Opini
Api di Dalam Rumah Sendiri: Politik Israel Retak
Langit Tel Aviv mungkin tampak tenang malam ini, tapi di balik sinar lampu-lampu apartemen dan gedung-gedung kaca, sedang berkobar api yang tak terlihat—api yang berasal dari dalam rumah sendiri. Bukan bom Hamas, bukan serangan roket dari Gaza, melainkan ledakan ego, ideologi, dan ketamakan politik yang perlahan membakar fondasi negara yang selama ini membanggakan diri sebagai “satu-satunya demokrasi di Timur Tengah”. Ironi itu terlalu kentara: sebuah negeri yang sibuk menghancurkan musuh eksternal kini justru retak dari dalam.
Saya rasa, ini bukan lagi sekadar “ketegangan politik”. Ini adalah krisis eksistensial politik Israel. Saat Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir mengancam akan menjatuhkan pemerintahan Benjamin Netanyahu jika Hamas tidak benar-benar dihancurkan setelah kesepakatan gencatan senjata diberlakukan, dunia bisa membaca pesan yang lebih dalam: koalisi sayap kanan Israel kini sedang saling menodongkan senjata politik. Mereka tak lagi berperang melawan Gaza—mereka berperang melawan bayangan sendiri.
Ancaman Ben-Gvir bukan gertakan kosong. Ia mewakili wajah paling radikal dari ideologi zionisme modern—keyakinan bahwa kedamaian adalah bentuk kelemahan, dan perang abadi adalah jaminan eksistensi. Ia tahu Netanyahu kini berada di posisi paling rapuh dalam karier politiknya. Maka, ancaman itu bukan hanya tekanan, tapi juga sebuah sandera: “Hancurkan Hamas, atau aku hancurkanmu.” Di sinilah absurditasnya. Pemerintah yang selama ini membanggakan kekuatan militer super canggih justru dikendalikan oleh figur-figur yang menunggangi fobia dan kebencian rakyatnya sendiri.
Sementara itu, Netanyahu tampak seperti seseorang yang berjalan di atas tali tipis di antara dua jurang: di satu sisi ada tekanan dari Amerika Serikat—kini di bawah pemerintahan Donald Trump yang berusaha tampil sebagai “penengah damai”—dan di sisi lain, ada tekanan dari Ben-Gvir, Bezalel Smotrich, serta Orit Strock yang siap menarik karpet dari bawah kakinya. Ia tahu, satu langkah salah berarti jatuh ke dalam kehancuran politik total. Tapi tetap saja, ia melangkah, karena kekuasaan adalah candu yang tak mudah dilepaskan.
Dalam laporan yang beredar, kesepakatan gencatan senjata yang disusun atas dukungan Trump memuat 20 poin: pembebasan tawanan, penghentian serangan di Gaza, dan penarikan pasukan. Di atas kertas, ini terdengar rasional. Tapi di mata faksi sayap kanan Israel, ini adalah pengkhianatan terhadap “tanah perjanjian”. Smotrich bahkan menyebutnya sebagai “Oslo III”, sebuah istilah yang sengaja digunakan untuk menghidupkan trauma lama kaum kanan atas perjanjian Oslo yang dianggap melemahkan Israel di tahun 1990-an.
Saya tidak bisa menahan tawa getir membaca reaksi mereka. Negara yang selalu berbicara tentang keamanan kini justru ketakutan terhadap bayangan kesepakatan damai. Seolah-olah, jika perang berhenti, maka eksistensi mereka pun berhenti. Ironi yang lebih menyakitkan: mereka tak sadar bahwa musuh terbesar bukan Hamas, bukan Iran, tapi perpecahan internal yang mereka pelihara dengan penuh semangat.
Kita semua tahu, Israel adalah negara yang dibangun di atas narasi ancaman. Selama ada musuh di luar, mereka bisa bersatu di dalam. Tapi ketika musuh eksternal mulai kehilangan bentuk, politik Israel kehilangan bahan bakarnya sendiri. Kini, ketegangan itu berpindah arah—dari Gaza ke Knesset, dari perbatasan ke ruang rapat kabinet. Dan seperti api yang mencari oksigen, kebencian internal menemukan tempatnya di dada para politisi yang berlomba menjadi paling keras, paling ekstrem, paling zionis.
Mungkin ini yang disebut karma politik: selama puluhan tahun menanam retorika kebencian terhadap orang lain, kini retorika itu berbalik arah. Kita melihatnya pada Ben-Gvir yang menyerang Netanyahu, pada Smotrich yang menyerang AS, dan pada rakyat Israel yang mulai menyerang pemerintah mereka sendiri. Mereka menuntut kehancuran Hamas, tapi yang runtuh justru moral dan konsistensi negara itu sendiri.
Dalam politik modern, terutama di dunia yang terhubung oleh opini publik global, ekstremisme bukan hanya soal ideologi—ia juga bisnis. Setiap pernyataan keras Ben-Gvir menaikkan popularitasnya di media sosial, setiap ancaman Smotrich menambah modal politik untuk pemilu berikutnya. Dalam konteks ini, perang bukan lagi alat pertahanan, tapi komoditas elektoral. Dan Netanyahu, yang dulu jago menunggangi gelombang itu, kini terseret arus ciptaannya sendiri.
Ada sesuatu yang tragis dari sosok Netanyahu. Ia pernah dipuja sebagai “raja Israel modern”, seorang master politik yang bisa menyeimbangkan tekanan AS dan ambisi domestik. Tapi kini, ia hanyalah bayangan dari dirinya sendiri—seorang penguasa yang dikepung oleh sekutunya. Ia mendukung rencana Trump bukan karena yakin pada perdamaian, tapi karena tahu satu-satunya cara menyelamatkan dirinya dari skandal korupsi dan tekanan internasional adalah berpura-pura rasional. Tapi dunia tahu, pura-pura damai di atas reruntuhan Gaza bukanlah solusi—itu hanya penundaan kehancuran.
Sementara di Gaza, kehidupan masih terhenti di antara debu dan darah. Gencatan senjata belum berlaku, tapi ancaman politik di Tel Aviv sudah lebih panas dari medan perang. Saya tak bisa membayangkan bagaimana rakyat Palestina melihat semua ini: negeri yang selama ini menindas mereka kini justru sibuk berdebat tentang bagaimana cara terbaik melanjutkan penindasan itu. Mereka berbicara tentang “moral” dan “keamanan” seolah-olah kata-kata itu belum ternoda oleh darah anak-anak Gaza yang tak sempat tumbuh besar.
Kalau politik bisa diibaratkan rumah, maka rumah Israel kini sedang retak dari pondasi. Dindingnya penuh propaganda, atapnya bocor oleh intrik, dan penghuni di dalamnya saling mencurigai. Tak ada yang memperbaiki, karena semua sibuk berebut kunci pintu utama. Mungkin, seperti semua bangunan yang lapuk oleh ambisi, rumah itu tak akan roboh karena gempa luar—tapi karena rayap dari dalam.
Saya rasa, dunia sedang menyaksikan babak baru: bukan perang antara Israel dan Palestina, tapi perang antara Israel dengan dirinya sendiri. Ketika ideologi, ambisi, dan kebencian saling memakan, kehancuran tidak lagi datang dari musuh, tapi dari kawan. Dan jika hari itu tiba, dunia tak perlu merayakannya dengan sorak sorai. Cukup dengan diam yang getir, karena kita tahu—setiap bangsa yang menolak bercermin pada nuraninya sendiri akhirnya akan hancur oleh bayangannya.
Mungkin inilah ironi terbesar abad ini: di saat rakyat Gaza masih berjuang untuk hidup di bawah puing, politik Israel justru hancur di bawah beban kemenangan yang tak pernah datang. Dan di tengah reruntuhan moral itu, satu pertanyaan bergema: berapa lama lagi mereka bisa bertahan, sebelum api di dalam rumah itu melahap semuanya—tanpa sisa?

Pingback: Negeri yang Tersesat di Balik Temboknya Sendiri - vichara.id