Connect with us

Opini

Kebohongan Pertahanan Diri dan Ilusi Moral Amerika

Published

on

Editorial poster illustrating the illusion of self-defense in modern wars through abstract symbols of power and innocence.

Langit Gaza tak lagi hitam karena malam. Ia hitam karena abu bangunan, sisa tubuh, dan asap dari bom yang diluncurkan atas nama “pertahanan diri.” Kata itu—dua suku kata yang terdengar sahih di ruang sidang dan podium PBB—kini menjadi mantra busuk yang menutupi wajah kebiadaban. Setiap kali dunia bertanya mengapa anak-anak Palestina dibunuh, jawabannya selalu sama: “Israel hanya membela diri.” Tapi siapa sebenarnya yang diserang? Siapa yang bertahan hidup di reruntuhan, dan siapa yang berdiri di balik peluncur rudal?

Dua tahun sudah sejak 7 Oktober 2023, hari yang dijadikan dalih untuk membenarkan segalanya. Sejak hari itu, “pertahanan diri” berubah menjadi lisensi untuk menghancurkan satu bangsa. Ratusan ribu nyawa melayang, ratusan ribu lainnya terluka, dan jutaan hidup dalam kelaparan, tanpa air, tanpa tempat tinggal. Namun, bagi Washington dan Tel Aviv, semua itu masih bisa dijelaskan secara logis, asal dikemas dengan narasi keamanan nasional dan perang melawan teror. Di sinilah letak kebohongan terbesar abad ini: pembunuhan massal dibungkus dalam bahasa moral.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Menurut laporan William D. Hartung dari Quincy Institute, Amerika Serikat telah memberikan $21,7 miliar bantuan militer kepada Israel sejak awal perang. Totalnya mencapai lebih dari $33 miliar bila menghitung operasi tambahan di Yaman dan kawasan lain. Angka itu bukan hanya statistik; itu adalah daftar dosa yang dibiayai pajak rakyat Amerika. Setiap rudal yang dijatuhkan di Khan Younis, setiap bom yang menewaskan keluarga di Rafah, adalah bagian dari “pertahanan diri” yang dikonversi menjadi proyek bisnis. Pertahanan macam apa yang membutuhkan miliaran dolar untuk membunuh mereka yang tak memiliki tentara?

Sementara itu, laporan Neta Crawford dari Universitas Oxford mencatat lebih dari 67.000 warga Palestina tewas dan lebih dari 169.000 terluka dalam dua tahun terakhir. Itu berarti lebih dari 10 persen populasi Gaza kini menjadi korban langsung. The Lancet bahkan memperingatkan bahwa jika menghitung kematian tak langsung akibat kelaparan, penyakit, dan kehancuran infrastruktur, jumlahnya bisa mencapai 598.000 jiwa. Angka itu tak lagi sekadar statistik—itu adalah pembantaian sistematis. Tapi anehnya, istilah “pertahanan diri” masih diulang seperti kaset rusak oleh para diplomat di Washington dan Tel Aviv.

Saya rasa, di sinilah absurditas dunia modern mencapai puncaknya. Ketika pembunuh memiliki humas, dan korban harus membuktikan kemanusiaannya. Ketika tank dan jet tempur disebut “alat defensif,” dan anak kecil yang melempar batu disebut ancaman eksistensial. Dunia terbalik dengan cara yang paling mengerikan—dan semua itu diatur dengan bahasa politik yang rapi, sopan, dan beraroma kebijakan luar negeri.

Kebohongan “pertahanan diri” ini bukan hal baru. Setiap agresor selalu memulai perang dengan dalih yang sama. Tapi pasca-7 Oktober, retorika ini menjelma menjadi ideologi yang dipertahankan mati-matian, karena di baliknya ada industri raksasa yang menghisap darah dari setiap ledakan. Perusahaan senjata Amerika seperti Lockheed Martin, Boeing, dan Raytheon bukan sekadar penonton; mereka adalah pemasok utama dari tragedi ini. Dan Washington tahu betul, tanpa perang, pundi-pundi itu takkan terisi.

Jadi, “pertahanan diri” bukan lagi soal keamanan Israel, melainkan soal keberlanjutan ekonomi militer Amerika. Washington bukan pelindung demokrasi, ia adalah makelar kematian yang menjual moralitas dalam paket bantuan militer. Bila ada negara lain yang melakukan hal serupa—katakanlah Rusia atau Iran—dunia pasti berteriak. Tapi ketika pelakunya adalah sekutu Barat, kita disuruh memahami “kompleksitas situasi.” Ironi macam apa yang lebih kejam dari ini?

Politik pasca-7 Oktober juga memperlihatkan bagaimana narasi itu dijadikan alat kolonialisme modern. Rencana 20 poin yang diajukan Donald Trump, misalnya, secara teori menjanjikan penarikan Israel dari Gaza. Tapi di balik teksnya, terselip izin bagi tentara Israel untuk tetap berada di perimeter Gaza, menciptakan “zona penyangga” sampai wilayah itu dianggap “aman dari teror.” Aman dari teror, katanya. Tapi kita semua tahu artinya: aman dari warga Palestina yang tersisa. Aman dari kehidupan yang ingin bertahan.

Ini bukan pertahanan diri, ini penghapusan eksistensi. Genosida dengan protokol resmi dan tanda tangan legal. Amerika memberi senjata, Israel menarik pelatuknya, dan dunia menonton dengan wajah lelah seolah ini hanya siklus politik biasa. Padahal, yang sedang terjadi bukan hanya perang—ini ujian bagi nurani manusia.

Kalimat “pertahanan diri” telah kehilangan maknanya. Ia kini adalah eufemisme untuk “pembunuhan yang dilegalkan.” Kita sering lupa bahwa bahasa punya kekuatan untuk membentuk realitas. Ketika media dan pejabat terus mengulang istilah itu, publik mulai percaya bahwa penghancuran Gaza adalah tindakan yang bisa dimaklumi. Seperti racun yang menetes pelan, kebohongan ini merasuki kesadaran global, menumpulkan empati, dan menjadikan kematian sebagai berita biasa.

Saya tak heran jika banyak orang mulai merasa kebal terhadap gambar tubuh anak-anak di puing-puing. Dunia terlalu sering melihatnya. Tapi yang lebih menakutkan bukan lagi tragedinya, melainkan bagaimana tragedi itu dinormalisasi. Inilah politik pasca-7 Oktober—politik yang menggantikan rasa dengan rasionalisasi, menggantikan kemanusiaan dengan retorika keamanan.

Lalu di mana posisi kita? Indonesia, misalnya, selalu lantang mendukung Palestina di forum internasional. Tapi dukungan moral saja tak cukup ketika industri senjata yang mensponsori perang ini juga punya jejaring global, bahkan sampai ke Asia. Sementara kita sibuk dengan polemik domestik, mesin perang terus berputar, mencetak peluru dengan logo “Made in USA.”

Kita semua tahu bahwa kebenaran tidak selalu menang di ruang diplomasi. Tapi ia selalu punya tempat di hati manusia yang jujur. Dan hari ini, jujur berarti berani menyebut “pertahanan diri” sebagai kebohongan. Berani menolak narasi yang menukar nyawa dengan keamanan semu. Berani percaya bahwa setiap dalih keamanan yang membunuh anak-anak bukan lagi politik, melainkan kejahatan.

Dalam dunia yang terbalik ini, mungkin kita tak bisa menghentikan perang, tapi kita bisa menolak menjadi bagian dari kebohongan yang membuatnya terus hidup. Karena di ujung semua ini, bukan hanya Gaza yang hancur, tapi juga makna kemanusiaan kita sendiri. Dan jika dunia terus membiarkan istilah “pertahanan diri” menutupi darah yang tumpah, maka kita sedang menulis ulang sejarah dengan tinta munafik.

Mungkin suatu hari nanti, anak-anak Palestina akan membaca catatan ini dan bertanya, “Mengapa dunia diam ketika kami dibunuh?” Dan kita, manusia masa kini, hanya bisa menjawab dengan malu: karena pembunuhmu mengaku sedang membela diri.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Mayoritas Warga Amerika Kini Dukung Palestina

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer