Connect with us

Opini

Bendera Retorika Israel Tersapu Gelombang Yaman

Published

on

Lentera tunggal menyala di laut badai, kapal-kapal kargo raksasa berbayang dengan jangkar berbalut ranting zaitun, merpati dan bulan sabit samar di langit, kilat membentuk kepalan tangan.

Di langit Timur Tengah, ancaman dan ejekan beradu seperti angin panas yang tak kenal henti. Israel Katz, Menteri Keamanan yang suaranya sekeras sirene roket, menebar janji untuk mengibarkan bendera biru-putih di Sanaa seolah-olah kota tua itu hanya panggung teater. Sementara itu, dari lereng-lereng Yaman, seorang pejabat senior di biro politik Ansarullah, Mohammad al-Farah menanggapinya dengan tawa sinis: sebelum bermimpi menancapkan bendera di tanah orang, cobalah dulu mengibarkan bendera sendiri di kapal-kapal yang kini berlayar diam-diam di bawah bendera asing. Saya rasa, ini bukan sekadar perang kata; ini ironi yang menampar kesombongan.

Laporan yang menjadi pijakan tulisan ini menggambarkan bagaimana Ansarullah—kita mengenalnya sebagai Houthi—tidak berhenti menyalakan api perlawanan. Rudal Palestine-2 yang disebut hipersonik, drone yang menembus pertahanan hingga Eilat, gangguan pelabuhan yang memaksa bandara Ramon tutup sejenak—semua itu bukan sekadar statistik. Ini potret kekacauan yang nyata, dan kita semua tahu, kekacauan kerap berbicara lebih lantang daripada konferensi pers. Sementara Katz sibuk berorasi, pelabuhan Eilat sepi bagai pasar malam yang ditinggal pedagang.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Mari kita jujur, ada sesuatu yang absurd ketika seorang menteri perang mengancam “mengirim Abdul-Malik al-Houthi ke neraka” sementara kapalnya sendiri tak berani berlayar dengan bendera Israel. Analogi sederhananya: seperti orang yang menantang duel di alun-alun tapi sembunyi di balik pagar rumah, takut ketahuan tetangga. Kita di Indonesia akrab dengan ironi semacam ini; berapa kali kita melihat pejabat berjanji menertibkan jalanan sementara mobil dinasnya sendiri melanggar marka? Sama saja.

Ansarullah, tentu, bukan malaikat. Tapi di mata banyak orang Arab, mereka mewakili kegigihan yang sulit diabaikan. Mereka menautkan perjuangan Yaman dengan Palestina, mengirim pesan bahwa isu Gaza bukan hanya milik satu bangsa. Ada resonansi di sini yang mungkin sulit dipahami mereka yang terbiasa memandang konflik hanya dari kacamata perjanjian damai. Serangan ke Tel Aviv, Eilat, Beer al-Sabe’—semua itu diceritakan bukan semata demi pamer senjata, melainkan untuk menegaskan: “Kami ada, kami bergerak, dan kami tak gentar.”

Israel, di sisi lain, terlihat seperti pemain catur yang kehabisan bidak. Bendera yang dijanjikan Katz menjadi simbol yang justru melukai kebanggaan sendiri. Apa gunanya ancaman jika pelabuhan sendiri lumpuh? Apa artinya gertakan jika kapal dagang harus menyamar di bawah bendera negara lain? Saya teringat ungkapan lama: “Yang paling berisik biasanya yang paling takut.” Kata-kata itu terasa pas ketika melihat Israel yang katanya digdaya, kini harus menutupi identitas kapalnya demi menghindar dari serangan Houthi.

Di kafe-kafe Jakarta, orang mungkin akan menyeletuk, “Ah, perang di sana jauh, apa urusannya dengan kita?” Tapi bayangkan jalur perdagangan Laut Merah yang terganggu, harga logistik yang melonjak, dan pengaruhnya ke pasokan barang yang kita nikmati setiap hari. Konflik ini bukan cerita jauh; gelombangnya merambat ke pasar Tanah Abang, ke harga BBM, ke ongkos pengiriman paket yang kita keluhkan setiap akhir bulan. Dunia ini terhubung lebih rapat daripada kita mau akui.

Saya juga melihat paradoks lain. Di satu sisi, Ansarullah menonjolkan fakta di medan tempur: rudal, drone, pelabuhan yang macet. Di sisi lain, Israel menampilkan retorika yang menggelegar tapi kosong di perut. Retorika tanpa realisasi hanyalah debu di angin gurun. Tentu, saya tak menutup mata bahwa laporan ini berasal dari satu sisi; selalu ada versi lain dari pihak Israel. Tetapi bila kita membaca apa adanya, terasa jelas siapa yang sedang menjalankan aksi dan siapa yang sibuk menata kata.

Ironi semakin tebal ketika Katz berbicara tentang “neraka” dan “bendera di Sanaa.” Kata-kata yang seharusnya menakutkan justru terdengar seperti sandiwara. Ansarullah menjawabnya dengan senyum mengejek: “Bangun dulu pelabuhan Eilat, lalu kita bicara bendera.” Seolah-olah Yaman sedang mengajarkan pelajaran sederhana: jangan sombong jika pekerjaan rumah sendiri berantakan. Bukankah kita di sini juga sering mendengar pepatah, “Bersihkan pekarangan sendiri sebelum menuding tetangga”?

Dalam semua hiruk-pikuk ini, saya menangkap pesan yang lebih dalam. Dunia tengah menyaksikan pergeseran. Negara yang dulu dianggap kecil, terpinggirkan, kini mampu menekan kekuatan besar dengan serangan yang membuat jalur perdagangan dunia terguncang. Dan negara yang selama ini dibungkus mitos tak terkalahkan, justru terlihat rapuh. Itu bukan hanya berita perang; itu cermin bahwa kekuasaan tak pernah abadi.

Jadi, apa pelajaran yang bisa kita bawa pulang ke tanah air? Pertama, bahwa keberanian kadang lahir dari keterdesakan. Yaman, yang lama digerus perang dan kemiskinan, justru menunjukkan taringnya saat dunia meremehkan. Kedua, bahwa kesombongan pejabat yang hanya berani berkoar bisa runtuh di hadapan aksi nyata. Dan ketiga, bahwa kita—baik di Jakarta, Surabaya, atau pelosok Nusantara—perlu lebih kritis ketika menelan janji-janji politik, baik dari luar negeri maupun dari pemimpin kita sendiri.

Namun, di balik seluruh drama ini, pertanyaan yang menggigit tetap muncul: sampai kapan dunia akan diam ketika agresi di Gaza menjadi alasan sah bagi Yaman untuk mengambil langkah ekstrem? Ansarullah menegaskan bahwa penghadangan kapal bukanlah aksi mencari keuntungan, melainkan bentuk tekanan politik agar zionis menghentikan pembantaian. Negara-negara besar yang biasanya sigap bersuara justru seperti menutup telinga, seolah penderitaan di Gaza hanya latar belakang semata. Padahal, setiap gelombang serangan di Laut Merah adalah cermin dari kebisuan dunia yang gagal menghentikan perang, dan Yaman memilih menunjukkan bahwa penderitaan Palestina bukan isu yang bisa diabaikan begitu saja.

Pada akhirnya, bendera bukan sekadar kain. Ia simbol harga diri. Israel Katz boleh bermimpi mengibarkan bendera di Sanaa, tapi fakta di lapangan, setidaknya dari laporan yang kita pegang, menunjukkan benderanya sendiri terpaksa bersembunyi. Sementara itu, Ansarullah berdiri di panggung dunia, entah kita setuju atau tidak dengan metodenya, memegang kendali narasi. Saya rasa, kita semua bisa merasakan getirnya: ketika kata-kata besar tak lagi sejalan dengan kekuatan nyata, yang tersisa hanyalah bayangan dari kejayaan masa lalu.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer