Opini
Italia Mogok Nasional Tekan Israel Hentikan Genosida Gaza
Kabut tipis pagi itu belum sepenuhnya terangkat ketika kereta di Roma mendadak berhenti, seolah kota abadi menahan napasnya. Di Milan, hujan deras turun seperti tirai besi, menutupi langkah para demonstran yang menolak diam. Pelabuhan Genoa dan Livorno terhenti, kapal-kapal besar yang biasanya berlayar seperti mesin waktu kini membeku di dermaga. Italia, negara yang sering dipuja sebagai surga seni dan kuliner, memilih senjata lain: mogok total menentang genosida di Gaza. Ironisnya, di tengah Eropa yang kerap berkhutbah tentang kemanusiaan, suara paling keras justru lahir dari jalanan yang basah dan stasiun yang lengang.
Saya rasa kita semua sudah kenyang dengan pidato lembut para pemimpin dunia. “Kedamaian harus diupayakan,” kata mereka sambil menandatangani kontrak dagang dengan zionis. Namun pada 22 September itu, para pekerja Italia menunjukkan pelajaran yang lebih jujur. Mereka tidak mengirim surat protes yang akan dibaca setengah hati di ruang parlemen. Mereka menghentikan kereta, menutup metro, memblokir kapal yang hendak berlayar ke Tel Aviv. Ini bukan sekadar teriakan moral; ini tamparan ekonomi yang pasti terasa hingga ke telinga para penguasa.
Laporan menyebut Unione Sindacale di Base—serikat pekerja akar rumput—sebagai penggerak. Tidak sebesar CGIL atau CISL, tapi justru itulah kekuatan mereka: luwes, tak terlalu terikat, dan penuh tekad. Dari Ravenna ke Trieste, dari sekolah-sekolah Bologna hingga pelabuhan Genoa, lebih dari 81 titik aksi berdentum seperti palu godam di meja kebijakan. Bayangkan, ratusan pengacara pun ikut menyuarakan desakan agar pemerintah Italia memutus hubungan dengan “negara teroris Israel.” Seruan “Free Palestine from the river to the sea” menggema di setiap alun-alun, menembus gerimis dan dingin musim gugur.
Di balik suara peluit dan megafon, ada ironi yang menohok. Eropa, yang sering menatap negara-negara Selatan dengan pandangan paternalistik soal hak asasi, kini justru diajar cara berdemokrasi oleh pekerja pabrik dan mahasiswa yang menduduki ruang kuliah. UN Special Rapporteur Francesca Albanese menulis di X bahwa tak boleh ada “business as usual” saat genosida berlangsung. Sederhana, tegas, nyaris seperti nasihat ibu kepada anak yang bandel. Bandingkan dengan pernyataan para diplomat yang selalu terselip kata “namun” dan “sejauh memungkinkan.”
Apakah pemerintah Italia mendengarkan? Menlu Antonio Tajani mulai membuka pintu: ada wacana sanksi Uni Eropa terhadap pejabat Israel, bahkan kemungkinan memutus hubungan dagang. Itu sinyal penting, walau masih samar. Di sisi lain, Menlu Israel Gideon Saar langsung mengancam akan membalas bila sanksi benar-benar dijalankan. Ancaman ini menunjukkan satu hal: tekanan akar rumput memang menimbulkan gemetar di kursi kekuasaan.
Kita di Indonesia mestinya paham bahasa seperti ini. Bukan bahasa pidato, tapi bahasa tindakan. Kita tahu bagaimana pemogokan bisa membuat pemerintah menoleh—lihat saja sejarah buruh kita sendiri, dari mogok pabrik hingga boikot produk. Namun entah kenapa, ketika menyangkut Palestina, kita sering puas dengan doa bersama dan spanduk di jalan raya. Doa tentu penting, tetapi tak akan mengubah kalkulasi dagang yang dingin. Italia menunjukkan jalan lain: tekan ekonomi, lumpuhkan roda bisnis, buat para pemimpin berpikir dua kali.
Ada yang berkata, “Tapi mereka di Eropa, mereka kaya.” Betul, tetapi justru karena itu risiko mereka juga besar. Pelabuhan Genoa bukan warung kopi; setiap jam berhenti berarti jutaan euro melayang. Para pekerja sadar konsekuensinya, namun tetap maju. Bandingkan dengan kita yang kadang gentar menutup toko meski hanya sehari untuk protes harga BBM. Kita sering bangga menyebut solidaritas, namun terlalu cepat kembali ke rutinitas.
Saya teringat obrolan dengan seorang teman lama yang bekerja di sektor pelayaran. Katanya, rantai logistik itu seperti sirkulasi darah. Satu pelabuhan besar berhenti, seluruh tubuh ekonomi bisa demam. Itulah yang dilakukan para buruh pelabuhan Italia: menghentikan darah agar jantung politik tersentak. Sederhana tapi dahsyat.
Dalam suasana global yang semakin absurd, ketika genosida di Gaza disiarkan hampir real time namun banyak pemimpin memilih menutup mata, aksi di Italia menjadi semacam oasis keberanian. Bukan tanpa risiko. Ada kemungkinan balasan diplomatik, tekanan dari NATO, bahkan ancaman kriminalisasi. Tapi mereka tetap bergerak. Mungkin mereka lelah melihat kebohongan yang dipoles setiap hari: kata “perdamaian” yang diulang-ulang sambil mengirim senjata, kata “keamanan” yang jadi pembenaran penghancuran.
Saya tidak romantis berlebihan. Mogok sehari tidak otomatis menghentikan serangan di Gaza. Namun ada kekuatan simbolik dan praktis yang sulit diabaikan. Ketika pelabuhan berhenti, ketika kereta tak jalan, dunia bisnis resah. Media menulis, politisi gelisah, opini publik bergeser. Itu adalah titik awal perubahan kebijakan. Dari sinilah boikot ekonomi dan sanksi internasional bisa mendapat pijakan yang lebih kokoh.
Dan di tengah semua itu, ada pelajaran untuk kita: solidaritas bukan hanya perasaan hangat di dada. Ia butuh keberanian, organisasi, dan kesediaan menanggung rugi demi keadilan. Kita sering bicara soal persaudaraan umat, tapi lupa bahwa persaudaraan menuntut pengorbanan, bukan hanya retorika.
Saat malam turun di Roma dan Milan, ketika demonstran mulai bubar dan jalanan kembali sepi, gema aksi itu tak ikut padam. Ia bergaung hingga ke ruang rapat Uni Eropa, ke koridor PBB, bahkan ke telinga kita yang jauh di Asia Tenggara. Pertanyaannya, apakah kita hanya akan mengangguk kagum, atau mau menyalakan nyala yang sama di tanah sendiri?
Italia telah menunjukkan cara menekan pemerintah agar memutus hubungan dengan Israel: bukan dengan pidato panjang, tetapi dengan jeda paksa pada denyut ekonomi. Dunia seharusnya tak hanya menonton. Karena setiap menit kita diam, setiap transaksi dagang yang kita biarkan, berarti satu detik tambahan penderitaan di Gaza.
