Opini
Ultimatum Gaza: Menyerah, Membelot, atau Mati Perlahan
Kala malam di tepi laut Gaza, angin asin bercampur bau asap bangunan yang baru saja runtuh. Di balik debu dan serpihan kaca, sebuah keluarga memeluk anak-anaknya yang masih gemetar, menolak tawaran yang datang lewat telepon: bekerja sama dengan penjajah atau rumahmu jadi puing. Ini bukan adegan film distopia; ini potret nyata yang dilaporkan Asharq al-Awsat. Ironi terasa menyesakkan: negeri yang mengklaim diri demokratis justru menodai setiap norma kemanusiaan dengan metode yang lebih mirip premanisme negara.
Saya rasa kita semua paham, ultimatum semacam ini bukan sekadar ancaman. Ia adalah perintah halus untuk “menyerah atau mati”. Ketika Shin Bet mendekati keluarga Bakr dan Dughmush—dua klan besar di Gaza—mereka menawarkan pilihan yang sama-sama pahit: pecah belah komunitasmu demi kami, atau lihat rumahmu rata dengan tanah. Keluarga Bakr menolak. Hasilnya? Serangan udara yang menewaskan enam orang, melukai sebelas, dan meninggalkan anak-anak dengan trauma yang tak akan hilang hanya karena ganti genteng baru. Di Sabra, lebih tragis lagi, tiga puluh anggota keluarga Dughmush tewas setelah menolak perintah serupa. Apakah ini diplomasi? Ini pemerasan berkedok perang.
Israel, lewat Shin Bet, disebut-sebut ingin membangun tata pemerintahan klan di Gaza, memecah masyarakat menjadi kantong-kantong yang saling curiga. Strategi klasik kolonial: divide et impera. Tapi abad 21 menuntut cara lebih halus, maka ancaman bom dan kelaparan pun disamarkan sebagai “penawaran”. Euro-Med Human Rights Monitor menyebutnya pemaksaan sistematis, meruntuhkan jalinan sosial, memaksa orang untuk mengkhianati darah dagingnya sendiri demi sepotong roti. Bayangkan jika hal itu terjadi di kampung kita: tetangga tiba-tiba jadi mata-mata, saudara berubah jadi penjaga pos musuh. Kita mungkin akan marah, atau mungkin hanya bisa terdiam dalam ketakutan.
Di Indonesia, kita kenal cerita tentang penjajah yang dulu menanamkan politik pecah belah. Penjajah Belanda pernah memainkan trik serupa: mengadu kaum bangsawan, membiayai priyayi tertentu, membuat rakyat kehilangan satu suara. Kini, sejarah seolah diputar ulang di jalur yang lebih kejam, lengkap dengan teknologi canggih dan drone yang tak kenal jam tidur. Bedanya, kali ini dunia menonton lewat ponsel, memberi tanda suka di media sosial sambil menyeru “damai” dari kejauhan. Ironi yang membuat kita menggertakkan gigi.
Yang lebih menyesakkan adalah kabar tentang milisi lokal yang rela membelot. Ada kelompok Rafah yang dipimpin Yasser Abu Shabab, bahkan dilaporkan terkait ISIS dan Fatah, yang kini beroperasi dengan restu Tel Aviv. Ada pula eks perwira Otoritas Palestina, Hossam al-Astal, yang konon merekrut anggota dan mempromosikan “perdamaian” dengan penjajah. Perdamaian macam apa? Perdamaian yang lahir dari barter pengkhianatan dan butiran peluru? Kita tahu istilahnya: kolaborator. Di banyak catatan sejarah, mereka yang menukar solidaritas dengan kekuasaan sementara selalu dikenang bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai catatan kaki yang memalukan.
Israel mungkin berharap, dengan menciptakan pemerintahan berbasis klan, Hamas akan melemah dan Gaza jadi lebih mudah dikendalikan. Tapi mari jujur: apakah menciptakan kantong-kantong milisi bayaran akan membawa keamanan? Atau justru menciptakan konflik horizontal yang tak berujung, perang saudara mini yang menguntungkan satu pihak saja? Pengalaman global menunjukkan, milisi yang lahir dari uang dan paksaan lebih sering menjadi sumber kekacauan jangka panjang. Lihat saja kasus-kasus pascaperang di Afrika atau Amerika Latin—senjata tak mudah dikembalikan, dendam tak mudah dipadamkan.
Kita semua tahu, rakyat Gaza tak hanya melawan Israel. Mereka melawan kelaparan, ketiadaan listrik, kekurangan air bersih, dan pengabaian dunia internasional. Lalu datang tawaran busuk: kerja sama atau kelaparan. Sebuah “perdamaian” yang menuntut penghianatan pada keluarga sendiri. Ini bukan lagi sekadar politik, ini ancaman eksistensial. Bahkan orang paling apatis pun akan merasakan bara amarah jika dihadapkan pada pilihan sesempit itu.
Yang membuat hati kian panas, dunia seolah terjebak dalam rutinitas: pernyataan PBB yang lembut, kecaman dari beberapa negara, lalu diam. Kita di Indonesia mungkin hanya bisa menulis status, menyalakan doa, atau mengirim donasi. Tapi setidaknya kita tidak boleh menormalisasi kejahatan yang dibungkus retorika “keamanan”. Membelot demi selamat hari ini mungkin terasa praktis, namun ia menanam racun bagi generasi esok. Dalam konteks inilah kritik terhadap para kolaborator menjadi penting. Bukan semata karena mereka memilih jalan berbeda, tetapi karena pilihan itu menjerumuskan banyak orang ke lingkar kekerasan yang lebih dalam.
Israel mengklaim membela diri, namun cara yang dipilih—jika laporan ini benar—hanya menegaskan sifat pendudukan yang tak pernah berubah: menaklukkan bukan hanya wilayah, tetapi juga jiwa-jiwa manusia. Upaya memecah belah keluarga Bakr, Dughmush, dan yang lain adalah bukti bahwa perang ini bukan lagi soal militer, melainkan perang melawan identitas, warisan, dan martabat. Satu peluru bisa merobohkan tubuh, tapi satu pengkhianatan bisa menghancurkan bangsa.
Saya teringat pepatah lama: “Yang dijual murah akan dibeli lebih murah.” Mereka yang sekarang menukar solidaritas demi sedikit rasa aman mungkin akan mendapati bahwa “jaminan” dari Tel Aviv tak seindah brosur. Sejarah menunjukkan, kolaborator jarang mendapat tempat terhormat, bahkan dari pihak yang mereka layani. Ketika semua debu mereda, mereka hanya menjadi alat sekali pakai. Dan kita tahu bagaimana nasib alat yang selesai dipakai.
Pada akhirnya, kisah Gaza bukan hanya milik Gaza. Ia cermin bagi kita semua—tentang bagaimana kekuasaan bisa memaksa manusia membuat pilihan yang tak seharusnya ada. Tentang bagaimana komunitas bisa bertahan hanya jika kesetiaan pada nilai kemanusiaan lebih kuat dari ketakutan. Maka, ketika kita membaca laporan ini, jangan hanya marah. Jadikan ia peringatan: bahwa keteguhan hati, bahkan dalam gelap gulita, tetap menjadi senjata paling terang melawan penjajahan dalam bentuk apa pun.

Pingback: Flotilla Gaza dan Jurang Elit-Rakyat Dunia