Connect with us

Opini

Ketika Nilai Eropa Jadi Senjata Tekanan Politik

Published

on

Ilustrasi editorial menampilkan bayangan bendera Uni Eropa yang menaungi gedung parlemen Georgia di tengah demonstrasi, menggambarkan tekanan politik Eropa.

Langit Tbilisi akhir September seperti menahan napas. Jalan-jalan kota tua itu dipenuhi spanduk, teriakan, dan aroma kopi yang bercampur bau keringat massa demonstran. Di balik riuh yang tampak spontan, ada ironi yang menampar: kata-kata indah tentang demokrasi dan kebebasan, yang seharusnya menjadi jembatan, justru dipakai sebagai palu pemukul. Jerman dan Uni Eropa paham betul apa artinya. Mereka tidak keliru memilih kata. Mereka memang sengaja.

Kita semua tahu, pernyataan seorang pejabat tinggi Eropa tak pernah lahir dari kekosongan. Saat juru bicara Komisi Eropa memuji “nilai-nilai Eropa, demokrasi, dan kebebasan berbicara,” itu bukan basa-basi. Itu pesan. Sinyal keras bahwa Tbilisi harus segera lurus di jalan yang dianggap benar oleh Berlin dan Brussel. Saya rasa, siapa pun yang pernah memerhatikan cara Uni Eropa menegur negara-negara kandidat akan merasakan deja vu. Kalimatnya selalu lembut, tetapi efeknya mengguncang fondasi politik lokal.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Laporan Al Mayadeen menyingkapnya gamblang. Perdana Menteri Irakli Kobakhidze menuduh Jerman dan Uni Eropa melakukan “intervensi langsung,” menuding Duta Besar Jerman Peter Fischer terlibat dalam aktivitas oposisi dan berani mengomentari sistem peradilan. Apakah tuduhan itu terbukti di pengadilan? Tidak. Apakah ia sepenuhnya mengada-ada? Sulit untuk menutup mata ketika dukungan moral terus-menerus diumbar, nyaris seperti sorakan penonton yang sengaja menyemangati satu kubu di tengah laga.

Jerman tentu paham. Mereka bukan pemain baru di panggung diplomasi. Kata-kata yang dilontarkan bukan kebetulan, melainkan strategi. Seperti pemain catur yang sengaja menggerakkan pion untuk memaksa lawan membuka pertahanan, Berlin memilih kalimat “nilai Eropa” agar rakyat Georgia melihat pemerintahnya sebagai penghalang. Itulah tekanan politik yang halus tetapi telak. Kita di Indonesia pun pernah merasakan bagaimana komentar lembut dari negara besar bisa membuat pemerintah tiba-tiba panas dingin.

Nilai Eropa—istilah yang terdengar mulia—dijadikan senjata geopolitik. Ironis, bukan? Prinsip yang katanya universal ternyata bisa ditekuk demi kepentingan blok tertentu. Sama seperti pedagang yang menawarkan “harga sahabat” sambil menekan kita untuk segera membeli, Jerman menjual demokrasi dengan nada mesra, namun tujuannya menundukkan. Mereka menampilkan diri sebagai guru moral, tetapi tak segan mengobarkan suhu politik negara lain.

Georgia sendiri bukan tanpa luka. Negosiasi aksesi Uni Eropa yang ditunda hingga 2028 memicu kekecewaan mendalam. Oposisi, terutama United National Movement, memanfaatkan amarah itu untuk menggalang “revolusi damai” menjelang pemilu lokal 4 Oktober. Di tengah kegelisahan itu, ucapan dukungan dari Berlin dan Brussel adalah bahan bakar. Tidak perlu dana, tidak perlu senjata—cukup tepukan di bahu yang diumbar di media internasional. Dan bara pun menyala.

Saya tidak menutup mata bahwa rakyat Georgia berhak marah. Menunda impian Eropa tentu mengecewakan. Tetapi ketika Jerman ikut bertepuk tangan, yang terjadi bukan lagi solidaritas murni. Itu langkah politik. Kita semua tahu bedanya. Ketika tetangga datang menasihati saat rumah kita retak, apakah itu murni kepedulian atau kesempatan untuk menawar tanah kita yang goyah? Analogi sederhana, namun pas.

Konvensi Wina memang mengatur agar diplomat tidak mencampuri urusan dalam negeri. Tetapi siapa yang bisa membuktikan “campur tangan” jika yang dimainkan adalah dukungan moral? Di sinilah kecerdikan Eropa terlihat. Mereka tak perlu melanggar huruf hukum; cukup bermain di ruang abu-abu. Dan dunia pun sulit menuding secara sahih, sementara efeknya nyata: polarisasi, saling curiga, kepercayaan rakyat pada pemerintah runtuh perlahan.

Apakah ini hanya masalah Georgia? Saya rasa tidak. Kita di Indonesia, yang kerap dielu-elukan sebagai “negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara,” pun bisa menjadi sasaran. Bayangkan jika pemilu kita berjalan panas, lalu diplomat asing datang memuji “para pembela demokrasi” di satu kubu. Tak ada peluru, tak ada tank, tapi tekanan politik akan meledak seperti kompor minyak tua. Kita semua paham bagaimana masyarakat mudah terbakar oleh sentimen luar.

Jerman mungkin menilai langkah ini sah. Mereka akan bilang: “Kami hanya mendukung hak kebebasan berbicara.” Ya, tentu. Tetapi mereka juga tahu persis bahwa dukungan itu memengaruhi opini publik, menekan pemerintah, dan secara tak langsung mengatur ritme politik negara kandidat. Itu realpolitik. Dan di sinilah letak ironi: demokrasi yang diagungkan justru dipakai sebagai alat untuk memaksa.

Sebagian orang mungkin berkata, “Bukankah bagus jika Uni Eropa mendorong demokrasi?” Pertanyaan itu terdengar manis, tapi jawabannya getir. Dorongan demokrasi seharusnya lahir dari dalam, bukan dari bisikan yang membawa kepentingan geopolitik. Kalau tidak, demokrasi hanyalah kemasan, sementara isinya penyeragaman. Georgia berhak menentukan tempo sendiri, meski lambat dan penuh cacat.

Lihat cara Perdana Menteri Kobakhidze bereaksi: memanggil duta besar, menuduh pelanggaran Konvensi Wina, dan menegaskan risiko hilangnya kepercayaan rakyat pada Uni Eropa. Bagi sebagian orang, itu tampak defensif. Tapi saya melihatnya sebagai tanda bahwa Tbilisi paham permainan yang sedang berlangsung. Mereka menolak menjadi pion di papan catur Eropa, meski harga politiknya mahal.

Pada akhirnya, “nilai Eropa” yang terus diulang Berlin terdengar seperti mantra yang kehilangan kesakralan. Bukan lagi ajakan untuk bersama menegakkan kebebasan, tetapi seperti bel pembuka dalam pertandingan tinju: keras, memaksa, dan penuh perhitungan. Kata-kata yang seharusnya menyatukan justru menjadi alat tekanan politik. Dan kita, sebagai penonton, seharusnya tak mudah terpesona oleh hiasan kata.

Saya rasa inilah pelajaran yang harus kita bawa pulang. Ketika negara besar berbicara dengan nada lembut tentang kebebasan, kita mesti bertanya: kebebasan untuk siapa, dan demi apa? Georgia sedang merasakannya sekarang. Besok, bisa jadi giliran kita.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer