Connect with us

Opini

Iklan Iman dan Kolonialisme Digital ala Israel

Published

on

Illustration of digital surveillance and propaganda targeting churches through geofencing

Langit digital kita kini dipenuhi doa yang disadap. Di Amerika Serikat, di antara lonceng gereja dan kidung pujian, algoritma bekerja lebih tekun dari jemaat yang berdoa. Ia menandai lokasi, merekam pergerakan, lalu menyusupkan pesan propaganda ke layar-layar yang dianggap suci dari intrusi. Betapa ironis: rumah ibadah—ruang yang mestinya menjadi benteng nurani—kini berubah menjadi laboratorium pengaruh geopolitik. Dan di balik semua itu, ada nama yang sudah terlalu sering mengotori sejarah kemanusiaan: Israel.

Laporan investigasi Responsible Statecraft mengungkap sebuah operasi sunyi tapi sangat ambisius: perusahaan bernama Show Faith by Works meluncurkan kampanye digital dengan teknologi geofencing untuk menargetkan gereja dan kampus Kristen di seluruh Amerika Barat Daya dengan iklan pro-Israel. Taktiknya dingin, nyaris militeristik. Mereka menandai batas geografis gereja, memindai ponsel jemaat, lalu membombardir mereka dengan iklan yang memuja Israel dan menjelekkan Palestina. Ini bukan pemasaran, ini perburuan keyakinan.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Menurut dokumen FARA, proyek itu bukan main-main. Nilainya mencapai 3,2 juta dolar AS, mencakup perekrutan selebritas dan bahkan pembayaran bagi para pendeta agar membuat konten pro-Israel. Tidak ada gereja yang diminta izin, tidak ada umat yang tahu mereka sedang dilacak. Bethel Church di California, salah satu target, bahkan baru tahu setelah wartawan memberi tahu. Di sini absurditas itu tampak telanjang: gereja-gereja Kristen di negara yang menyanjung kebebasan justru dijadikan sasaran kampanye negara asing yang berlumuran darah di Gaza.

Saya rasa, yang paling menakutkan bukan hanya pelanggaran privasi, tapi cara halus propaganda itu bekerja. Ia tidak lagi datang dalam bentuk pidato politik atau siaran televisi yang bisa dihindari. Ia datang lewat iklan yang terasa akrab, melalui layar ponsel yang kita anggap milik pribadi. Israel tahu, pengaruh masa kini tidak lagi dimenangkan dengan senjata, melainkan dengan notifikasi. Satu klik bisa menggeser empati, satu iklan bisa mengaburkan moralitas.

Bayangkan seorang ibu yang baru pulang ibadah, membuka aplikasi Alkitab di ponselnya, lalu muncul iklan yang mengatakan: “Dukung Israel, lawan kebencian.” Padahal ia baru saja menitikkan air mata memikirkan anak-anak Palestina yang tewas di sekolah mereka sendiri. Manipulasi ini begitu halus hingga banyak yang mungkin tak sadar mereka sedang direkayasa. Israel bukan lagi sekadar penjajah tanah; ia kini penjajah kesadaran.

Dalam dokumen internalnya, para jemaat disebut sebagai “targets to be manipulated.” Kalimat itu saja sudah cukup menjelaskan watak kolonial yang tak pernah hilang dari proyek zionis. Mereka tak memandang manusia sebagai subjek moral, tapi sebagai variabel psikologis dalam operasi pengaruh. Seorang warga Colorado menyebutnya “warfare language.” Dan benar, ini adalah bentuk perang: perang terhadap pikiran, perang terhadap nurani.

Yang lebih mengerikan, proyek ini berada di bawah koordinasi Eran Shayovich, pejabat senior Kementerian Luar Negeri Israel, dengan keterlibatan Brad Parscale, eks manajer kampanye Donald Trump. Kolaborasi antara aparat diplomatik Israel dan arsitek propaganda politik Amerika ini menunjukkan bahwa Project 545—nama resmi operasi itu—bukan proyek kecil. Ini bagian dari strategi besar untuk menghidupkan kembali dukungan publik Amerika terhadap Israel yang makin anjlok, terutama di kalangan muda dan gereja progresif.

Israel tahu ia sedang kehilangan cengkeraman moral di mata dunia. Gambar bayi-bayi Gaza yang terbakar, rumah sakit yang dibom, dan tanah yang dijarah tak bisa lagi ditutupi dengan narasi “hak membela diri.” Maka propaganda harus disulap dengan aroma religius: sentuh iman, dan logika akan lumpuh. Bayar pendeta, dan suara kebenaran bisa dipelintir menjadi pembenaran. Inilah bentuk kolonialisme baru: kolonialisme digital berbalut kekudusan.

Megan Iorio dari Electronic Privacy Information Center menyebut praktik ini sebagai “privacy nightmare”. Ia benar. Tapi lebih dari sekadar mimpi buruk privasi, ini adalah mimpi buruk demokrasi. Karena begitu opini publik dikendalikan lewat algoritma, batas antara kebebasan berpikir dan indoktrinasi makin tipis. Bayangkan jika di Indonesia, misalnya, rumah ibadah atau pesantren disusupi iklan serupa oleh kekuatan asing—hanya karena kita dianggap “target demografis strategis.” Reaksinya pasti marah. Tapi inilah yang kini terjadi di jantung Amerika sendiri.

Dan yang lebih ironis: negeri yang selama ini mengklaim diri sebagai benteng kebebasan justru menjadi ladang eksperimen bagi pengawasan digital yang dilakukan sekutu dekatnya. Israel telah lama dikenal mengembangkan teknologi spyware seperti Pegasus, yang digunakan untuk memata-matai jurnalis, aktivis, bahkan kepala negara. Kini metode yang sama, hanya dalam bentuk lebih “halus”, dipakai untuk menembus tembok spiritual umat beragama.

Di satu sisi, ini menunjukkan kecanggihan taktik Israel dalam memanfaatkan teknologi. Tapi di sisi lain, ini menegaskan krisis moral yang parah. Sebab, apa artinya kecanggihan jika ia dipakai untuk menipu iman orang lain? Apa artinya “diplomasi” jika yang dikedepankan adalah manipulasi psikologis umat beragama? Tidak ada yang luhur dari propaganda yang menjual penderitaan orang lain sebagai tiket wisata rohani.

Israel barangkali berpikir kampanye ini akan “mengubah hati” umat Kristen Amerika. Tapi yang sebenarnya berubah adalah wajahnya sendiri—dari negara yang dulu mengklaim diri sebagai simbol demokrasi Timur Tengah menjadi korporasi propaganda yang memperdagangkan keyakinan. Ketika gereja dijadikan pasar, pendeta dijadikan buzzer, dan umat dijadikan data, maka yang tersisa hanyalah kekosongan spiritual di tengah gemerlap digital.

Kita semua tahu, propaganda tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berganti bentuk, dari pamflet ke popup ad, dari pidato ke push notification. Tapi yang dilakukan Israel kali ini melampaui batas etika yang paling mendasar: menyerang ruang ibadah dengan teknologi pelacakan. Seolah Tuhan bisa dijangkau lewat algoritma, dan kebenaran bisa dijual lewat iklan berbayar.

Dan saya rasa, dunia harus mulai menyadari bahwa perang modern tak lagi berisik. Ia sunyi, tapi menusuk. Tak ada ledakan, hanya notifikasi. Tak ada darah, hanya perubahan persepsi. Tapi dampaknya bisa sama menghancurkan: kematian empati.

Ketika iman dijadikan komoditas politik, tak ada lagi yang suci.

Pada akhirnya, kampanye seperti ini bukan sekadar urusan Amerika. Ia peringatan bagi kita semua—bahwa kedaulatan spiritual pun kini bisa diretas. Bahwa perang informasi tidak mengenal batas negara, dan bahwa keimanan pun bisa dijadikan bahan bakar mesin propaganda. Israel telah membuktikan satu hal: mereka mungkin gagal menaklukkan hati dunia dengan kebenaran, tapi mereka tak segan membeli nurani dunia dengan iklan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer