Connect with us

Opini

Suriah di Bawah Al-Sharaa: Janji Inklusivitas yang Tenggelam dalam Darah Sektarian

Published

on

Ilustrasi editorial bergaya dramatis menampilkan kota Hama yang dilanda perang dengan langit kelabu penuh asap, rumah-rumah terbakar, militan bersenjata menjarah, dan warga sipil melarikan diri. Di latar belakang, bendera Suriah versi Baath—garis merah-putih-hitam dengan dua bintang hijau—terlihat sobek di antara puing. Siluet seorang politisi berjas di panggung PBB melempar bayangan sosok militan, melambangkan janji inklusivitas yang gagal.

Di bawah langit Hama yang kelabu, asap membubung dari rumah-rumah yang dibakar. Di Hourat Amourin, militan bersenjata menjarah mobil dan motor, menembaki dinding-dinding yang menyimpan kenangan keluarga. Di Nahr al-Bared, toko-toko dirampok, dan jeritan warga tenggelam dalam deru senapan. Ini bukan pemandangan dari film perang, melainkan Suriah 2025, di bawah pemerintahan transisi Ahmad al-Sharaa—sosok yang menjanjikan persatuan, tapi kini menyaksikan negaranya terbakar oleh kebencian sektarian. Ironi yang pahit: revolusi yang menggulingkan tirani malah membuka pintu bagi kekacauan baru. Saya rasa, kita semua tahu, ketika kekerasan sektarian merajalela—seperti laporan Al Mayadeen tentang 38 wanita dan gadis Alawit yang diculik, atau 396-1.500 nyawa melayang dalam pembantaian Maret—janji inklusivitas hanyalah topeng yang rapuh.

Bayangkan sebuah pasar di Damaskus, tempat pedagang Kristen dan Sunni pernah saling sapa, kini sepi karena bom bunuh diri di Gereja Mar Elias pada Juni 2025 menewaskan 30 jiwa. Bayangkan Sweida, tanah Druze yang damai, berubah jadi medan perang dengan 1.600 korban, termasuk 539 sipil, dalam bentrokan Juli yang berdarah. Ini bukan sekadar angka, ini wajah-wajah manusia—ibu, anak, tetangga—yang dihancurkan oleh kebencian yang seharusnya sudah terkubur bersama runtuhnya rezim lama. Al-Sharaa, mantan pimpinan Hay’at Tahrir al-Sham (HTS), berdiri di panggung dunia, berpidato di UN General Assembly, memproklamasikan “Suriah untuk semua.” Tapi, di lapangan, kata-katanya bagai angin: indah, tapi tak mampu memadamkan api sektarian yang membakar Hama, Latakia, dan Sweida. Kita harus bertanya, dengan nada getir: apakah ini visi pemimpin revolusi, atau sekadar sandiwara seorang mantan jihadis yang kini mengenakan jas?

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Mari kita telisik lebih dalam, tanpa tedeng aling-aling. Al-Sharaa menjanjikan inklusivitas, menunjuk Yarub Badr, seorang Alawit, sebagai Menteri Transportasi, dan Hind Kabawat, seorang Kristen, sebagai Menteri Urusan Sosial. Konstitusi Sementara 2025 yang ditandatanganinya berbunyi manis, menjamin hak minoritas. Tapi, coba lihat realitasnya: properti Alawit disita, desa-desa mereka dibakar, dan 38 wanita serta anak perempuan diculik di Hama, Latakia, Tartous, dan Damaskus sejak awal 2025. Paulo Pinheiro dari PBB, dalam laporannya September lalu, tak ragu menyebut situasi ini “mengerikan”—pembunuhan dan penahanan sewenang-wenang terus berlanjut, tanpa satu pun pelaku diadili. Inklusivitas? Ini lebih mirip permainan kosmetik, seperti mengecat rumah yang sudah roboh agar tampak utuh dari kejauhan.

Saya tak bisa menahan sindiran: al-Sharaa, yang dulu dikenal sebagai Abu Mohammed al-Jolani, pemimpin kelompok berakar Al-Qaeda, kini berusaha jadi wajah moderasi. Dia bertemu Macron, Trump, dan Erdogan, berbicara soal rekonstruksi dan dialog nasional. Tapi, di tanah Suriah, milisi HTS—basis kekuatannya—malah jadi algojo. Divisi Sultan Murad, misalnya, dituduh SOHR terlibat dalam pembantaian Alawit di Hama dan Latakia, serta eksekusi 429 Druze di Sweida. Al-Sharaa mengutuk kekerasan ini, tapi kata-katanya kosong. Tidak ada pengadilan, tidak ada hukuman. Seperti petani yang menanam benih di tanah  tanah gersang, ia tahu hasilnya nol, tapi tetap menyirami harapan. Bukankah ini absurd? Seorang presiden yang tak mampu mengendalikan pasukannya sendiri, namun bermimpi menyatukan sebuah bangsa.

Kekerasan sektarian ini bukan sekadar kegagalan keamanan; ini adalah noda pada visi al-Sharaa. Ideologi takfiri, yang mengkafirkan non-Sunni, masih menghantui sebagian milisi HTS. Fatwa kuno Ibn Taymiyyah, yang membenarkan kekerasan terhadap “murtad,” mengalir di nadi mereka, seperti racun yang tak kunjung hilang. Serangan di Gereja Mar Elias oleh Saraya Ansar al-Sunnah—bukan ISIS, seperti tuduhan awal—adalah bukti nyata. Tapi al-Sharaa? Ia hanya mengecam, lalu diam. Saya rasa, kita semua merasakan getirnya: seorang pemimpin yang bergantung pada monster yang ia ciptakan, tak mampu menjinakkannya.

Bayangkan dirimu seorang warga Sweida, seorang Druze, yang menyaksikan 196 kerabatmu dieksekusi secara brutal di depan rumah. Atau seorang Kristen di Damaskus, yang kini takut ke gereja karena bom bisa meledak kapan saja. Ini bukan sekadar statistik—1.600 tewas di Sweida, 30 di Mar Elias, ratusan di Hama. Ini adalah kehidupan yang direnggut oleh kebencian yang seharusnya dihentikan oleh pemerintahan transisi. Al-Sharaa berjanji investigasi, tapi hingga September 2025, menurut Amnesty International, tidak ada satu pun pelaku yang diadili. Dialog nasional yang dijanjikannya berulang kali ditunda—terakhir Agustus lalu. Apa ini? Ketidakmampuan, atau ketidakpedulian? Saya curiga, ini adalah tarian politik: langkah megah di panggung dunia, tapi di kampung halaman, rakyat berdarah.

Jangan salah paham—al-Sharaa mungkin bukan monster. Ia manusia, penuh kontradiksi. Ia mencoba menjahit Suriah yang robek dengan benang yang rapuh: kabinet beragam, MoU dengan investor, pidato di New York. Tapi benang itu putus di bawah beban kebencian sektarian. Milisinya tak terkendali, seperti anjing liar yang dulu ia latih. PBB melaporkan pengusiran massal Alawit, properti mereka dirampas, dan al-Sharaa hanya menawarkan kata-kata. Ini seperti dokter yang mendiagnosis penyakit, tapi tak memberi obat. Kita tahu, janji tanpa tindakan hanyalah debu di angin.

Lebih buruk lagi, kegagalan ini mengancam masa depan Suriah. Satu juta pengungsi, infrastruktur hancur, dan komunitas minoritas kini membentuk milisi sendiri—Druze di Sweida, Alawit di Latakia. Ini bukan lagi negara, tapi mozaik pecahan kaca yang saling menusuk. Jika al-Sharaa tak bertindak, Suriah bisa jadi seperti Irak pasca-Saddam: terpecah dalam enklave berdarah. Ia diakui Time 100 sebagai pemimpin berpengaruh, tapi pengaruhnya di rumah sendiri bagai bayangan—ada, tapi tak nyata.

Apa yang bisa dilakukan? Pertama, ia harus membubarkan milisi radikal seperti Sultan Murad, bukan sekadar mengecam. Kedua, pengadilan HAM independen, dengan pengawasan PBB, harus dibentuk untuk menghukum pelaku—tak peduli afiliasinya. Ketiga, dialog nasional harus digelar, bukan ditunda, dengan pemimpin Alawit, Kristen, dan Druze yang benar-benar mewakili rakyat, bukan boneka politik. Terakhir, ia harus melawan racun takfiri dengan pendidikan anti-sektarian, bekerja sama dengan ulama moderat. Dan dunia? UE dan AS harus berhenti ragu, menyuntikkan dana untuk perlindungan minoritas, bukan sekadar tepuk tangan untuk pidato al-Sharaa.

Saya menulis ini dengan rasa muak yang terkendali. Suriah bukan sekadar berita; ini adalah cermin kemanusiaan kita. Al-Sharaa berdiri di persimpangan: jadi penyelamat, atau biarkan negaranya tenggelam dalam darah. Saya ingin percaya ia bisa, tapi jantung saya berkata lain. Kekerasan sektarian ini adalah pengkhianatan terhadap revolusi—dan jika ia tak bertindak, sejarah akan mencatatnya bukan sebagai pemimpin, melainkan sebagai aktor dalam tragedi yang kita semua saksikan dengan napas tertahan.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Jejak Jihad di Tubuh Negara Baru Suriah - vichara.id

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer