Connect with us

Opini

Uang Iman dan Propaganda: Tiga Juta Dolar yang Menyesatkan

Published

on

Illustration of worshippers in church surrounded by glowing propaganda screens.

Bayangkan, di tengah reruntuhan Gaza, di antara suara anak-anak yang mencari air dan ibu-ibu yang menanti kabar suami di penjara, ada negara yang menggelontorkan 3,2 juta dolar AS—sekitar Rp51,5 miliar—bukan untuk kemanusiaan, bukan untuk perbaikan moral bangsanya, tapi untuk kampanye iklan. Iklan politik. Di gereja. Di tanah orang lain.

Ada absurditas yang terlalu telanjang untuk diabaikan di sini. Ketika dunia mulai muak dengan kebohongan tentang “hak membela diri,” Israel justru menempuh jalan baru: membayar perusahaan humas bernama Show Faith by Works untuk menginjeksikan narasi pro-Israel ke dalam komunitas Kristen evangelikal di Amerika Serikat. Tiga koma dua juta dolar demi memenangkan hati jemaat yang sedang berdoa.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Saya rasa, di titik ini, kata “putus asa” sudah tak lagi cukup. Ini adalah bentuk ketakutan yang disamarkan sebagai misi suci. Ketika kejahatan tak lagi bisa disembunyikan di balik pagar moral, maka cara paling licik adalah membungkusnya dengan ayat.

Show Faith by Works—nama yang terdengar saleh, bahkan nyaris alkitabiah—ternyata adalah mesin propaganda yang digerakkan oleh dana dari Kementerian Luar Negeri Israel. Tujuannya sederhana: menguatkan dukungan terhadap “Israel” di kalangan gereja-gereja besar di California, Arizona, Nevada, dan Colorado. Tapi caranya? Menargetkan umat dengan teknologi geofencing, mengirim iklan saat mereka sedang beribadah.

Bayangkan ponsel Anda tiba-tiba menampilkan pesan tentang “keberanian Israel melawan teror” ketika Anda baru saja menundukkan kepala berdoa. Ironis, bukan? Ruang spiritual dijadikan pasar, doa dijadikan data.

Kampanye itu bahkan melibatkan rencana pameran keliling bernama “10/7 Experience”, yang menampilkan narasi sepihak dari militer Israel. Sebuah pertunjukan keliling penderitaan yang dikurasi sedemikian rupa agar publik melupakan penderitaan yang lain. Seperti sandiwara yang dirancang untuk menggantikan realitas dengan ilusi.

Lebih jauh lagi, dokumen FARA menunjukkan rencana menggandeng selebriti seperti Chris Pratt, Steph Curry, Tim Tebow, dan Jon Voight. Semua tokoh berprofil “bersih,” “beriman,” dan disukai kaum muda. Bayangkan bila salah satu dari mereka tiba-tiba berbicara tentang “panggilan moral untuk mendukung Israel.” Dunia digital akan ikut bersorak. Dan di balik setiap sorakan itu, ada tangan yang menghitung konversi opini menjadi dukungan politik.

Yang menarik, proyek ini punya dua jalur pesan: “Pro-Israel” dan “Anti-Palestinian State.” Ini bukan sekadar kampanye positif, tapi serangan ideologis. Palestina kembali ditempatkan sebagai simbol ekstremisme, bahkan dituduh punya “tujuan genosidal.” Ironinya mencolok: yang membunuh menuduh yang terbunuh sebagai pelaku genosida.

Mereka bilang kampanye ini adalah “yang terbesar dalam sejarah targeting digital untuk komunitas Kristen.” Kalimat itu sendiri sudah menjelaskan semuanya—bahwa iman kini bisa dijual dengan metrik digital dan algoritma iklan. Bahwa gereja bukan lagi tempat perenungan, tapi marketplace of narratives.

Tentu saja, semua ini bukan kebetulan. Survei Barna Group pada 2021 sudah memperingatkan bahwa dukungan terhadap Israel di kalangan evangelikal muda Amerika turun drastis—dari 75% menjadi hanya 34%. Dan sejak serangan ke Gaza Oktober 2023, citra Israel semakin anjlok. Maka proyek Rp51 miliar ini adalah operasi penyelamatan citra.

Masalahnya, yang ingin diselamatkan bukan kemanusiaan, tapi citra kekuasaan.

Kita semua tahu, dalam politik global, uang sering berbicara lebih keras dari kebenaran. Tapi melihat angka sebesar itu digunakan untuk membayar kampanye di rumah ibadah, ada semacam rasa jijik yang tak bisa disembunyikan. Seolah, bahkan iman pun kini bisa disewa.

Di Indonesia, kita tentu akrab dengan politik pencitraan—politik yang memakai tokoh agama untuk kepentingan elektoral. Tapi apa yang dilakukan Israel jauh lebih ekstrem: negara asing yang menyusup ke ruang iman bangsa lain. Bukan sekadar pencitraan, tapi intervensi spiritual.

Mereka tahu, basis evangelikal adalah mesin suara Partai Republik. Mereka tahu pula, dukungan politik Amerika terhadap Israel banyak bersumber dari tafsir keagamaan yang menyamakan “tanah suci” dengan mandat ilahi. Jadi, kalau keyakinan itu mulai goyah, maka seluruh fondasi dukungan terhadap Israel di AS bisa runtuh. Dan mereka tidak akan membiarkan itu terjadi.

Namun saya yakin, bahkan dana sebesar Rp51 miliar tak akan mampu membeli nurani. Karena yang dipertaruhkan bukan sekadar opini publik, tapi kepercayaan umat terhadap makna kebenaran itu sendiri.

Sebab, di tengah dunia yang makin sadar, tak ada iklan, tak ada influencer, dan tak ada “10/7 Experience” yang bisa menutupi kenyataan: bahwa di Gaza, yang terjadi bukan pertempuran melawan “teror,” melainkan penghancuran sistematis terhadap kehidupan sebuah bangsa.

Dan saya pikir, publik Amerika pun mulai melihatnya. Ketika gereja-gereja muda mulai mendoakan Palestina, ketika jemaat mulai bertanya mengapa “tanah perjanjian” berubah menjadi kuburan anak-anak, saat itulah propaganda mahal ini akan kehilangan maknanya.

Kita bisa tertawa getir melihat ironi ini: negara yang mengaku “demokratis” dan “beradab” justru mengucurkan puluhan miliar rupiah untuk meyakinkan orang bahwa kejahatan mereka adalah kebaikan. Bahwa penderitaan bisa dipoles dengan video. Bahwa darah bisa dibersihkan dengan digital marketing.

Tapi mungkin inilah wajah dunia hari ini—di mana kebenaran harus berjuang melawan algoritma, dan iman pun dijadikan komoditas.

Pada akhirnya, pertarungan terbesar bukan antara Israel dan Palestina, melainkan antara nurani dan kebohongan. Antara iman yang murni dan iman yang disponsori. Antara doa yang jujur dan doa yang sudah dibayar.

Dan saya percaya, seberapa mahal pun dana yang dikucurkan, tak ada uang yang cukup untuk membeli hati yang sudah tercerahkan.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Kolonialisme Digital Israel Incar Gereja Amerika

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer