Connect with us

Opini

Perang Gaza Buat Pamor Netanyahu Pudar

Published

on

Ilustrasi editorial Benjamin Netanyahu dengan siluet retak di depan asap Gaza dan grafik pasar saham yang menurun, simbol pamor politik yang pudar.

Pasar saham merosot bahkan sebelum asap roket di Gaza benar-benar hilang. Di layar televisi, Benjamin Netanyahu masih berpidato dengan nada Sparta, menyalakan semangat perang, seolah-olah ancaman isolasi internasional hanyalah gangguan kecil di tengah lautan api. Tapi rakyatnya mulai jengah. Mereka menatap angka-angka jajak pendapat yang terus menurun, dan di balik retorika keras sang perdana menteri, mereka mendengar suara lain: kegagalan yang tak bisa lagi ditutupi. Saya rasa inilah ironi paling telanjang dari politik: pemimpin yang mengira perang bisa menjadi sandaran popularitas justru tergelincir oleh perang itu sendiri.

Koalisi Netanyahu sekarang hanya mengantongi 49 kursi, turun dari 50, menurut survei Maariv. Terlihat kecil? Di Knesset, satu kursi bisa menjadi jurang. Oposisi tanpa partai Arab sudah menembus 61 kursi, cukup untuk memutar arah pemerintahan. Sebagian orang mungkin menganggap ini sekadar fluktuasi, tapi kita semua tahu pergeseran tipis di politik Israel adalah awal dari badai. Di negeri yang setiap suara setara emas, angka itu bukan statistik—ia semacam sinyal bahaya yang berdering keras, nyaring, dan lama-lama memekakkan telinga.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi đź’›

Yang lebih pedih adalah data kepercayaan publik. Mayoritas, 52 persen, sudah tidak percaya pada Netanyahu. Bukan sekadar ragu, tapi 40 persen benar-benar tidak percaya sama sekali. Di saat perang, biasanya rakyat menempel erat pada pemimpin. Kita bisa menengok ke sejarah: di banyak negara, perang menjadi perekat nasionalisme. Tapi tidak di sini. Perang Gaza bukannya menyalakan patriotisme, justru menyalakan kemuakan. Rakyat Israel melihat perang bukan sebagai perisai, melainkan sebagai tirai yang menutupi kebijakan gagal dan ambisi pribadi.

Mari kita bicara tentang “pidato Sparta” Netanyahu—pidato yang konon dirancang membakar semangat, tapi malah membakar pasar saham. Peringatan isolasi internasional yang dia lontarkan untuk menakut-nakuti lawan politik justru menakutkan investor. Dunia bisnis tidak suka drama. Mereka paham, isolasi bukan slogan heroik; itu bencana ekonomi. Ketika modal hengkang dan mata uang gelisah, retorika perang hanya terdengar seperti dentang kosong. Seperti panci gosong yang dipukul keras-keras, berisik tapi tak mengenyangkan.

Partai-partai kecil pun mulai menghitung ulang untung-rugi. Religious Zionist Party yang biasanya menjadi penopang sayap kanan bahkan terancam tak lolos ambang batas. Naftali Bennett kehilangan tiga kursi. Gadi Eisenkot tetap di sembilan. Percobaan merger—antara Bennett dan Eisenkot, atau Eisenkot dengan Yair Lapid, bahkan Eisenkot dengan Avigdor Liberman—tidak mendongkrak total suara oposisi secara signifikan. Namun satu fakta mengguncang: jika Bennett dan Eisenkot bergabung, mereka bisa menjadi partai terbesar, dengan peluang pertama membentuk pemerintahan. Itu bukan sekadar teori; di politik Israel, mandat pertama berarti pintu kekuasaan yang sesungguhnya. Netanyahu tahu ini, dan ia cemas.

Di sinilah absurditasnya. Perang Gaza yang awalnya digadang-gadang sebagai panggung kejayaan malah jadi panggung sandiwara muram. Netanyahu, yang kerap menampilkan diri sebagai satu-satunya “penjaga benteng” Israel, justru tampak seperti pemimpin yang kehilangan kendali atas naskah. Sementara roket dan tank terus melaju, para pemilih melihat celah-celah kebohongan politik yang makin lebar. Mereka sadar, operasi militer yang dikemas heroik itu tak membawa rasa aman, hanya membawa isolasi diplomatik dan beban ekonomi.

Kita yang tinggal jauh di Indonesia bisa merasakan gema ironinya. Bukankah kita juga kerap melihat politisi yang percaya bahwa menebar ketakutan bisa memperpanjang umur kekuasaan? Bahwa menuding “musuh luar” dapat menyatukan yang tercerai-berai? Nyatanya, ketika rakyat sudah lelah, narasi ancaman justru terdengar seperti rekaman rusak. Netanyahu kini merasakan hal yang sama.

Ada lagi yang lebih menyakitkan: kepercayaan hanya datang dari basisnya sendiri. Sembilan puluh satu persen pemilih koalisi masih percaya padanya—angka yang terkesan solid. Namun kepercayaan seperti itu lebih mirip lingkaran kecil yang terus mengecil, semacam ruang gema yang menolak suara berbeda. Di luar lingkaran itu, ketidakpercayaan mengeras. Delapan puluh lima persen oposisi tidak percaya padanya, dan 70 persen menolak mentah-mentah. Ini bukan sekadar perbedaan pendapat; ini jurang yang dalam.

Saya teringat peribahasa: “siapa menabur angin, akan menuai badai.” Netanyahu menabur retorika perang, dan badai ketidakpercayaan kini menelan modal politiknya. Bahkan para pemilih yang dulu melihatnya sebagai “Mr. Security” mulai bertanya: keamanan yang mana? Gaza belum diam, ekonomi meriang, diplomasi menipis. Dunia menatap Israel dengan alis terangkat. Pasar modal menatap angka merah. Dan rakyat menatap perdana menteri yang terus berbicara tentang musuh eksternal sementara masalah internal menggunung.

Di sisi lain, munculnya partai-partai baru seperti Reservists Party—yang diisi keluarga tentara cadangan, veteran terluka, dan relawan sipil—menjadi tanda bahwa publik Israel mulai mencari arah politik lain. Mereka mengklaim akan mengedepankan prinsip ketimbang boikot, mengisyaratkan keinginan untuk menembus kebuntuan lama yang kerap dipelihara Netanyahu demi keuntungan kekuasaan. Ini bukan sekadar dinamika elektoral; ini sinyal bahwa lapisan masyarakat yang paling dekat dengan dampak perang merasa perlu wadah politik baru, karena kepemimpinan lama gagal memberikan harapan.

Inilah tragedi seorang pemimpin yang terlalu lama percaya bahwa kekuasaan bisa dipatri dengan ketakutan. Perang Gaza memang menelan korban jiwa di dua sisi, tapi juga menelan kredibilitas politik sang perdana menteri. Pamornya pudar bukan hanya karena korban sipil di Gaza, tetapi karena rakyatnya sendiri mulai jemu pada drama yang tak berujung. Mereka merindukan jawaban nyata, bukan pidato Sparta atau ancaman isolasi yang justru ia ciptakan sendiri.

Netanyahu mungkin masih bisa bertahan sementara, menambal perahu bocor dengan koalisi darurat. Tetapi, seperti ember tua yang terus menampung air hujan, retak demi retak tak bisa disembunyikan selamanya. Ketika pemilu berikutnya tiba, suara rakyat—yang tak bisa dibungkam roket atau pidato—akan berbicara. Dan saya rasa, perang Gaza telah memberi mereka alasan yang cukup untuk mencari nahkoda baru.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Ketika UEFA Kena Kartu Merah: Fair Play Telah Mati

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer