Opini
Gencatan Senjata Gaza, Api Tak Pernah Padam di Tepi Barat
Mereka menyebutnya gencatan senjata. Dunia menepuk dada, menghela napas lega, dan berpura-pura percaya bahwa perang telah usai. Tapi di balik tepuk tangan itu, di lereng-lereng zaitun Nablus dan Ramallah, darah masih mengalir. Tentara zionis menodongkan senjata, pemukim bersenjata menembaki petani, dan seorang anak berumur 17 tahun dipukul hingga babak belur hanya karena bersepeda. Gaza mungkin hening untuk sementara, tapi Tepi Barat tak pernah benar-benar berhenti terbakar. Api di sana tak padam — ia hanya berganti bentuk, berganti tempat, berganti alasan.
Ada absurditas yang begitu telanjang di depan mata kita: bagaimana sebuah negara bisa bicara tentang perdamaian sambil menembak orang yang sedang memanen pohon zaitun? Ironinya, dunia menyebut mereka “penjaga keamanan.” Saya rasa, jika ini yang disebut keamanan, maka bahasa manusia sedang mengalami kemerosotan moral. Israel, sekali lagi, menunjukkan bahwa bagi mereka, kedamaian hanyalah strategi, bukan niat.
Dalam laporan WAFA News Agency, kita membaca potret kekerasan yang bahkan sulit ditelan logika. Pemukim zionis menyerang petani di bawah perlindungan militer. Peluru tajam ditembakkan, ambulans dilarang mendekat, dan seseorang dibiarkan berdarah selama satu jam sebelum akhirnya dievakuasi. Dua perempuan ditahan di al-Khalil. Seorang pemuda ditembak di Jenin. Anak-anak dipukul di Beit Lahm. Semua ini terjadi saat dunia sibuk merayakan “gencatan senjata.”
Saya kira inilah bentuk paling jujur dari penjajahan modern: tak selalu berupa tank dan bom, tapi bisa juga berupa birokrasi kekerasan yang terencana rapi. Ketika Gaza terlalu ramai untuk dibom, Tepi Barat menjadi panggung baru. Di situlah Israel menumpahkan agresinya, dengan metode yang lebih senyap tapi tak kalah mematikan. Mereka tahu sorotan kamera kini beralih. Maka, peluru pun bisa menembus dada tanpa disiarkan di televisi.
Bagi petani Palestina, musim panen zaitun selalu berarti musim ketakutan. Tahun ini, ketakutan itu terasa lebih pekat. Bayangkan: seseorang menanam pohon, merawatnya bertahun-tahun, hanya untuk melihatnya dibakar atau ditebang oleh pemukim ilegal. Zaitun bukan sekadar buah bagi Palestina. Ia adalah akar, identitas, bahkan doa. Dan ketika akar itu dirusak, yang dihancurkan bukan hanya ekonomi—tapi juga martabat manusia.
Israel tahu benar makna simbolik itu. Karena itu mereka menargetkan zaitun, sebagaimana mereka menargetkan anak-anak di sekolah dan ibu-ibu di dapur. Kekerasan ini bukan kebetulan. Ia adalah pesan. Pesan bahwa tak ada ruang bagi rakyat Palestina untuk merasa aman, bahkan di tanah yang mereka cintai sejak ribuan tahun. Inilah wajah asli dari proyek kolonial yang dibungkus jargon “hak membela diri.”
Dan kita semua tahu, setiap kali kata “keamanan” keluar dari mulut pejabat Israel, yang mereka maksud sebenarnya adalah penguasaan total. Keamanan versi mereka berarti rakyat Palestina tak boleh bernafas tanpa izin, tak boleh menanam tanpa ancaman, tak boleh hidup tanpa rasa takut. Sementara dunia, yang seharusnya berteriak, malah membisu di balik rapat-rapat diplomatik yang tak menghasilkan apa pun selain kalimat basa-basi: “Kami prihatin.”
Kita hidup di masa ketika kejahatan bisa disamarkan sebagai hak, dan perlawanan disalahkan sebagai ancaman. Media internasional menulis tajuk yang netral, “ketegangan di Tepi Barat meningkat,” seolah pelaku dan korban berdiri di garis yang sama. Padahal kita tahu, tak ada simetri dalam penjajahan. Tak ada keseimbangan dalam kekerasan sepihak. Dan menyebutnya “konflik” hanyalah cara halus untuk menghapus siapa yang sebenarnya menindas siapa.
Saya teringat pada pepatah lama di kampung: air tenang jangan disangka tak beriak. Gencatan senjata di Gaza adalah air tenang itu—tenang di permukaan, tapi di bawahnya, arus deras kekerasan sedang bergerak. Israel memindahkan panggung perangnya bukan karena ingin damai, tapi karena ingin istirahat sejenak dari sorotan publik. Setelah Gaza porak-poranda, kini giliran Tepi Barat kembali menjadi sasaran “kedamaian versi Tel Aviv.”
Mereka menutup jalan-jalan di al-Khalil dengan beton dan besi. Mereka memasang pos pemeriksaan di setiap tikungan. Mereka menahan perempuan dan anak-anak dengan alasan “pencegahan teror.” Dan dunia menonton, seperti menonton film lama yang sudah kehilangan daya kejut. Barangkali karena kita sudah terlalu sering melihat penderitaan Palestina, kita mulai kebal. Tapi ketahuilah: kebiasaan menyaksikan ketidakadilan tanpa bereaksi adalah awal dari kematian nurani.
Israel mengandalkan itu. Mereka tahu, dunia lelah. Dunia bosan. Dunia akan berpaling. Dan di saat itulah peluru bisa bekerja tanpa gangguan. Inilah bentuk perang yang paling berbahaya—perang yang berlangsung dalam keheningan. Tak ada ledakan besar, tak ada headline mencolok. Hanya berita kecil tentang “seorang petani tewas,” “seorang anak ditahan,” “sebuah rumah dirusak.” Tapi bila Anda kumpulkan semua itu, Anda akan menemukan satu pola besar: pembersihan etnis yang berlangsung perlahan, sabar, sistematis.
Saya rasa, kita tidak perlu jadi ahli politik untuk memahami makna dari semua ini. Cukup punya hati. Karena di balik setiap laporan yang tampak teknis itu, ada keluarga yang kehilangan anak, ada ibu yang menunggu kabar, ada petani yang menatap ladangnya dari kejauhan karena dijaga tentara. Itu bukan sekadar “ketegangan regional,” itu tragedi kemanusiaan yang terus diulang di hadapan kita semua.
Ironinya, dunia yang selalu bicara tentang demokrasi dan HAM justru menutup mata pada penjajahan yang paling jelas di abad ini. Amerika Serikat, yang konon menjadi pelindung kebebasan, tetap menjadi penyandang dana terbesar dari kekerasan ini. Setiap peluru yang menembus tubuh warga Palestina membawa cap “Made in USA.” Dan setiap veto di PBB menegaskan bahwa yang mereka bela bukan nilai kemanusiaan, tapi dominasi politik.
Jadi ketika kita mendengar kata “gencatan senjata,” sebaiknya kita bertanya: gencatan untuk siapa? Untuk warga Palestina yang terus ditindas? Atau untuk memberi waktu bagi Israel menyusun babak berikutnya dari penjajahannya? Gencatan senjata Gaza hanyalah jeda dalam simfoni kekerasan yang belum selesai. Dan kini, api itu berpindah—padam di Gaza, tapi tetap menyala di Tepi Barat.
Saya percaya, setiap keheningan akan pecah pada waktunya. Setiap ketidakadilan akan menemukan saksinya. Tapi sampai hari itu tiba, tugas kita sederhana: jangan ikut diam. Karena diam di hadapan penjajahan berarti menjadi bagian darinya. Dan di dunia yang semakin kehilangan empati, sekadar tetap peduli adalah bentuk perlawanan yang paling manusiawi.
