Opini
UEA Merangkul Netanyahu, Menggugat Hati Dunia Arab
Bayangkan ruang sidang PBB yang riuh menahan geram. Satu per satu delegasi bangkit, kursi-kursi kosong menjadi pernyataan lantang: penolakan pada agresi yang masih menelan nyawa di Gaza. Lalu bayangkan satu sosok yang tetap duduk, menanti, bahkan melangkah lebih jauh—menggelar karpet pertemuan untuk Benjamin Netanyahu. Di tengah isolasi yang dipahatkan banyak negara, Uni Emirat Arab (UEA) justru memutuskan membuka pintu. Ironi yang terlalu telanjang untuk ditutupi diplomasi.
Saya rasa kita semua tahu, langkah ini bukan sekadar protokol. Ini simbol. Saat darah Gaza masih basah di tanah, Sheikh Abdullah bin Zayed memilih menyalami perdana menteri yang berkali-kali menegaskan operasi militer tak akan berhenti. Pertemuan itu digambarkan sebagai “langkah berani” untuk mendorong perdamaian. Berani? Lebih terasa seperti menepuk pundak pelaku di tengah kobaran api, sembari berkata: ayo kita bicara bisnis.
UEA berdalih soal solusi dua negara. Mereka menegaskan kembali komitmen pada gencatan senjata permanen, dukungan pada pembebasan sandera, dan penolakan aneksasi Tepi Barat. Semua kata yang indah di atas kertas. Tapi mari kita jujur: janji-janji ini terdengar seperti klise yang dipoles, seperti kue kering yang indah namun rapuh. Di lapangan, permukiman ilegal Israel tetap tumbuh. Di Gaza, serangan tak kunjung reda. Apa arti menutup “file aneksasi” jika buldoser tetap bekerja?
Lihatlah kontrasnya. Inggris, Australia, Prancis, Kanada, Portugal, dan sederet negara lain baru saja mengakui negara Palestina. Delegasi PBB berjalan keluar sebagai tanda protes. Dunia mencoba mengucilkan Netanyahu, atau setidaknya mengirim pesan bahwa kesabaran habis. UEA? Mereka melangkah ke arah sebaliknya. Sebuah tamparan untuk solidaritas Arab yang pernah menjadi kebanggaan. Apakah kita harus pura-pura lupa bahwa selama puluhan tahun, dukungan pada Palestina adalah perekat kawasan?
Kita di Indonesia paham betul arti solidaritas. Dari gerakan rakyat yang menggalang dana hingga doa yang tak pernah putus, dukungan pada Palestina menjadi bahasa bersama. Maka, ketika mendengar UEA malah menggelar pertemuan hangat, rasanya seperti menyaksikan tetangga lama yang dulu satu suara kini memilih berpesta dengan pihak yang menindas. Ada rasa getir yang sulit dijelaskan.
UEA tentu akan berdalih: mereka butuh jalur komunikasi, ingin memediasi, ingin memengaruhi dari dalam. Realpolitik, kata mereka. Tapi ada batas tipis antara diplomasi dan kolusi. Ketika Netanyahu terang-terangan menolak berhenti, ketika Gaza masih menjadi kuburan terbuka, duduk semeja dengannya lebih terlihat sebagai restu terselubung ketimbang tekanan moral.
Ironi semakin pekat dengan pernyataan Donald Trump yang, entah demi panggung politik atau ambisi kembali ke Gedung Putih, menyatakan tidak akan mengizinkan Israel menganeksasi Tepi Barat. Seolah-olah dunia butuh juru selamat semu dari Washington. UEA tampak menumpang gelombang itu: menegaskan bahwa “file aneksasi ditutup,” seakan itu kemenangan. Padahal, siapa yang mengawasi di balik kata-kata?
Dalam kacamata satir, ini seperti menonton pedagang yang sibuk menata etalase toko sambil pura-pura tidak mendengar ledakan di luar. Kata-kata “perdamaian” dan “solusi dua negara” menjadi hiasan etalase, sementara di jalan, debu dan darah tak berhenti berterbangan. UEA mungkin mengira mereka sedang memainkan catur tingkat tinggi. Tapi yang tampak justru seperti permainan monopoli—mempertahankan lahan bisnis, investasi, dan akses teknologi.
Kita pun harus jujur pada diri sendiri: dunia Arab tak lagi solid. Abraham Accords membuka jalan normalisasi, dan UEA adalah pion paling menonjol. Pertemuan di New York hanyalah kelanjutan dari pola yang sama: ekonomi di atas emosi, kesepakatan dagang di atas solidaritas. Ketika banyak negara Arab memilih walkout, UEA menolak. Apakah itu “kebijakan luar negeri independen” atau sekadar keinginan menjadi favorit di mata Washington?
Saya tak menolak diplomasi. Jalur komunikasi memang penting. Tetapi timing adalah segalanya. Menemui Netanyahu di tengah serangan Gaza ibarat menyiram bensin pada api kepercayaan publik Arab. Jika tujuan mereka benar-benar menekan gencatan senjata, mengapa tak menunggu jeda? Mengapa tidak menuntut syarat keras sebelum duduk bersama?
Lebih pahit lagi, pertemuan ini memberi Netanyahu peluang untuk menunjukkan bahwa dia tidak terisolasi. Bahwa masih ada mitra Arab yang mau mendengarkan. Sementara dunia berusaha memojokkannya, UEA justru menjadi pintu belakang yang terbuka. Netanyahu pasti tersenyum. Dan senyum itu adalah ironi yang sulit kita telan.
Di balik semua ini, jangan lupakan tekanan opini publik di dunia Arab sendiri. Survei di kawasan menunjukkan mayoritas warga menolak normalisasi dengan Israel, terlebih di tengah gempuran militer ke Gaza. Namun, elit politik UEA tampaknya lebih sibuk menjaga portofolio investasi dan akses teknologi pertahanan ketimbang mendengar suara jalanan. Ada jarak yang kian melebar antara rakyat yang marah dan penguasa yang mengejar “stabilitas” versi mereka sendiri. Jarak itulah yang suatu hari bisa menjadi bumerang, ketika kemarahan berubah menjadi gelombang protes yang tak lagi bisa dibungkam dengan kata “diplomasi.”
Lagi pula, jika benar tujuannya adalah menekan gencatan senjata, mengapa tidak memanfaatkan momentum solidaritas global yang sedang menguat? Bayangkan dampak yang bisa terjadi bila UEA bergandengan tangan dengan negara-negara yang baru saja mengakui Palestina, menyalakan tekanan kolektif yang lebih keras terhadap Israel. Alih-alih memperkuat arus besar itu, UEA memilih jalur menyendiri, seolah percaya bahwa kesepakatan tertutup di lorong hotel New York lebih manjur daripada kekuatan solidaritas publik yang sedang mendidih. Pilihan ini bukan hanya membingungkan; ia menegaskan bahwa kalkulasi politik lebih penting daripada denyut kemanusiaan.
Di Jakarta atau Surabaya, kita paham perasaan dikhianati. Bayangkan jika sahabat dekat yang selama ini berdiri di sisi kita tiba-tiba bersalaman dengan orang yang menindas keluarga kita. Rasanya? Perih. Itulah yang kini dirasakan banyak orang di Gaza, di Ramallah, di seluruh dunia yang peduli pada Palestina.
Saya percaya, sejarah akan menilai langkah ini. Di masa depan, mungkin anak-anak Palestina akan membaca tentang pertemuan di New York itu dan bertanya: mengapa UEA memilih hari itu, saat darah kami masih hangat? Dan kita hanya bisa menunduk, karena jawaban yang jujur terlalu menyakitkan.
UEA boleh saja menulis ulang narasi, menyebut pertemuan itu sebagai “langkah perdamaian.” Tapi dunia melihat lebih dalam. Kita melihat kontras, ironi, dan pengkhianatan. Kata-kata indah tak mampu menutupi kenyataan bahwa ketika Gaza berteriak, UEA memilih bisik-bisik dengan Netanyahu. Dan itulah, saya rasa, tragedi politik yang paling telanjang: saat solidaritas digadai untuk segenggam pengaruh dan kepentingan.

Pingback: Koalisi UEA-AS-Israel Targetkan Ansarullah Yaman