Opini
Eropa dan Bayang-Bayang Minority Report yang Nyata
Ada adegan dalam Minority Report yang sulit dilupakan. Tom Cruise berjalan di koridor pusat perbelanjaan, dan setiap langkahnya disambut iklan yang memanggil namanya, membaca matanya, lalu menyesuaikan pesan sesuai profilnya. Tidak ada ruang anonim. Tidak ada langkah tanpa jejak. Dunia dalam film itu adalah laboratorium sempurna bagi kekuasaan yang ingin tahu segalanya. Dua dekade kemudian, kita menyaksikan versi nyatanya perlahan tumbuh di Eropa—lebih rapi, lebih sopan, dan ironisnya, lebih “demokratis.”
Digitalisasi yang dulu dijanjikan sebagai kemajuan kini berubah menjadi mekanisme kontrol. Pemerintah Inggris, di bawah Keir Starmer, baru-baru ini meluncurkan rencana Digital ID—identitas digital terpadu yang katanya akan memudahkan akses publik dan menekan kejahatan. Kedengarannya modern dan efisien. Tapi seperti semua distopia yang menyamar sebagai kemajuan, bahaya justru tersembunyi dalam bahasa teknokratisnya. Tak ada satu pun pemilih yang pernah memberi mandat untuk proyek ini, dan itu diakui sendiri oleh Palantir, perusahaan yang justru dikenal dekat dengan CIA. Ironi mencolok: perusahaan yang hidup dari kontrak intelijen menolak ikut serta karena menganggap proyek ini tak punya legitimasi demokratis.
Palantir menolak bukan karena tiba-tiba menjadi penjaga kebebasan, tapi mungkin karena tahu betul ke mana arah semua ini akan bermuara. Digital ID bukan sekadar kartu elektronik; ia adalah kunci universal yang menghubungkan seluruh data seseorang—transaksi, riwayat kesehatan, lokasi, bahkan preferensi politik—ke satu identitas tunggal. Sekali sistem itu berdiri, privasi berhenti menjadi hak, berubah menjadi izin yang bisa dicabut kapan saja. Dan seperti dalam Minority Report, pemerintah akan beralasan bahwa semua ini dilakukan untuk kebaikan, demi keamanan, demi efisiensi.
Di sisi lain, Signal Foundation mengancam akan meninggalkan pasar Eropa jika Uni Eropa tetap memaksakan Chat Control Plan. Lagi-lagi, narasinya tampak tak terbantahkan: melindungi anak-anak dari kekerasan seksual daring. Tapi di balik jargon perlindungan itu, tersembunyi rancangan regulasi yang mewajibkan setiap layanan pesan—Signal, WhatsApp, Telegram—memindai isi pesan dan file pengguna sebelum dienkripsi. Artinya, bahkan sebelum Anda mengirim pesan pribadi, mesin negara sudah lebih dulu membacanya. Kedengarannya seperti Precrime Unit dalam Minority Report: mendeteksi pelanggaran sebelum terjadi. Bedanya, di sini “kejahatan” bukan lagi tindakan, melainkan potensi yang diputuskan oleh algoritma.
Kita semua tahu bagaimana logika seperti itu bisa berakhir. Sekali negara diberi akses total atas komunikasi warganya, tak ada lagi batas antara keamanan dan kekuasaan. Segalanya bisa diawasi dengan dalih “melindungi.” Dunia digital yang kita kenal sebagai ruang kebebasan berubah menjadi ruang interogasi yang senyap—tanpa lampu sorot, tanpa borgol, tapi dengan sensor yang jauh lebih efektif.
Apa yang dilakukan Eropa hari ini menunjukkan paradoks besar dari dunia Barat: mereka menuduh Tiongkok dan Rusia menerapkan digital authoritarianism, tapi kini justru meniru langkah yang sama, hanya dengan gaya lebih halus. Mereka tak menyebutnya pengawasan, tapi “governance.” Mereka tak menyebutnya kontrol, tapi “trust and safety.” Kata-kata berubah, tapi substansinya tetap sama: negara ingin tahu segalanya tentang kita.
Saya rasa ini bukan sekadar soal teknologi, tapi soal kepercayaan yang dikhianati. Warga Eropa tumbuh dalam keyakinan bahwa kebebasan individu adalah nilai tertinggi peradaban mereka. Kini, dengan dalih melindungi kebebasan itu, pemerintah mereka sedang menciptakan sistem yang bisa memusnahkannya dari dalam. Kita menyaksikan demokrasi digital yang berubah menjadi mesin pengawasan massal—sebuah Minority Report versi birokrasi Eropa.
Apa yang membuat situasi ini lebih absurd adalah cara publik menerimanya. Banyak yang merasa tak perlu khawatir karena “saya tidak punya apa-apa untuk disembunyikan.” Sebuah kalimat yang selalu muncul setiap kali privasi dikorbankan. Tapi bukankah itu logika yang sama dengan menyerahkan kunci rumah pada aparat karena “saya bukan pencuri”? Privasi bukan karena kita bersalah, tapi karena kita manusia yang berhak atas ruang diamnya sendiri.
Bila Chat Control diterapkan, setiap pesan pribadi akan menjadi potensi bukti, setiap file pribadi akan menjadi materi penyelidikan. Dan jika Digital ID diberlakukan, setiap aktivitas warga akan terekam dalam sistem yang bisa dipanggil kapan saja oleh negara. Tidak perlu lagi polisi berpakaian hitam mengetuk pintu seperti di film; cukup sinyal digital yang tak terlihat. Dunia Minority Report bukan lagi fiksi—ia sedang diunduh, baris demi baris, dalam bentuk kebijakan publik.
Ironisnya, dua pihak yang justru membunyikan alarm adalah Palantir dan Signal—dua perusahaan yang punya sejarah dengan lembaga intelijen AS. Seakan-akan Frankenstein kini memperingatkan bahwa monster yang ia bantu ciptakan telah tumbuh terlalu kuat. Ini bukan lagi persoalan idealisme, tapi pertarungan antara privasi dan kekuasaan. Dan kekuasaan, seperti yang kita tahu, selalu menang jika rakyatnya sibuk merasa aman.
Kita di Indonesia sebaiknya belajar dari absurditas itu. Kita pun sedang menuju arah yang sama: membangun Digital ID Nasional, memusatkan data, mengandalkan algoritma untuk keamanan publik. Semua terdengar masuk akal—sampai suatu hari data itu bocor, disalahgunakan, atau digunakan untuk memetakan siapa yang kritis dan siapa yang patuh. Maka dari itu, pertanyaan sebenarnya bukan “kapan teknologi ini berguna”, tapi “siapa yang akan mengendalikannya, dan untuk kepentingan siapa.”
Saya teringat kalimat di film Minority Report: “The system is perfect, until it decides you’re guilty.” Begitulah logika kekuasaan digital—tak peduli apakah Anda benar atau salah, cukup algoritma menandai Anda, maka Anda sudah bersalah di mata mesin. Dan saat itu tiba, kita baru sadar bahwa pengawasan bukan tentang keamanan, tapi tentang siapa yang memegang layar utama.
Jika Eropa, dengan tradisi demokrasinya yang panjang, bisa terjebak dalam jebakan otoritarianisme digital, maka negara lain lebih mudah tergelincir. Dunia tampaknya sedang mengulangi kesalahan lama dengan cara yang lebih canggih: menukar kebebasan dengan kenyamanan, dan privasi dengan rasa aman semu. Seperti Minority Report, masa depan itu tampak steril, efisien, dan terencana—tapi tanpa kebebasan, semua itu tak lebih dari penjara yang indah.
Dan mungkin, justru di sanalah tragedinya. Ketika pengawasan datang dengan wajah ramah, dengan logo modern dan janji kemajuan, kita tidak sadar sedang menyambut Big Brother yang baru—bukan lewat pintu belakang, tapi lewat notifikasi di layar ponsel kita sendiri.
