Connect with us

Opini

Bayang Perang Kedua Iran–Israel Kian Menggelap

Published

on

Ilustrasi editorial meja perundingan yang retak di tengah, kertas-kertas beterbangan, dengan siluet rudal menjulang di latar belakang, menandakan kegagalan diplomasi dan ancaman perang kedua Israel–Iran.

Langit politik Timur Tengah kembali mendung. Seperti riak gelombang yang perlahan menebal sebelum badai, tanda-tanda perang kedua antara Iran dan Israel tak lagi samar. Dari mimbar Perserikatan Bangsa-Bangsa, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyampaikan peringatan yang tak bisa diabaikan: “ancaman serangan baru terhadap Iran” bukan sekadar bisik-bisik, tetapi sudah dibicarakan di tingkat praktis. Kata-kata ini seperti denting lonceng—bukan ramalan, melainkan peringatan. Dan seolah untuk menambah bobotnya, media arus utama Israel, Israel Hayom, menulis tajuk gamblang: “The second war with Iran is coming – and it will be different from the previous one.” Ironi yang pahit, ancaman diulang nyaring dari pihak yang diduga sebagai pelaku.

Ketika perundingan nuklir Iran kembali macet, pola waktunya terasa janggal. Juni lalu, serangan Israel ke Iran bertepatan dengan kebuntuan pembicaraan nuklir. Kini, kebuntuan serupa terulang, dan nada ancaman kembali mengeras. Apakah ini kebetulan? Saya rasa tidak. Ini seperti jam pasir yang di balik setiap kali diplomasi macet, memberi isyarat bahwa bom dan rudal siap menjadi “bahasa” berikutnya. Kita semua tahu, di dunia nyata, kebuntuan sering dijadikan alasan emas untuk menekan tombol pelatuk.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Iran sendiri tak tinggal diam. Dari laporan Al Mayadeen, kita mendengar nada penuh keyakinan. Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi, menegaskan kesiapan “menghadapi ancaman atau agresi apa pun dengan tegas.” Komandan IRGC, Mayor Jenderal Mohammad Pakpour, bahkan menyinggung “perang 12 hari” di bulan Juni, saat Iran meluncurkan ratusan rudal balistik—termasuk hipersonik—ke basis strategis zionis dan pangkalan udara Al-Udeid milik AS di Qatar. Klaim yang mungkin dibantah sebagian pihak, namun menunjukkan sikap percaya diri: mereka merasa telah menguji kekuatan musuh dan tidak gentar.

Ada ironi yang getir di sini. Barat, termasuk AS, terus menekan program nuklir Iran seolah tak belajar dari pengalaman Libya. Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi mengingatkan, “Disarmament hanya membawa kehancuran.” Kalimat yang terdengar seperti peringatan, atau mungkin ancaman terselubung. Jika dunia memaksa Iran untuk menanggalkan kekuatan misilnya, mereka seolah berkata: lihatlah apa yang terjadi pada negara yang menyerah pada tekanan asing.

Dari sisi Israel, nada ancaman semakin terbuka. Israel Hayom menyebut perang kedua akan “lebih sulit dan lebih kejam.” Mereka bahkan mengakui, “Jika ada satu hal yang kami pelajari – rezim Iran lebih kuat dari yang kita pikirkan.” Pernyataan ini bukan hanya prediksi; ini semacam pengakuan sekaligus pembenaran pra-serangan. Ketika musuh diakui tangguh, serangan pencegahan jadi tampak “logis” di mata publik mereka.

Mengapa semua ini terasa akrab? Karena kita pernah mendengar simfoni serupa di Irak, Suriah, bahkan Gaza. Setiap ketegangan politik dijadikan dalih, setiap kebuntuan diplomasi dijadikan dalih, setiap “ancaman eksistensial” dijadikan dalih. Dalih yang kemudian berubah menjadi serangan yang menewaskan warga sipil. Dunia menonton, menggeleng, lalu melupakan. Siklusnya berulang seperti drama murahan, hanya saja taruhannya darah dan nyawa.

Indonesia, meski jauh, tak bisa menutup mata. Kita tahu bagaimana setiap konflik di Timur Tengah memengaruhi harga minyak, menggerakkan pasar global, dan menyalakan bara politik di negeri-negeri Muslim. Kita pun pernah merasakan dampak boikot dan embargo, bahkan merasakannya di harga cabai dan BBM. Perang di Teluk bukan sekadar headline internasional; ia merembes ke dapur dan dompet kita. Maka, berpura-pura ini bukan urusan kita hanyalah sikap naif.

Jika Israel benar-benar melancarkan serangan baru, dampaknya tak terukur. Iran, dengan jaringan sekutu dan milisi di Lebanon, Suriah, hingga Yaman, bisa memicu konflik regional yang jauh lebih luas. Teluk Persia, jalur vital perdagangan minyak dunia, akan bergejolak. Harga energi akan melambung, dan kita semua—dari Jakarta hingga Johannesburg—akan ikut membayar harganya. Dalam bahasa sederhana: roti jadi mahal, listrik jadi beban, ekonomi terguncang.

Namun ada lapisan lebih dalam dari sekadar kalkulasi ekonomi. Ini soal bagaimana dunia menoleransi pola lama: satu negara merasa berhak memukul dulu, baru berdialog. Sikap ini bukan hanya memupuk kebencian, tapi juga menular. Setiap kali kita membiarkan kekerasan mendahului diplomasi, kita mengajari generasi berikutnya bahwa negosiasi hanyalah basa-basi sebelum perang. Sebuah warisan yang akan kita sesali.

Saya tak mengatakan Iran malaikat. Rezim di Teheran pun punya catatan pelanggaran hak asasi. Tapi mengabaikan hak sebuah negara untuk bertahan hanya karena kita tak suka pemerintahnya adalah kemunafikan. Ketika Lavrov menyebut ancaman serangan sudah dibicarakan “secara praktis,” kita harus bertanya: siapa sebenarnya provokator di sini? Apakah benar ancaman datang dari Teheran, atau justru dari mereka yang sabar menunggu alasan untuk menekan tombol?

Kita bisa saja sinis: “Ah, itu hanya retorika.” Tetapi sejarah mengajarkan, retorika seperti ini jarang berhenti di kata-kata. Ketika media besar di Israel menulis terang-terangan tentang “perang kedua,” itu lebih dari sekadar opini; itu pembentukan opini publik, pemanasan panggung. Dan publik yang sudah dipanaskan akan lebih mudah diajak mendukung serangan.

Pada akhirnya, dunia kembali di persimpangan. Mau terus menoleransi siklus lama—ancaman, serangan, penyesalan—atau berani menuntut akuntabilitas dari semua pihak, tanpa standar ganda? Kita mungkin tak bisa menghentikan misil, tapi kita bisa menolak menjadi penonton pasif. Kita bisa menuntut agar diplomasi sungguh-sungguh dijalankan, bukan sekadar alibi.

Israel boleh merasa perlu “menghentikan ancaman.” Iran boleh merasa “harus mempertahankan martabat.” Tapi kita semua tahu, ketika perang pecah, yang terbakar bukan hanya harga minyak atau ego politik, melainkan kehidupan manusia biasa. Dari Teheran hingga Tel Aviv, dari Jakarta hingga New York, nyawa yang lenyap tak bisa ditebus dengan dalih apa pun. Dan itu, saya kira, adalah kebenaran paling pahit—kebenaran yang sayangnya sering dikubur di balik headline sensasional.

Sumber:

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Iran Bongkar J Mata-mata Israel: Perang Masih Berlanjut

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer