Connect with us

Opini

Dari Hasbara ke Buzzer: Perang Narasi Digital

Published

on

Ilustrasi editorial tank berubah menjadi ikon media sosial yang menembakkan notifikasi berbentuk like dan hati, dengan latar depan dunia digital berwarna dan reruntuhan Gaza di belakang.

Di era ketika sebuah video kucing bisa lebih cepat viral daripada berita pembantaian di Gaza, absurditas zaman kita menjadi semakin telanjang. Kita hidup di dunia di mana opini bukan lagi buah dari percakapan jujur, melainkan hasil kontrak bisnis bernilai jutaan dolar. Dan laporan terbaru tentang proyek “Esther” dari pemerintah Israel hanya menegaskan satu hal: perang hari ini tidak hanya digelar di tanah yang penuh reruntuhan, tapi juga di layar ponsel kita.

Hasbara dulu terdengar samar, seolah hanya istilah diplomasi publik yang sopan. Kita membayangkan diplomat bersetelan rapi, duduk dalam konferensi pers, berbicara dengan kalimat hati-hati. Padahal, Hasbara dalam bahasa Ibrani berarti “penjelasan” atau “klarifikasi.” Di balik arti yang terdengar polos itu, Hasbara sebenarnya adalah strategi propaganda resmi pemerintah Israel sejak dekade 1970-an untuk membentuk citra positif di mata dunia, menutupi kebijakan pendudukan, sekaligus membalik narasi agar rakyat Palestina tampak sebagai pihak yang bersalah. Kalau dulu jalurnya lewat juru bicara, acara kebudayaan, hingga kampanye pariwisata, kini wajah Hasbara telah berubah.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Ia bukan lagi pejabat yang berbicara di podium, melainkan influencer TikTok yang sedang menyisipkan pesan politik di tengah konten fashion atau tips parenting. Bayangkan, sebuah tragedi kemanusiaan dikemas dalam format “swipe up” atau “double tap if you agree.” Ironis? Ya. Berbahaya? Lebih dari itu.

Dokumen resmi yang terdaftar di Departemen Kehakiman AS menunjukkan detail yang terlalu gamblang untuk dibantah. Ada firma bernama Bridges Partners LLC, baru dibentuk pada 2025 di Delaware, dengan kontrak hampir satu juta dolar untuk mengoordinasikan influencer pro-Israel di Amerika. Bukan sekadar ongkos iklan, tapi benar-benar ekosistem: rekrutmen, produksi konten, analitik, hingga kepatuhan hukum. Setiap influencer ditarget memproduksi 25 hingga 30 konten per bulan, dibayar ribuan dolar per posting. Saya rasa, jika buzzer politik di Indonesia mendengar angka itu, mereka mungkin langsung berhenti mengetik di warung kopi dan mendaftar jadi influencer internasional.

Tapi inilah yang lebih getir: Netanyahu sendiri yang mengakui pentingnya influencer ini. Ia menyebut mereka sebagai senjata di medan perang baru—medan yang disebut sebagai “front kedelapan.” Jadi, bukan lagi metafora. Negara ini secara terang-terangan menyamakan postingan Instagram dengan peluru, TikTok dengan tank, dan narasi digital dengan roket. Seakan-akan tragedi ribuan korban sipil di Gaza bisa ditebus dengan estetika filter kamera dan caption motivasi.

Kita di Indonesia cukup akrab dengan istilah buzzer. Saat pemilu atau saat ada kebijakan kontroversial, mendadak muncul akun-akun dengan narasi seragam. Mereka ramai-ramai mengalihkan isu, menyerang lawan politik, atau mengulang slogan hingga terasa seperti kebenaran. Apa yang dilakukan Israel ini mirip, hanya lebih rapi, lebih mahal, dan lebih berbahaya. Karena target mereka bukan sekadar satu bangsa, melainkan opini publik global. Jika buzzer lokal bermain di level kampung digital, buzzer Hasbara ini sedang bermain di level geopolitik.

Ada yang berkata, ini hanya strategi komunikasi. Semua negara melakukan hal yang sama. Benarkah? Saya rasa kita harus berhenti menormalisasi propaganda yang disamarkan sebagai “komunikasi kreatif.” Karena yang dipromosikan bukanlah pariwisata atau kuliner, melainkan justifikasi atas sebuah perang yang sudah digolongkan oleh penyelidik PBB sebagai tindakan genosida. Membayar influencer lifestyle untuk menyamarkan pembantaian adalah bentuk paling sinis dari industri komunikasi: sebuah kolaborasi antara agensi global, algoritma media sosial, dan uang negara untuk menutupi darah dengan filter pastel.

Mari kita tarik napas sejenak. Apa yang sebenarnya sedang dipertaruhkan di sini? Bukan hanya kebenaran faktual, tetapi juga daya kritis kita sebagai publik. Ketika feed media sosial kita dipenuhi konten yang tampak natural tapi sejatinya dibayar oleh negara asing, kita dipaksa hidup dalam realitas yang telah direkayasa. Informasi tidak lagi lahir dari saksi mata atau jurnalis independen, melainkan dari content creator yang tersenyum sambil menyisipkan narasi politik. Seperti membeli sayur di pasar tapi ternyata plastik pembungkusnya berlapis racun—tak kasatmata, namun mematikan.

Saya jadi teringat dengan satu analogi sederhana: di rumah, kita selalu waspada kalau ada makanan basi. Kita mencium aromanya, kita lihat warnanya, lalu kita putuskan untuk tidak memakannya. Tapi bagaimana dengan informasi basi atau beracun? Tidak ada bau, tidak ada tanda. Apalagi jika disajikan dengan wajah influencer favorit kita. Di situlah bahayanya. Kita mengonsumsi propaganda seolah sedang menelan makanan sehat.

Jadi, bagaimana kita harus menghadapi ini? Pertama, dengan kesadaran kritis. Jangan pernah menganggap media sosial sebagai ruang netral. Setiap posting bisa jadi adalah transaksi. Setiap narasi bisa jadi hasil pesanan. Saya tidak mengatakan semua influencer itu agen negara, tapi bukti laporan ini cukup untuk membunyikan alarm: ruang digital sudah lama dijadikan arena perang.

Kedua, kita perlu membangun narasi tandingan. Bukan sekadar dengan fakta, tapi juga dengan kreativitas yang mampu menembus algoritma. Jika mereka memakai strategi lifestyle untuk menyisipkan propaganda, mengapa kita tidak bisa menyisipkan solidaritas dalam bahasa sehari-hari? Jangan hanya berharap pada media arus utama; justru percakapan di ruang-ruang kecil, di komunitas digital, bisa jadi benteng paling efektif.

Ketiga, jangan biarkan kita terjebak dalam sinisme. Betul, uang mereka banyak, teknologi mereka canggih, koneksi mereka luas. Tapi sejarah membuktikan, narasi yang lahir dari suara korban selalu punya daya tahan yang lebih kuat. Tidak ada jumlah dolar yang bisa menghapus rekaman anak-anak Gaza yang menangis mencari keluarganya di bawah reruntuhan. Tidak ada filter yang bisa menutupi kebenaran dari mata yang mau melihat.

Akhirnya, kita harus mengakui kenyataan pahit: perang narasi ini bukan hal asing. Kita di Indonesia sudah lama melihat bagaimana buzzer merusak percakapan publik, mengaburkan fakta, dan menjual opini seperti komoditas. Bedanya, kini kita melihat cerminan yang lebih besar, lebih brutal, dan lebih telanjang. Dari Hasbara ke buzzer, dari podium ke TikTok, propaganda telah berubah wajah.

Mungkin kita tidak bisa menghentikan proyek seperti Esther Project. Tapi kita bisa melakukan sesuatu yang lebih penting: menjaga daya kritis, menolak tunduk pada narasi instan, dan terus mengingat bahwa di balik setiap posting glamor yang dibayar, ada kenyataan getir yang tak bisa dihapus algoritma—mayat, reruntuhan, dan rasa sakit yang nyata di Gaza.

Dan saya rasa, di situlah titik perlawanan kita dimulai. Tidak dengan senjata, tapi dengan mata yang tidak mau ditutup dan hati yang tidak mau dibeli.

Sumber:

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Israel dan Kubah Besi Digital Pengendali Kesadaran

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer