Connect with us

Opini

Munafiknya Barat: Jerman Main Dua Wajah Palestina

Published

on

Ilustrasi editorial satir menampilkan pejabat Jerman mengklaim “larangan ekspor” sambil diam-diam mengirim perlengkapan militer ke Israel, dengan latar demonstrasi besar di Berlin.

Di tengah hiruk-pikuk protes yang menggema di Berlin, ada ironi yang menusuk hati: sebuah negara yang berulang kali mengklaim dirinya belajar dari sejarah kelam Holocaust, justru kini terjebak dalam lingkaran kemunafikan yang terang benderang. Jerman, dengan segala retorika moralitas dan sejarah penderitaan, kembali menunjukkan wajah aslinya. Mereka berkata menolak genosida, tetapi diam-diam memberi bahan bakar bagi mesin perang yang sedang membantai rakyat Palestina. Apa yang lebih absurd dari ini?

Pemerintah Jerman di bawah Kanselir Friedrich Merz memang sempat mengumumkan penghentian ekspor senjata ke Tel Aviv pada Agustus. Seolah ingin menegaskan, Jerman tidak akan berpartisipasi dalam darah yang mengalir deras di jalan-jalan Gaza. Tetapi fakta di lapangan bicara lain: hanya beberapa minggu setelah “larangan” itu diumumkan, tercatat pengiriman senilai hampir tiga juta dolar berupa perlengkapan militer. Bukan senjata perang, katanya. “Other military goods,” klaimnya. Seolah helm, sistem komunikasi, atau suku cadang kendaraan lapis baja tidak punya kontribusi terhadap mesin genosida.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Saya rasa kita semua tahu, alasan semacam itu hanya permainan kata. Trik bahasa. Di satu sisi, Jerman ingin terlihat bermoral di mata publik Eropa. Di sisi lain, mereka tak mau kehilangan peran sebagai pemasok utama zionis. Bayangkan: sejak Januari hingga awal Agustus saja, ekspor senjata Jerman ke Tel Aviv mencapai hampir 300 juta dolar. Angka itu bukan kecil, bukan pula sekali-dua kali transaksi. Itu menunjukkan keterikatan struktural, sebuah hubungan yang lebih dalam dari sekadar diplomasi. Hubungan yang menyingkap wajah ganda Barat—menjual moralitas ke publik, tetapi menggadaikan nurani demi geopolitik.

Pertanyaan penting pun muncul: apa sebenarnya yang Jerman takutkan? Tekanan publik sudah jelas semakin keras, terbukti dengan lebih dari seratus ribu orang turun ke jalan di Berlin, menuntut diakhirinya kerjasama militer dengan Tel Aviv. Tetapi pemerintah tetap melanjutkan pengiriman. Artinya, suara rakyat tak lagi menjadi penentu arah kebijakan, digantikan oleh komitmen politik transatlantik dan ikatan ideologis yang buta. Dalam konteks ini, demokrasi yang mereka banggakan tampak seperti panggung boneka: megah di depan layar, tapi tali kendali ditarik dari belakang.

Ironi semakin menusuk ketika diingatkan pada sejarah. Jerman yang terus dihantui oleh dosa masa lalu, kini menutup mata terhadap genosida baru yang berlangsung di Gaza. Apa gunanya menyesali Holocaust jika pada saat yang sama memberi sokongan pada Holocaust modern? Bukankah seharusnya penderitaan sejarah itu membuat mereka lebih peka, bukan lebih bebal? Tetapi, nampaknya rasa bersalah historis itu telah dipelintir menjadi alasan untuk membenarkan segala dukungan pada zionis, meskipun jelas-jelas dukungan itu berkontribusi pada pembantaian massal.

Di Indonesia, kita sering menyaksikan pejabat berkilah dengan alasan teknis: “bukan korupsi, hanya maladministrasi,” atau “bukan pelanggaran, hanya kelalaian prosedural.” Rasanya, kilah Jerman ini mirip sekali. Mereka bersembunyi di balik istilah teknis—other military goods—untuk menutupi kenyataan bahwa barang-barang itu tetap menjadi bagian dari rantai pembunuhan. Seperti pedagang yang berkata, “saya hanya menjual pisau, saya tidak tahu dipakai membunuh.” Padahal semua orang tahu, pisau itu akan menancap di tubuh yang tak berdaya.

Dan lihatlah bagaimana Netanyahu merespons larangan ekspor Jerman sebelumnya. Ia menuduh Berlin berpihak pada Hamas, menuding Jerman gagal mendukung “perang yang adil.” Sebuah ironi pahit: perang yang meluluhlantakkan Gaza, membunuh puluhan ribu warga sipil, termasuk anak-anak, masih disebut sebagai “adil.” Tetapi yang lebih mengejutkan, Jerman tampak goyah, seperti takut dengan tuduhan itu. Maka larangan ekspor hanya berlangsung singkat, sebelum diam-diam dibuka kembali celahnya. Apakah sebuah negara sebesar Jerman sedemikian rapuh di hadapan gertakan Tel Aviv? Atau memang sejak awal, “larangan” itu hanya sekadar kosmetik politik untuk menenangkan massa?

Kemunafikan ini tidak berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari pola besar Barat dalam menghadapi Palestina. Di hadapan kamera, mereka mengaku mendukung hak asasi manusia. Di meja rapat PBB, mereka bicara tentang keadilan dan perdamaian. Namun di balik pintu tertutup, kontrak senjata tetap ditandatangani, pengiriman logistik militer tetap berjalan, dan lobi-lobi industri pertahanan tetap mendikte arah kebijakan. Palestina hanyalah korban dari kepentingan yang jauh lebih besar: geopolitik, ekonomi, dan obsesi mempertahankan hegemoni.

Apa dampaknya bagi kita? Saya rasa, ini bukan sekadar isu jauh di Timur Tengah. Di Jakarta, di Surabaya, atau di kampung-kampung kecil sekalipun, kita bisa merasakan getirnya. Sebab kemunafikan ini adalah cermin betapa standar ganda Barat begitu kentara. Kita selalu diajari untuk menghormati hukum internasional, tetapi mereka sendiri menginjaknya. Kita selalu ditegur soal demokrasi dan hak asasi, tetapi mereka sendiri mendukung genosida terang-terangan. Maka ketika kita melihat anak-anak Gaza terbunuh, kita juga sedang melihat topeng Barat yang retak.

Pada akhirnya, semua ini menegaskan satu hal: Jerman, bersama sekutunya di Barat, sedang memainkan sandiwara besar. Sebuah drama di mana publik disuguhi kata-kata manis tentang moralitas, sementara di belakang layar mereka tetap menyalakan kompor perang. Dan yang terbakar adalah rakyat Palestina—manusia nyata, dengan rumah, dengan anak-anak, dengan harapan yang hancur. Dunia mungkin bisa ditipu dengan istilah teknis, tetapi sejarah tidak akan pernah lupa.

Saya percaya, kita semua punya kewajiban untuk menyebut kemunafikan ini dengan namanya yang sebenarnya. Tidak lagi sekadar “freeze,” tidak lagi sekadar “barang militer lain,” tetapi partisipasi dalam genosida. Karena jika kita membiarkannya, kita ikut menormalisasi sebuah kejahatan yang lebih besar dari sekadar perang: kejahatan atas nurani manusia itu sendiri.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Digitalisasi Prematur: Kesalahan Strategi AI Jerman

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer