Opini
Dalih Perangi AQAP, Siasat AS Tekan Ansarullah
Sebuah negeri yang perairannya jadi jalur nadi perdagangan dunia, diapit benua, dicengkeram panas gurun, dan diliputi aroma mesiu yang tak kunjung hilang. Yaman, tanah yang seharusnya teduh oleh sejarah panjang peradaban, kini kembali jadi panggung yang diperebutkan. Dari Washington, datang memo dingin: peringatan ancaman al-Qaeda di Semenanjung Arab. Sekilas terdengar wajar—siapa pun tak ingin serangan teroris. Namun di balik kata-kata resmi itu, ada kegelisahan yang sulit ditepis. Mengapa sekarang? Mengapa Yaman, padahal al-Qaeda juga masih berkeliaran di Suriah, Afrika, dan berbagai sudut dunia?
Saya rasa kita semua pernah merasakan insting waspada ketika potongan puzzle tiba-tiba pas. Laporan National Counterterrorism Center (NCTC) Amerika Serikat menyebut al-Qaeda dan cabangnya AQAP kembali mengincar AS. Pesan klasik: waspada, lindungi data perjalanan, jangan pamer lokasi, copot lencana identitas. Instruksi standar. Tetapi ketika kita tarik garis dari laporan itu ke medan politik Timur Tengah, terbentang peta yang jauh lebih rumit ketimbang peringatan keamanan semata.
AS memang punya sejarah panjang memanfaatkan narasi perang melawan teror. Kita ingat Suriah: ISIS dijadikan alasan, pasukan dikerahkan, pangkalan dibangun, dan hingga kini, pasukan itu masih betah meski Damaskus tak pernah mengundang. Afghanistan dan Irak pun tak luput. Dengan dalih menumpas ancaman, operasi membengkak, rezim runtuh, dan pengaruh Amerika mengakar. Maka wajar jika kecurigaan muncul saat Washington tiba-tiba gencar menyoroti AQAP—padahal organisasi ini sudah lama beroperasi di Yaman tanpa gempita semacam ini.
Lalu ada Ansarullah, kelompok yang di mata banyak orang menjadi simbol perlawanan Yaman, terutama setelah menggulingkan pemerintah yang disokong Saudi. Mereka bukan sekutu al-Qaeda, malah kerap bentrok dengan AQAP. Tapi fakta itu tak selalu penting dalam panggung geopolitik. Di mata publik internasional, terorisme mudah jadi kata selimut, menutupi siapa sebenarnya yang jadi sasaran. Label “teror” itu fleksibel, bisa meluas sesuai kebutuhan. Dan di tengah serangan rudal Ansarullah ke kapal-kapal yang terkait Israel, narasi ancaman AQAP terdengar seperti musik latar yang pas untuk sebuah skenario yang lebih besar.
Jalur pelayaran Bab al-Mandab adalah hadiah besar. Siapa menguasainya, mengendalikan denyut nadi perdagangan minyak dunia. Kita di Indonesia paham betul pentingnya jalur laut; Selat Malaka saja sudah cukup bikin semua negara waspada. Bayangkan jika Selat Malaka dipegang kelompok yang tak bersahabat dengan kekuatan besar. Itulah Yaman bagi AS dan sekutunya. Maka, mengibarkan bendera “perang melawan teror” di sekitar Bab al-Mandab adalah langkah strategis yang tak hanya bisa diterima di PBB, tetapi juga dijual ke publik dunia dengan kemasan moralitas.
Ironinya jelas: Ansarullah yang sebenarnya memerangi AQAP bisa saja menjadi korban dari dalih menumpas AQAP. Seperti petani yang justru disalahkan karena menebang gulma di kebunnya sendiri, mereka berpotensi dilabeli ancaman global. Kita sering mendengar pepatah lama: “Siapa mengendalikan cerita, mengendalikan perang.” Di sini, cerita yang diangkat adalah kebangkitan AQAP, padahal kemungkinan besar targetnya lebih luas. Cerita itu memberi tiket masuk bagi pasukan internasional, mungkin untuk menekan, mungkin untuk menyingkirkan Ansarullah, sambil menyebutnya operasi kontra-teror.
Sebagian orang akan menuduh ini sekadar teori konspirasi. Tapi sejarah mengajarkan kita untuk tidak naif. Suriah membuktikan bahwa intervensi bisa bertahan jauh melampaui ancaman awal. Afghanistan jadi pelajaran pahit bahwa perang yang dimulai atas nama keadilan bisa berubah menjadi rawa tak berujung. Dan kini, potongan-potongan yang sama tampak disusun di Yaman: laporan intelijen, ancaman teror, kepentingan jalur minyak, dan musuh politik yang mengganggu tatanan sekutu AS.
Saya tidak mengatakan rencana itu sudah matang. Tapi saya berani bilang: gejalanya sudah terlihat. Fokus berlebihan pada AQAP—ketika ISIS di Suriah dan al-Qaeda di Afrika Barat masih aktif—terlalu janggal untuk dianggap kebetulan. Peringatan NCTC hanyalah permulaan, nada pembuka dalam simfoni yang bisa mengiringi pengerahan kapal, drone, bahkan pasukan darat dengan restu “komunitas internasional”. Kita semua tahu, sekali pasukan asing menancap kaki, alasan untuk bertahan selalu bisa diperpanjang.
Bayangkan skenario itu: pangkalan kecil “sementara” di pesisir Yaman, patroli laut permanen di Bab al-Mandab, operasi gabungan dengan dalih memburu sisa-sisa AQAP. Sedikit demi sedikit, tekanan diarahkan ke Ansarullah, baik melalui sanksi maupun serangan presisi. Semua dilakukan dengan bendera besar: “demi keamanan global”. Sementara dunia, lelah dengan konflik, mengangguk saja.
Di kafe-kafe Jakarta atau warung pinggir jalan Bekasi, kita mungkin membicarakan ini sambil menyeruput kopi. Jauh, ya. Tapi dampaknya bisa terasa. Harga minyak, rute perdagangan, bahkan stabilitas ekonomi kita terkait erat dengan jalur yang melintasi Laut Merah. Jadi, dugaan saya bukan semata rasa curiga tanpa dasar, melainkan peringatan dini. Seperti melihat langit mendung pekat: mungkin tak jadi hujan, mungkin pula badai.
Apakah saya bisa salah? Tentu. Dunia politik kerap berbelok tak terduga. Bisa saja Washington memilih jalur diplomasi, atau fokusnya bergeser. Tetapi untuk saat ini, potongan puzzle terhubung terlalu rapi untuk diabaikan. Laporan NCTC, posisi strategis Yaman, sejarah intervensi AS, dan manuver Ansarullah di Laut Merah, semuanya merajut cerita yang sulit dibilang kebetulan. Kita boleh berharap skenario terburuk tak terjadi, namun menutup mata sama saja dengan menyerahkan nalar.
Jadi, ketika berita tentang AQAP di Yaman mendadak jadi sorotan besar, saya rasa kita patut bertanya lebih keras. Apakah ini sekadar peringatan keamanan? Atau awal dari babak lama yang kita kenal: perang tanpa akhir, dibungkus dalih mulia? Kita tahu jawabannya belum datang, tapi tanda-tandanya sudah menari di permukaan. Dan sejarah, seperti biasa, sedang menunggu kita apakah belajar atau kembali terperangkap.
