspor biru itu tak lagi menjadi tiket menuju dunia, identitas Amerika kehilangan nilai tukarnya.
Saya rasa ini juga cermin dari keletihan global terhadap gaya hidup dan politik Amerika. Di era internet, semua orang tahu bagaimana AS memperlakukan imigran, membatasi pelajar, bahkan memperketat kunjungan jurnalis. Dunia yang dulu memuja “American exceptionalism” kini mulai bosan. Sebab apa gunanya menjadi negara “terhebat di dunia” kalau bahkan teman-temanmu tak lagi mau datang berkunjung?
Fenomena ini mengingatkan saya pada seseorang yang dulu populer, lalu terlalu lama merasa dirinya tak tergantikan. Ia berhenti beradaptasi, berhenti belajar, berhenti mendengarkan. Ketika akhirnya semua orang menjauh, ia baru sadar: yang membuatnya disegani dulu bukan karena kekuasaan, tapi karena kepercayaan. Amerika sedang berada di titik itu. Dunia tidak membencinya, hanya sudah tak mengaguminya lagi.
Ada semacam pelajaran yang bisa dipetik di sini, juga bagi kita di Indonesia. Dalam diplomasi, dalam kehidupan sosial, bahkan dalam hubungan antarmanusia, rasa percaya jauh lebih berharga daripada rasa takut. Amerika terlalu lama memerintah dengan rasa takut—mengancam, menekan, mendikte. Kini ketika dunia memilih untuk tidak takut lagi, ia kehilangan daya tawar. Sebab reputasi, sekali pudar, tak bisa dibeli kembali dengan kekuatan militer atau dolar.
Banyak yang mungkin akan berargumen: ini cuma soal teknis visa, tak ada hubungannya dengan geopolitik. Tapi saya tidak sepakat. Sebab mobilitas manusia adalah bentuk paling nyata dari kepercayaan global. Jika dunia menutup pintunya terhadapmu, itu berarti ia mulai meragukan niatmu. Dalam konteks ini, penurunan paspor Amerika bukan sekadar statistik, melainkan gejala psikologis dari dunia yang sedang belajar hidup tanpa dominasi tunggal. Dunia sedang menulis ulang etika pergaulan internasional—tanpa harus menunggu restu dari Washington.
Saya tak tahu apakah Amerika akan sadar. Tapi yang jelas, setiap cap visa yang kini harus mereka dapatkan adalah semacam pengingat: dunia tak lagi tunduk pada mitos lama. Keperkasaan paspor Amerika sedang ditimbang ulang, bukan oleh lembaga mana pun, melainkan oleh opini kolektif dunia yang sudah jenuh dengan standar ganda.
Dan mungkin, ini justru hal baik bagi dunia. Sebab dominasi yang berkurang sering kali membuka ruang bagi keseimbangan. Bayangkan dunia tanpa satu negara pun yang merasa punya hak menentukan siapa yang boleh lewat dan siapa yang tidak. Dunia di mana kekuatan diukur bukan dari seberapa tinggi tembok perbatasan, tapi seberapa banyak jembatan yang bisa dibangun.
Kita bisa melihat penurunan ini sebagai bentuk peringatan — bahwa keangkuhan global selalu punya batas waktu. Amerika kini harus merasakan apa yang selama ini dialami banyak bangsa lain: prosedur panjang, wawancara visa, tatapan curiga di bandara. Mungkin dari situ, ada sedikit empati yang tumbuh. Sebab, sebagaimana setiap pelancong tahu, perjalanan paling berharga bukanlah menuju tempat baru, tapi menuju cara pandang yang baru.
Dan dalam perjalanan itu, mungkin paspor Amerika baru akan menemukan kembali nilainya — bukan karena dunia memujanya lagi, tapi karena ia belajar untuk menjadi bagian dari dunia, bukan di atasnya.

Pingback: Kritik Tajam atas Strategi Hegemoni Baru Amerika