Opini
ASEAN Menyiapkan Jalan Sunyi Tanpa Amerika
Ada satu ironi yang kini mencuat dari jantung Asia Tenggara. Sebuah kawasan yang selama puluhan tahun dibentuk oleh logika pasar global, yang diikat erat oleh mesin ekspor ke Amerika Serikat, kini dipaksa menatap kenyataan bahwa “rumah besar perdagangan dunia” bisa berubah menjadi rumah kaca yang panas, retak, dan tak ramah bagi penghuninya. Donald Trump, dengan kebijakan tarifnya yang proteksionis, menutup pintu sambil berteriak: Amerika dulu, sisanya belakangan. Tetapi dunia tidak sesederhana slogan kampanye. Dunia adalah jaringan yang terlalu rapuh untuk dipaksa tunduk pada satu pusat gravitasi.
ASEAN, yang kerap dipandang lamban dalam mengambil keputusan, justru menunjukkan refleks yang cepat kali ini. Begitu bayangan tarif Trump menjelma ancaman nyata—turunnya hampir 10 persen ekspor ke pasar AS menurut laporan UNDP—blok ini bergerak mencari pintu keluar. Bukan sekadar pintu keluar, melainkan lorong panjang menuju tatanan baru: perjanjian dagang dengan Kanada, peningkatan kerja sama dengan Tiongkok, India, dan Korea Selatan, hingga ekspansi RCEP ke Bangladesh, Sri Lanka, dan bahkan Chile. Seakan ASEAN berkata: jika satu meja makan diguncang, kita akan duduk di meja lain.
Saya rasa, inilah bentuk “realpolitik” dalam balutan ekonomi. Tidak ada sentimentalitas. Tidak ada nostalgia. Hanya kalkulasi dingin: siapa yang mampu menjamin pasar, siapa yang bisa memberi stabilitas. Jika Amerika berubah menjadi pasangan yang cemburuan, penuh amarah, dan tidak bisa dipercaya, maka ASEAN memilih poligami dagang—membagi cinta ke banyak arah, sekaligus mengurangi risiko patah hati yang terlalu dalam.
Namun, mari kita tidak terlalu cepat bertepuk tangan. Diversifikasi memang terdengar gagah, tetapi sejatinya langkah ini adalah cermin dari kerentanan struktural. Betapa rapuhnya fondasi ekonomi Asia Tenggara jika penurunan 10 persen ekspor ke AS saja sudah dianggap ancaman eksistensial. Bukankah ini menunjukkan bahwa selama puluhan tahun kita terlalu nyaman hidup dalam orbit dolar dan pasar Barat, tanpa menyiapkan cadangan oksigen di luar sana? Dan kini, ketika tabung oksigen itu ditutup sepihak, kita baru terengah-engah mencari udara segar di tempat lain.
Ironinya, udara segar itu justru datang dari Beijing, New Delhi, dan bahkan Riyadh. ASEAN dengan pragmatis melirik Tiongkok, negara yang sering dicurigai sekaligus dirangkul dalam satu tarikan napas. Upgrade perjanjian perdagangan dengan Beijing bukan sekadar transaksi, tapi sebuah pengakuan diam-diam bahwa Amerika sudah bukan jantung dunia. Dunia kini multipolar. Dan di dalam multipolaritas itu, ASEAN berusaha menjadi penari yang luwes, bisa bergeser ritme tergantung musik yang dimainkan.
Tentu saja, langkah ASEAN untuk mengurangi ketergantungan pada dolar juga tak kalah simbolis. Persetujuan penggunaan yuan dan mata uang regional dalam mekanisme bantuan finansial adalah tamparan halus untuk Washington. Kita tahu, dolar selama ini adalah alat hegemoni, bukan sekadar mata uang. Dengan meminggirkannya, walau perlahan, ASEAN sedang mengirimkan pesan: ada kehidupan di luar orbitmu. Francesco Pesole, analis ING, menyebut kebijakan Trump yang “erratic” sebagai pemicu. Kata “erratic” di sini menarik—sebuah eufemisme akademis untuk menggambarkan kebijakan yang kacau balau, tidak konsisten, dan sering kali kontraproduktif.
Mari kita tarik ke konteks lokal. Bayangkan pedagang kecil di Tanah Abang, yang setiap harinya menunggu pasokan bahan dari pabrik. Jika pabrik itu tiba-tiba menutup akses karena alasan “proteksi”, apakah pedagang akan berhenti berdagang? Tidak. Ia akan mencari pemasok baru, entah dari Bandung, Surabaya, atau bahkan dari luar negeri. Mungkin lebih mahal di awal, mungkin lebih repot dalam logistik, tetapi yang jelas ia tidak akan membiarkan tokonya mati hanya karena satu pabrik ngambek. ASEAN melakukan hal yang sama, hanya dalam skala yang jauh lebih besar.
Tetapi jangan salah: jalan sunyi tanpa Amerika bukan jalan yang mulus. Ada jebakan di sepanjang rute. Diversifikasi pasar bukan berarti otomatis aman. Perdagangan dengan Tiongkok membawa risiko ketergantungan baru. Perdagangan dengan India sering kali tersendat birokrasi. Perdagangan dengan Kanada atau Chile mungkin penuh dengan klausul yang rumit dan lambat dalam realisasinya. Jadi, apakah ASEAN benar-benar bebas dari bayang-bayang satu hegemon, atau hanya berpindah dari satu bayangan ke bayangan lain?
Di titik inilah saya ingin menyelipkan satu sindiran. ASEAN suka menyebut dirinya sebagai “blok yang bersatu” dalam menghadapi tantangan global. Namun, kita tahu, di balik pernyataan diplomatik yang penuh bunga itu, masing-masing anggota punya agenda sendiri. Vietnam mungkin lebih agresif mencari pasar baru, Singapura lebih fokus pada jasa finansial, sementara Indonesia sibuk menjaga stabilitas domestik. Pertanyaannya: apakah ASEAN benar-benar punya strategi kolektif, atau hanya sekadar kumpulan strategi nasional yang dijahit menjadi satu kain tambal sulam?
Kita semua tahu jawaban getirnya. ASEAN adalah rumah tangga besar di mana setiap anggota punya dapur sendiri-sendiri. Sesekali ada makan malam bersama, tetapi lebih sering kita melihat mereka sibuk dengan masakan masing-masing. Lalu, ketika AS menutup pintu, apakah ASEAN betul-betul akan bergerak sebagai satu tubuh, ataukah akan ada yang berlari lebih cepat meninggalkan yang lain?
Saya percaya, langkah ASEAN mengimbangi Amerika, bukan menjauhinya, adalah pilihan paling realistis. Hubungan dengan AS tetap penting—tak bisa diputus begitu saja. Tetapi, keberanian untuk membuka jalan baru, menggandeng mitra yang lebih luas, dan bahkan berani “menggoda” de-dolarisasi, patut diapresiasi. Di sini ada pelajaran yang bisa kita tarik sebagai bangsa Indonesia: jangan pernah menaruh semua telur dalam satu keranjang. Dunia terlalu rapuh untuk bertumpu pada satu kaki.
Pada akhirnya, ASEAN sedang menulis bab baru dalam kisah panjang perdagangan global. Bab ini penuh dengan ketidakpastian, penuh dengan risiko, tetapi juga penuh peluang. Jika dimainkan dengan cerdas, ASEAN bisa muncul sebagai pusat gravitasi baru di abad ke-21, bukan sekadar penonton di pinggiran panggung. Namun, jika dimainkan setengah hati, kita hanya akan menjadi komoditas yang berpindah tangan, dari satu hegemon ke hegemon lain.
Saya rasa, inilah saatnya kita belajar tersenyum getir sambil tetap berjalan. Amerika boleh menutup pintu dengan tarif dan ancaman. Tetapi dunia, dengan segala ironi dan absurditasnya, tetap menawarkan lorong-lorong lain yang bisa kita masuki. Pertanyaannya sederhana: apakah kita cukup berani melewati lorong itu, atau akan terus menunggu di depan pintu yang sudah jelas dikunci rapat?
