Connect with us

Opini

Trump, Perdamaian atau Panggung Israel Semata?

Published

on

Trump berdiri di podium White House, pidato soal Israel dan Gaza

Di tengah gedung megah White House, di mana lampu kristal memantulkan bayangan ambisi dan sejarah, Donald Trump berdiri di podium dengan gaya teatrikalnya yang khas. Ia berbicara tentang “hari bersejarah,” tentang “eternal peace” di Timur Tengah, sambil menatap kamera seolah dunia menunggu satu kalimatnya untuk menyelamatkan ratusan tahun konflik. Suara gemuruh pers dan kamera yang menyorot setiap gestur menambah efek dramatis, tapi jika kita menghapus kata-kata hiperbolik itu, apa sebenarnya yang ia katakan?

Banyak yang berharap pertemuan Trump–Netanyahu akan membawa titik terang bagi Gaza dan rakyat Palestina yang telah lama menderita. Namun, yang muncul adalah narasi yang, jujur saja, lebih mirip pidato kampanye untuk Israel. Hampir setiap paragraf Trump menegaskan dukungan penuh Amerika terhadap Israel, menyoroti keberhasilan Netanyahu, dan mengulang kata-kata seperti “menyelesaikan Hamas” atau “mengamankan Israel” berulang kali. Gaza dan rakyat Palestina tampak seperti latar belakang sebuah pertunjukan, bukan pihak yang memiliki suara.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Trump menekankan pembebasan sandera sebagai fokus utama. Tentunya, kita semua setuju hak warga sipil untuk kembali ke keluarga mereka harus dihormati. Tapi pendekatannya — menuntut Hamas untuk tunduk, sementara Israel diberikan “full backing” bila Arab gagal menegakkan demiliterisasi — jelas menunjukkan bias. Rencana itu lebih seperti blueprint keamanan Israel yang dibungkus kata-kata manis “perdamaian Timur Tengah.” Ironisnya, istilah “peace” muncul ratusan kali, tetapi konteksnya tetap: keamanan Israel nomor satu, Palestina tunduk pada aturan yang ditentukan pihak luar.

Dalam pidatonya, Trump menyebut hampir semua pemimpin Arab dan Muslim mendukung rencananya. Mulai dari Raja Saudi, Emir Qatar, hingga Presiden Indonesia Prabowo. Tapi kita tahu, dukungan diplomatik semacam itu tidak selalu sama dengan persetujuan substansial. Seolah negara-negara Arab diposisikan sebagai pelaksana kebijakan Israel, bukan sebagai pihak setara yang memperjuangkan kepentingan rakyat mereka sendiri. Ini bukan diplomasi setara; ini diplomasi yang diatur dengan skenario, dan Trump menjadi sutradara utama.

Sikap Trump terhadap Hamas begitu eksplisit dan tajam. Organisasi itu digambarkan sebagai penyebab segala penderitaan, dibangun seolah mereka satu-satunya pihak yang harus disalahkan. Analogi yang sederhana: seperti memberi anak satu hukuman, tapi menutup mata terhadap kondisi rumah yang runtuh di sekelilingnya. Ia mengabaikan kompleksitas politik Palestina, aspirasi kedaulatan, dan trauma yang ditimbulkan bukan hanya oleh perang, tetapi juga oleh blokade dan ketidakadilan historis.

Ironi yang tak bisa dihindari: ia berbicara tentang perdamaian “eternal” sementara strategi yang diusulkan bergantung pada kepatuhan Hamas dan kontrol penuh Israel. Ini bukan perdamaian dua sisi; ini pax Americana versi Netanyahu. Bahkan ide “Dewan Perdamaian” yang dipimpin Trump sendiri menegaskan kecenderungan paternalistik: solusi atas konflik rakyat Palestina ditentukan oleh figur asing, bukan oleh rakyat yang terdampak langsung.

Tak hanya itu, Trump menyisipkan sindiran halus terhadap Presiden AS sebelumnya, membandingkan pencapaiannya dengan “sleepy Joe Biden” yang tidak berbuat apa-apa soal Abraham Accords. Strategi retorik ini jelas: memosisikan dirinya sebagai penyelamat Timur Tengah sekaligus membangun narasi heroik pribadi. Namun, bagi rakyat Palestina, ini tidak menambah satu pun hak atau kedaulatan. Bahkan istilah “perdamaian” terasa lebih sebagai alat politik domestik AS daripada agenda nyata untuk menghentikan penderitaan Gaza.

Ketika Trump menyinggung pembangunan infrastruktur Hamas dan terowongan, ia seolah menekankan legitimasi militer Israel dalam menghancurkan jaringan tersebut. Anehnya, ia menekankan aspek kemanusiaan saat membicarakan tubuh sandera, tapi mengabaikan konteks kemiskinan, kekerasan struktural, dan kebijakan blokade yang membentuk lingkungan itu sejak lama. Ada disonansi antara retorika kemanusiaan dan tindakan yang didukung: mengamankan Israel versus memastikan hak rakyat Palestina.

Dalam pidatonya, Netanyahu diberi spotlight: “Ini akan menjadi pencapaian puncak Anda,” kata Trump. Sementara rakyat Palestina hanya disebut sebagai pihak yang harus mengambil tanggung jawab dan mengikuti blueprint yang dibuat oleh pihak lain. Dalam istilah sehari-hari, ini seperti memberi seseorang resep masakan, tapi bahan-bahannya semua dikontrol oleh orang lain. Siapa yang bisa memasak tanpa kebebasan memilih?

Kritiknya juga harus menyoroti narasi ekonomi dan diplomasi regional. Trump menekankan kesuksesan Abraham Accords dan peluang ekonomi bagi negara-negara yang berhubungan dengan Israel. Tapi sekali lagi, Palestina tersingkir dari kesempatan ini, bukan sebagai mitra, melainkan sebagai objek kebijakan. Tidak ada insentif nyata bagi Palestina selain kepatuhan terhadap rencana yang menekankan keamanan Israel.

Jika kita merenung, pernyataan Trump ini lebih tepat disebut sebagai panggung bagi Israel. Setiap kata tentang “perdamaian” dibingkai untuk menegaskan kepentingan Israel, dan setiap kritik terhadap Hamas memperkuat justifikasi militer Israel. Retorika spektakuler itu, dengan semua hiperbola dan janji “eternal peace,” hanya menyembunyikan ketidakseimbangan kekuasaan yang nyata.

Kita semua tahu, sejarah Timur Tengah tidak bisa diselesaikan dengan pidato panjang di podium. Rakyat Palestina bukan sekadar latar drama, Gaza bukan properti untuk diatur dari jauh. Tanpa keadilan yang nyata, tanpa pengakuan kedaulatan, semua istilah “perdamaian” hanyalah retorika. Trump boleh berdiri di podium, berbicara berjam-jam, memuji diri sendiri, dan menyanjung Netanyahu, tapi bagi jutaan warga Palestina, ini tetap hari biasa yang dipenuhi ketakutan, kesedihan, dan ketidakpastian.

Akhirnya, apa yang kita saksikan adalah realitas pahit: sebuah pidato panjang yang memoles agenda Israel dengan kata-kata “perdamaian,” namun meninggalkan rakyat Palestina tanpa suara. Trump mungkin berhasil membuat headline dan membangun citra heroik di Washington, tapi bagi mereka yang hidup di Gaza, perdamaian sejati masih jauh. Dan ironisnya, itulah pesan tersirat dari pidato megah itu: panggung telah dibangun, lampu sorot menyala, tapi aktor utama—rakyat Palestina—hanya menjadi bayangan di tepi panggung.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer