Opini
Dua Tahun Badai al-Aqsa dan Runtuhnya Mitos Kekuasaan
Sudah dua tahun sejak langit Gaza menyala, sejak dentuman pertama dari apa yang disebut “Operasi Badai al-Aqsa” mengguncang bukan hanya tanah Palestina, tapi juga seluruh peta moral dunia. Dua tahun yang terasa seperti satu abad penderitaan. Dua tahun di mana kata “perang” kehilangan maknanya karena yang berlangsung bukan sekadar bentrokan senjata, melainkan pembantaian yang terorganisir dengan teknologi modern dan diamnya nurani global. Namun di balik semua reruntuhan itu, ada sesuatu yang diam-diam berubah: mitos kekuasaan zionis perlahan runtuh dari dalam dirinya sendiri.
Kita semua masih ingat bagaimana dunia menatap Oktober 2023 dengan campuran kaget dan ngeri. Ketika perlawanan Palestina melancarkan operasi tak terduga, zionis membalas dengan amarah yang membabi buta. Kota-kota hancur, rumah sakit dibom, dan anak-anak yang tak tahu apa-apa menjadi angka statistik di laporan-laporan PBB. Tapi siapa yang mengira, dua tahun kemudian, angka korban bukan hanya menumpuk di Gaza — melainkan juga di jantung Tel Aviv sendiri. Laporan resmi yang dirilis oleh Kementerian Keamanan Israel mencatat 1.152 tentara tewas, 18.500 terluka, dan lebih dari 26.000 mengalami gangguan mental serius. Di negara sekecil itu, angka ini bukan sekadar kehilangan; ini adalah runtuhnya satu generasi.
Saya rasa tidak ada propaganda yang bisa menutupi fakta bahwa perang ini telah memakan anak-anaknya sendiri. Hampir 42% dari tentara yang tewas berusia di bawah 21 tahun. Mereka masih terlalu muda bahkan untuk memahami apa itu “pendudukan”, tetapi sudah diminta membunuh atas nama keamanan nasional. Sebuah tragedi yang ironis: generasi yang lahir di tengah slogan “Never Again” justru menjadi bagian dari mesin penindasan yang terus mengulang sejarah kekejaman itu sendiri.
Dan di sinilah absurditasnya: negara yang mengaku paling kuat di Timur Tengah kini sedang berperang melawan bayangannya sendiri. Data dari Tel Aviv University menunjukkan 12% tentara menderita PTSD, dan lebih dari 43 orang bunuh dir sejak perang dimulai. Dalam setiap statistik itu tersimpan jeritan yang tak terdengar — suara tentara yang tak kuat menanggung beban rasa bersalah, kehilangan, atau bahkan kebingungan tentang makna dari perang yang tak berujung ini. Israel, yang dulu membanggakan IDF sebagai simbol kejayaan nasional, kini harus menghadapi kenyataan bahwa militernya tak lagi digerakkan oleh keyakinan, melainkan oleh rasa takut.
Kita semua tahu, perang yang berkepanjangan tidak hanya menghancurkan kota, tapi juga jiwa. Jika dulu trauma perang identik dengan veteran Perang Dunia, kini gejalanya muncul di setiap rumah Israel yang kehilangan anak. Lebih dari 6.500 keluarga kini masuk dalam daftar berduka. Ada 1.973 orang tua, 351 janda, 885 anak yatim, dan 3.481 saudara kandung yang setiap malam menatap foto seragam yang tak akan pernah dikenakan lagi. Inilah wajah lain dari pendudukan — bukan hanya penderitaan korban di Gaza, tapi juga kehancuran batin para pelaku yang perlahan sadar bahwa mereka juga korban dari sistem yang menipu mereka.
Namun, bukankah inilah harga dari ilusi kekuasaan? Zionis selama puluhan tahun hidup dari keyakinan bahwa dominasi militer bisa menundukkan segalanya — tanah, manusia, bahkan sejarah. Tapi dua tahun setelah Badai al-Aqsa, ilusi itu terbongkar. Di Gaza, perlawanan masih bertahan meski tanpa senjata canggih. Di Tel Aviv, ekonomi mulai melemah, masyarakat retak, dan militer kehilangan wibawanya. Tak ada drone yang bisa menambal kehancuran moral. Tak ada senjata yang bisa menenangkan jiwa yang hancur oleh rasa bersalah.
Kita di Indonesia mungkin tidak merasakan bom jatuh di atas kepala. Tapi saya percaya, kita tahu rasanya hidup di bawah ketidakadilan yang dibiarkan terlalu lama. Karena itu, melihat apa yang terjadi di Gaza seharusnya bukan sekadar empati jauh di layar televisi, melainkan refleksi tentang bagaimana kekuasaan bisa memakan dirinya sendiri ketika kehilangan nilai kemanusiaan. Israel hari ini sedang mengalami versi ekstrem dari penyakit yang juga menghantui banyak bangsa: keyakinan bahwa keamanan bisa dibangun di atas penderitaan orang lain.
Dan penyakit itu menular cepat. Setiap kali dunia memilih diam atas pembantaian, setiap kali lembaga internasional menutup mata demi kepentingan ekonomi, setiap kali media Barat menulis “clashes” untuk menutupi kata “genosida,” maka kita semua sebenarnya sedang memberi pupuk bagi kehancuran moral global. Dua tahun Badai al-Aqsa bukan hanya peringatan bagi Israel, tapi juga bagi dunia — bahwa kebisuan adalah bentuk kolaborasi.
Ada hal yang menarik: di tengah gempuran bom, Gaza masih punya kehidupan. Sekolah-sekolah darurat berdiri, anak-anak belajar di bawah tenda, dan orang-orang saling berbagi sisa makanan. Kontras dengan itu, di Tel Aviv, pusat-pusat rehabilitasi mental militer dibuka semakin banyak. Ini bukan sekadar perbedaan kondisi, tapi simbol dari dua kekuatan yang berlawanan: satu bertahan karena keyakinan, yang lain runtuh karena kehilangan makna.
Saya sering berpikir, mungkin Badai al-Aqsa bukan sekadar operasi militer. Mungkin ia adalah cermin besar yang dipaksa dihadapkan pada dunia — memantulkan siapa sebenarnya yang terjajah dan siapa yang sesungguhnya terpenjara oleh ilusi kekuasaannya sendiri. Di balik roket dan puing-puing, ada pesan yang lebih dalam: bahwa keadilan tidak pernah bisa dibunuh, dan kebenaran tidak bisa dipenjarakan dengan tembok beton setebal apa pun.
Dua tahun berlalu, tapi badai itu belum usai. Ia kini berhembus di ruang-ruang diskusi, di jalanan protes, di kampus-kampus Eropa dan Amerika, di setiap unggahan yang menolak bungkam. Dunia mulai sadar bahwa yang mereka sebut “konflik” adalah ketimpangan abadi antara penjajah dan yang dijajah. Dan kesadaran itulah yang paling ditakuti oleh kekuasaan mana pun: kesadaran bahwa kekerasan bisa dipatahkan dengan keberanian untuk berkata tidak.
Mungkin, di masa depan, sejarah akan mencatat Badai al-Aqsa bukan hanya sebagai perang besar, tetapi sebagai titik balik moral umat manusia. Bukan karena Hamas melancarkan serangan, tapi karena dunia akhirnya dipaksa melihat wajah asli dari kekejaman modern. Kita akan diingat bukan dari seberapa banyak kita tahu, tapi dari seberapa keras kita menolak diam. Karena pada akhirnya, genosida tidak dimulai dari peluru — ia dimulai dari kesunyian.
Dan hari ini, dua tahun setelah badai itu pecah, dunia punya pilihan sederhana tapi menentukan: terus hidup dalam sunyi, atau mulai bicara.

Pingback: Dua Tahun Badai al-Aqsa dan Lahirnya Dunia Baru