Connect with us

Opini

Reformasi atau Runtuh: Ujian Nyali Uni Eropa

Published

on

Ilustrasi editorial menampilkan bendera Uni Eropa yang robek berkibar di langit mendung, dengan gedung Parlemen Eropa retak samar dan sosok siluet menyerupai Viktor Orban berdiri menatapnya.

Hujan gerimis di Brussel tak pernah benar-benar reda, seperti ritme kebijakan yang selalu tertinggal selangkah di belakang krisis. Dari inflasi energi pascaperang Ukraina hingga kebijakan migrasi yang jadi bola panas, Uni Eropa berdiri dengan wajah yang selalu serius namun penuh keraguan. Di tengah kegaduhan itulah Viktor Orban, perdana menteri Hungaria, berulang kali menabuh genderang kiamat: Uni Eropa akan bubar, katanya, persis seperti Kekaisaran Romawi yang terus mengaku berkuasa padahal tak lagi punya wilayah nyata. Pernyataan yang terdengar berlebihan, tetapi siapa yang bisa menampik kalau Eropa memang sedang limbung? Kita semua tahu, alarm itu setidaknya membuat jantung berdebar, meski kita curiga sebagian dentumannya adalah panggung politik.

Saya rasa absurditasnya justru di sini: Uni Eropa bukan kekaisaran yang lahir dari perang dan pedang, melainkan dari traktat dan birokrasi. Namun retorika Orban menancap karena menyentuh sisi paling rapuh dari blok 27 negara ini—kesatuan yang sering terasa seperti pernikahan lama: tetap bersama karena terlalu rumit untuk bercerai. Seperti GPS yang berputar-putar mencari sinyal, Brussel kerap terlihat ragu menentukan arah. Sanksi terhadap Rusia? Kompromi panjang. Migrasi? Pertengkaran tak berkesudahan. Transisi hijau? Indah di kertas, mahal di lapangan. Ironi yang membuat rakyat Eropa, bahkan kita di Asia, menggeleng kepala.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi đź’›

Orban menyebut Uni Eropa kekurangan “kapasitas untuk pembaruan”. Dan di titik ini, sindiran itu sukar disangkal. Buktinya ada di meja makan keluarga-keluarga Eropa: harga energi yang meroket, ketidakpastian kerja, hingga migran yang dipingpong antarnegara. Sementara itu, mesin birokrasi di Brussel terus berdebat soal kuorum dan prosedur. Bagi Orban, itu bukti nyata bahwa blok ini seperti rumah tua yang catnya terus diperbarui, tetapi pondasinya keropos. Apakah kita harus menertawakan analogi Kekaisaran Romawi? Mungkin. Namun bukankah rumah tua juga bisa runtuh diam-diam, tanpa gempa?

Namun, mari kita tidak terjebak dalam ramalan kiamat dua atau tiga tahun seperti yang diwartakan Orban. Uni Eropa memang punya cacat bawaan, tetapi ia juga punya kekuatan yang tak dimiliki banyak kawasan lain. Lihat bagaimana mereka memutus ketergantungan gas Rusia dalam hitungan bulan, sesuatu yang bahkan para pakar anggap mustahil sebelum 2022. Atau mekanisme rule of law yang mengaitkan dana dengan standar hukum, lahir sebagian karena ulah Hungaria sendiri. Inilah paradoks Eropa: lamban di permukaan, gesit saat terdesak. Seperti pejalan tua yang tampak ringkih namun tiba-tiba berlari ketika hujan deras datang.

Toh, saya tak bisa sepenuhnya menyalahkan publik yang muak. Di mata banyak warga, perubahan itu tak kasatmata. Yang terasa justru ketimpangan: utara yang makmur versus selatan yang terus bergelut dengan utang; barat yang liberal versus timur yang lebih konservatif. Ketegangan itu bukan dongeng. Di kafe-kafe Athena dan Budapest, obrolan tentang “Brussel yang jauh” jadi topik sehari-hari. Dan di sini, di Jakarta atau Cibitung, kita bisa merasakannya sebagai cermin: integrasi regional sekuat apa pun selalu diuji oleh perbedaan kepentingan, sama seperti ASEAN yang sering gamang ketika krisis Myanmar datang.

Uni Eropa sebenarnya sudah merespons, hanya saja jarang dengan teriakan heroik. Dana pemulihan pascapandemi diikat dengan syarat reformasi hukum, kebijakan energi bersama disusun, dan wacana perluasan keanggotaan dikebut agar kawasan tetap relevan. Tapi Orban tak pernah puas. Mengapa? Karena yang ia inginkan bukan sekadar efisiensi birokrasi, melainkan pergeseran ideologis: dari liberal ke konservatif, dari sentralisasi ke kedaulatan nasional. Selama Brussel tetap memegang nilai-nilai liberal, setiap langkah perbaikan akan ia sebut sia-sia. Ia tak butuh kompromi; ia butuh panggung.

Di titik ini, kita melihat permainan lama yang terus diulang. Brussel butuh Hungaria agar persatuan tak retak. Hungaria butuh Brussel untuk dana dan legitimasi. Keduanya saling menahan, seperti dua orang yang tahu perceraian akan merugikan tetapi tetap bertengkar keras di ruang tamu. Bagi Orban, menabuh genderang kiamat bukan sekadar analisis, melainkan strategi tawar-menawar. Semakin keras suaranya, semakin besar peluang konsesi yang ia peroleh. Dan publik—termasuk kita yang menonton dari jauh—kadang tanpa sadar ikut menikmati drama itu.

Namun mari kita jujur: ada sisi sehat dari semua kegaduhan ini. Kritik Orban, meski dibungkus satir kiamat, memaksa Uni Eropa bercermin. Tanpa ancaman semacam itu, mungkin Brussel akan lebih lamban lagi. Kadang alarm memang harus bising untuk membangunkan orang yang tidur nyenyak. Tetapi membingungkan ketika alarm itu berbunyi terus bahkan setelah lampu sudah dinyalakan. Di sinilah absurditas paling lucu: Orban butuh Uni Eropa yang lemah untuk menguatkan dirinya, sementara Uni Eropa butuh kritik untuk bertahan hidup.

Saya tidak percaya Uni Eropa akan runtuh dalam dua atau tiga tahun. Tapi saya juga tidak yakin mereka bisa terus berjalan tanpa reformasi lebih dalam. Dunia sedang bergeser ke Asia, dominasi Barat merosot, dan kepercayaan publik Eropa sendiri tergerus. Pertanyaannya bukan apakah Eropa akan bubar, melainkan apakah mereka bisa menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar “klub negara kaya” yang sibuk memperbaiki atap saat badai sudah datang. Jika tidak, sejarah mungkin tak runtuh secara spektakuler, tetapi pelan-pelan meluntur—dan itu bisa lebih menyakitkan.

Di ujung cerita, saya melihat ironi yang menawan: Uni Eropa mungkin akan bertahan justru karena musuh dalam selimut seperti Orban. Setiap ancaman membuat mereka bernegosiasi, setiap veto memaksa kreativitas. Rumah tua yang terus direnovasi, bukan roboh. Barangkali itu pelajaran untuk kita juga: integrasi, baik di Eropa maupun Asia Tenggara, bukan tentang meniadakan perbedaan, tetapi tentang menegosiasikannya terus-menerus, bahkan sampai bosan. Dan seperti rumah tua yang dihuni keluarga besar, kegaduhan mungkin adalah tanda kehidupan, bukan kematian.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer