Connect with us

Opini

Billboard Tel Aviv dan Ilusi Dukungan Indonesia

Published

on

Billboard di Tel Aviv memajang wajah Prabowo dengan slogan dukungan rencana Trump untuk Gaza

Di tengah hiruk pikuk jalanan Tel Aviv, sebuah billboard raksasa berdiri mencolok. Wajah Donald Trump terpampang dengan angkuh, ditemani kalimat tebal yang berbunyi: “Mr. President, Israel Stands By Your Plan. Seal the Deal.” Namun yang membuat banyak mata terbelalak bukanlah sosok Trump, melainkan figur lain yang ikut dipajang: Presiden Indonesia, Prabowo Subianto. Gambarnya berdiri sejajar dengan tokoh-tokoh Arab, seolah menjadi bukti bahwa Indonesia kini turut masuk ke barisan pendukung rencana Trump untuk Gaza. Sebuah pemandangan yang tak hanya absurd, tetapi juga menusuk rasa, terutama bagi bangsa yang sejak lama menjadikan dukungan pada Palestina sebagai bagian dari identitas politik luar negerinya.

Jika dicermati lebih dalam, caption billboard itu sebenarnya sarat makna simbolis. Sebutan “Mr. President” jelas diarahkan kepada Trump, menegaskan bahwa dialah arsitek utama dari “rencana” yang dimaksud. Frasa “Israel Stands By Your Plan” memperlihatkan klaim dukungan penuh Israel terhadap gagasan tersebut, yang dalam konteks paling dekat merujuk pada proposal 20 poin Trump untuk Gaza sebagaimana dilaporkan Al-Jazeera. Sementara kalimat “Seal the Deal” memberi kesan bahwa kesepakatan sudah matang, seolah para tokoh yang dipajang—dari Trump, Netanyahu, sejumlah pemimpin Arab, hingga Prabowo—sudah berada dalam barisan yang sama. Dengan kata lain, billboard itu bukan hanya menampilkan gambar, tetapi sedang membangun narasi: bahwa dukungan terhadap rencana Trump adalah konsensus global.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Billboard itu tak muncul dalam ruang kosong. Ia datang hampir bersamaan dengan pernyataan bersama sejumlah menteri luar negeri, seperti Mesir, Indonesia, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab. Pernyataan itu menyebutkan apresiasi atas “upaya tulus Trump untuk mengakhiri perang di Gaza” dan menegaskan keyakinan pada “kemampuannya menemukan jalan menuju perdamaian”. Sebuah kalimat diplomatis yang dalam bahasa protokol terdengar netral, tetapi ketika dipindahkan ke ruang visual Tel Aviv, tiba-tiba berubah makna: menjadi cap stempel dukungan, bahkan kesetiaan.

Di titik inilah absurditas itu menganga. Bahasa diplomatik yang biasanya penuh kehati-hatian berubah di tangan mesin propaganda menjadi senjata untuk membentuk persepsi publik. Apa yang semula hanya basa-basi politik, ditransformasi menjadi citra visual yang tegas: lihat, bahkan Indonesia bersama kami, mendukung rencana Trump. Padahal, kita tahu, dukungan formal tidak pernah diucapkan sedemikian eksplisit. Tetapi bukankah politik memang sering kali soal siapa yang lebih dulu membingkai realitas?

Saya rasa inilah yang membuat billboard itu begitu mengganggu. Bukan karena ia menunjukkan Trump, melainkan karena ia menyeret nama Indonesia—melalui wajah presidennya—ke dalam pusaran simbolik yang bisa menimbulkan salah tafsir. Warganet di tanah air pun segera bereaksi. Banyak yang marah, kecewa, bahkan mempertanyakan posisi Prabowo terhadap Palestina. Di media sosial, cemooh datang bertubi-tubi: mengapa Indonesia, negara yang sejak dulu berdiri paling depan membela Palestina, kini seolah masuk barisan Israel?

Yang lebih menarik, billboard itu juga memperlihatkan bagaimana politik internasional hari ini tak hanya terjadi di ruang diplomasi, tapi juga di ruang publik global yang serba visual. Citra bisa lebih tajam daripada teks, dan persepsi sering kali lebih menentukan daripada fakta. Ketika wajah Prabowo ditempel di Tel Aviv, ia bukan hanya menjadi bagian dari iklan politik, tapi juga pion dalam permainan opini internasional yang sengaja diarahkan untuk menguji kesetiaan Indonesia pada Palestina.

Namun, di balik semua itu, perlu kita tarik napas sejenak. Apakah benar Indonesia mendukung rencana Trump? Jika kita baca laporan lengkap, yang ada hanyalah pernyataan diplomatis yang sangat generik: mengapresiasi “upaya tulus” untuk mengakhiri perang. Kalimat klise yang bisa diucapkan kepada siapa saja, dari Trump hingga sekretaris jenderal PBB. Tidak ada endorsement spesifik, apalagi janji mengikat. Tetapi billboard membuatnya tampak seolah dukungan mutlak telah diberikan.

Ini mirip dengan kejadian sehari-hari: seorang tetangga menyanjung masakan orang lain dengan berkata “wah, enak juga ya,” lalu tiba-tiba dipajang di spanduk warung sebagai “tetangga sebelah mengaku: masakan terenak di kampung ini.” Tentu saja absurd, tetapi di mata orang banyak, spanduk itu lebih kuat daripada klarifikasi mulut ke mulut. Billboard di Tel Aviv bekerja dengan logika serupa: mengunci persepsi publik sebelum fakta sempat diberi ruang.

Di sinilah bahayanya. Publik Indonesia yang sudah sensitif dengan isu Palestina mudah sekali terpicu. Nama Prabowo pun langsung digiring ke ruang kecurigaan: apakah ia diam-diam bersahabat dengan Israel? Apakah ia lebih dekat dengan agenda Trump ketimbang amanat konstitusi Indonesia yang jelas menolak penjajahan? Pertanyaan-pertanyaan itu membanjiri ruang publik, meskipun faktanya tak sesederhana itu. Billboard, dengan segala kesederhanaan visualnya, berhasil menanamkan keraguan lebih cepat daripada rilis diplomatik bisa menjelaskan.

Ironi semakin kentara ketika kita ingat bahwa politik luar negeri Indonesia selalu menekankan prinsip bebas aktif. Bebas, artinya tidak berpihak buta pada satu kekuatan besar. Aktif, artinya ikut mendorong terciptanya perdamaian. Namun dengan satu gambar di Tel Aviv, Indonesia ditarik masuk ke narasi yang tak dirancangnya. Bebas aktif pun terasa diganti dengan “ikut-ikutan” dan “diamankan dalam frame propaganda orang lain”.

Kita semua tahu, perang di Gaza bukan hanya soal roket dan gencatan senjata, melainkan juga soal narasi siapa yang berhak dibilang pembawa damai. Trump, dengan 20 poin rencananya, mencoba memposisikan diri sebagai arsitek perdamaian. Padahal banyak poin itu lebih mirip perpanjangan status quo yang menguntungkan Israel. Ketika billboard di Tel Aviv mengklaim bahwa bahkan negara-negara besar Muslim mendukung Trump, maka rencana itu mendapat legitimasi palsu—padahal substansinya tetap problematis.

Saya tidak sedang membela Prabowo. Ia tentu punya tanggung jawab untuk menjelaskan secara terbuka posisi Indonesia agar tidak terjadi kebingungan. Tetapi yang lebih penting adalah mengingatkan publik agar tidak terjebak oleh ilusi yang diciptakan billboard. Sebab jika kita hanya terpaku pada gambar, kita akan kehilangan kemampuan membaca konteks. Politik visual memang bisa menipu, tetapi kesadaran kritis harus lebih tajam daripada tinta cat di papan reklame.

Akhirnya, billboard di Tel Aviv ini adalah cermin betapa rapuhnya persepsi publik di era serba instan. Satu gambar bisa menghapus puluhan tahun konsistensi diplomasi. Satu caption bisa mengaburkan batas antara basa-basi diplomatis dan komitmen nyata. Kita mesti membaca billboard itu bukan sebagai fakta dukungan, tetapi sebagai manuver politik yang hendak memecah, meragukan, bahkan mempermalukan Indonesia di mata rakyatnya sendiri. Dan di sinilah tugas kita: melawan ilusi dengan nalar, melawan propaganda dengan kesadaran, melawan billboard dengan ingatan kolektif akan sikap sejati bangsa ini terhadap Palestina.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer