Connect with us

Opini

Api yang Menyala Setelah Damai Diumumkan

Published

on

Israeli soldiers take photos as Gaza burns after the ceasefire.

Langit Gaza kembali terang, tapi bukan oleh kembang api kemenangan. Terang itu datang dari kobaran api—dari rumah-rumah yang dibakar, toko-toko yang dijilat bara, dan gedung-gedung yang berasap setelah gencatan senjata diumumkan. Api yang seharusnya padam justru menyala lebih liar, seolah ada tangan yang menolak tenang, menolak berhenti, menolak kalah. Dunia menyebutnya ceasefire, tapi bagi sebagian pasukan Israel, kata itu rupanya berarti: bakar dulu sebelum pergi.

Menurut laporan DropSite News, beberapa brigade elite Israel — Golani, Givati, Nahal, Kfir, dan Hashmonaim — melakukan pembakaran sistematis di Gaza City pada 9–10 Oktober, tepat setelah deklarasi gencatan senjata. Mereka membakar rumah warga, fasilitas publik, bahkan instalasi pengolahan limbah terakhir yang masih berfungsi. Aksi itu diabadikan di media sosial, lengkap dengan keterangan foto yang terdengar seperti lelucon kejam: “Leaving a mark.” Sebuah “tanda kenangan,” katanya. Tanda atas apa? Kekalahan? Dendam? Atau sekadar pembuktian bahwa mereka masih bisa meninggalkan sesuatu, meski yang tersisa hanya abu?

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Saya rasa, ini bukan sekadar tindakan destruktif. Ini adalah bentuk frustasi yang menyala. Setelah berbulan-bulan operasi brutal dengan dalih membebaskan tawanan dan menghancurkan Hamas, militer Israel justru mundur tanpa hasil yang dapat dibanggakan. Tidak ada kemenangan, tidak ada prestise. Maka api menjadi satu-satunya alat untuk menutupi kegagalan itu. Api adalah kosmetik bagi kekalahan—menyembunyikan wajah kalah di balik asap yang tebal.

Ada sesuatu yang menyedihkan sekaligus memuakkan dari ironi ini. Mereka menandatangani perjanjian damai, lalu beberapa jam kemudian menyalakan korek api. Seperti anak kecil yang kalah main dan kemudian menendang papan permainan agar tak ada yang menang. Tapi ini bukan permainan. Ini perang, dan yang terbakar adalah rumah orang-orang yang tak punya tempat lagi untuk pulang.

Direktur fasilitas pengolahan limbah Sheikh Ajlin, Monther Shoblaq, bahkan menyebut penghancuran itu akan membawa Gaza ke “titik nol sanitasi.” Air limbah akan mengalir ke laut, mencemari pantai, dan menimbulkan bencana kesehatan jangka panjang. Ironisnya, fasilitas itu dibangun dengan dana Jerman sebesar 19 juta dolar—dana rekonstruksi yang kini ikut terbakar. Entah bagaimana para perancang perdamaian dunia menjelaskan paradoks ini: perang yang berakhir dengan damai, tetapi damai yang dimulai dengan pembakaran.

Saya jadi teringat satu peribahasa lama: “Ketika tak bisa menguasai ladang, bakarlah tanamannya.” Itulah logika penjajah yang tak mau menerima kenyataan. Israel, dengan segala superioritas militernya, gagal menundukkan semangat Gaza. Mereka bisa menghancurkan gedung, tapi tak bisa membakar keyakinan orang yang kehilangan segalanya kecuali tekad. Jadi mereka membakar apa pun yang bisa dibakar—sebuah bentuk penghiburan diri dari kekalahan yang tak diakui.

Di dinding rumah yang hangus, tentara-tentara itu menulis grafiti: “Enjoy, sl*ts.” dan “We shall return here.” Kalimat yang terdengar seperti ejekan pria mabuk, tapi juga pengakuan tanpa sadar: mereka tak benar-benar menang. Sebab yang menulis “kami akan kembali” berarti sedang pergi. Dan yang perlu berjanji akan kembali biasanya adalah yang baru saja diusir.

Sementara itu, para pejabatnya berkoar dengan nada yang lebih mirip kebanggaan psikopat. Menteri Lingkungan Hidup Israel, Gila Gamliel, mengaku 75 persen Jalur Gaza sudah “dihancurkan sepenuhnya.” Far-right Itamar Ben Gvir bahkan mengejek bahwa “satu-satunya yang tersisa untuk diputus sekarang hanyalah pipa limbah.” Mereka berbicara seolah kehancuran adalah prestasi, seolah tanah yang hangus adalah bentuk peradaban baru. Padahal, di balik puing itu, ada bayi yang kehilangan inkubator, ibu yang kehilangan rumah, dan laut yang berubah jadi septic tank.

Saya kadang berpikir: dunia ini aneh. Ketika Trump memuji gencatan senjata itu sebagai “perdamaian yang kuat dan abadi,” di sisi lain seorang kolonel Israel dengan jujur berkata, “Kami meninggalkan hanya debu. Tak ada apa pun di sini.” Dua kalimat yang sama-sama menyebut kata “damai,” tapi dengan makna yang saling meniadakan. Mungkin, bagi mereka, perdamaian memang berarti tak ada lagi kehidupan di pihak lawan.

Perang ini, seperti banyak perang lain yang dilandasi ideologi kolonial, selalu menyisakan aroma gengsi yang terbakar. Api di Gaza bukan semata hasil perintah militer, melainkan produk dari mentalitas penakluk yang tak siap menerima kenyataan bahwa mereka kalah melawan yang tertindas. Mereka kalah oleh orang-orang yang bahkan tak punya tank, tak punya jet tempur, hanya punya keyakinan bahwa tanah ini adalah milik mereka.

Kita di Indonesia tentu tak asing dengan bentuk frustasi seperti itu. Sejarah kolonial kita penuh dengan kisah pembumihangusan — dari kebun tebu yang dibakar Belanda sebelum mundur, sampai desa-desa yang dijadikan abu oleh tentara Jepang. Setiap penjajah, rupanya, punya ritualnya sendiri ketika gagal: membakar, agar kekalahannya tampak seperti kemenangan. Bedanya, kali ini dunia menyaksikannya langsung, lewat unggahan media sosial tentara-tentara yang tersenyum di depan api, seolah sedang berpose di depan obor Olimpiade.

Saya tidak tahu apakah ada kata yang cukup halus untuk menggambarkan tindakan semacam ini. Tapi saya tahu satu hal: membakar kota setelah gencatan senjata adalah cara paling jelas untuk berkata “kami kalah, tapi kami ingin kalian menderita karena kami kalah.” Itulah pesan sebenarnya dari api yang menyala di Gaza. Sebuah bentuk amarah yang kehilangan arah, amarah yang menolak kenyataan bahwa perlawanan rakyat kecil bisa membuat mereka bertekuk lutut.

Mungkin di antara asap dan bara itu, ada satu hal yang tak bisa dibakar: kehormatan mereka yang tetap bertahan. Sebab kehormatan bukan terletak pada gedung atau senjata, tapi pada keberanian untuk tidak menyerah, bahkan ketika seluruh kota telah menjadi abu. Israel boleh membakar Gaza, tapi mereka tak akan pernah bisa membakar keyakinan dunia bahwa keadilan suatu hari nanti akan menuntut balas.

Dan ketika api itu padam, ketika debu menutupi puing, sejarah akan menulisnya dengan jujur: bukan Gaza yang kalah, tapi mereka yang tak sanggup menerima damai.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer