Connect with us

Opini

Israel Menggoda Suriah dengan Bayangan Sinai

Published

on

Ilustrasi negosiasi damai Israel–Suriah digambarkan sebagai permainan catur di padang pasir dengan Dataran Tinggi Golan sebagai bidak utama.

Di selatan Suriah, senja menggantung seperti kabar buruk yang menolak pudar. Bayangan jet tempur melintas di langit yang seharusnya milik Damaskus, sementara di meja perundingan London dan Baku, peta-peta baru digambar seolah tanah dan udara hanyalah lembaran kertas. Saya tak bisa menahan kegelisahan: di balik bahasa diplomasi yang manis, terselip jurus lama Israel—mencoba menyalin resep Camp David, tetapi tanpa imbalan, tanpa rasa malu.

Kita semua tahu Mesir 1979. Sinai dibagi menjadi tiga zona demiliterisasi, diserahkan kembali kepada Kairo dengan harga pengakuan dan perdamaian. Itu perjanjian dua negara berdaulat yang, meski dingin, sama-sama paham bahwa kompromi membutuhkan timbangan adil. Kini Israel menawari Suriah “perjanjian keamanan” yang secara struktur nyaris identik: tiga zona dengan aturan kian ketat hingga Damaskus, plus larangan terbang dari ibu kota ke perbatasan. Hanya satu yang hilang: imbalan setara bagi pihak yang kalah.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Faktanya, Suriah bukan Mesir. Negeri yang porak-poranda oleh perang saudara, dikelilingi sanksi, dan tergantung pada sisa kekuatan Rusia serta Iran. Posisi tawarnya lemah, seolah pemain cadangan yang dipaksa menandatangani kontrak berat sebelah. Sementara Israel duduk di atas angin, menempati pos militer di selatan, menguasai Dataran Tinggi Golan, dan melancarkan serangan udara sesuka hati. Apa yang disebut “perjanjian” itu, saya rasa, lebih mirip dikte yang dibungkus pita emas.

Ironinya menyesakkan. Israel menawarkan keamanan dengan syarat yang justru mengekalkan ancaman: Suriah harus menahan pasukannya sendiri, tidak boleh menerbangkan pesawat di separuh ruang udara barat daya, dan merelakan “koridor” yang katanya dibutuhkan Israel untuk—absurdnya—menyerang Iran suatu hari nanti. Keamanan untuk siapa? Tentu bukan untuk penduduk Suriah yang masih mendengar dentuman rudal di tengah malam.

Presiden Transisi Ahmad al-Sharaa memang menyebut kesepakatan ini “sebuah keharusan”. Saya paham logikanya. Setelah bertahun-tahun dihantam perang dan sanksi, jeda kekerasan adalah oksigen. Namun ia juga menegaskan kedaulatan sebagai garis merah. Pertanyaan yang menggantung: bagaimana mempertahankan garis itu ketika peta baru sudah menorehkan larangan terbang dari Damaskus ke perbatasan? Bagaimana menjaga martabat ketika lawan bicara masih mengebom desa-desa?

AS, seperti biasa, tampil sebagai mediator yang konon netral. Tapi sejarah mengajarkan kita: setiap “netralitas” Washington kerap berpihak pada Tel Aviv. Keterlibatan utusan khusus Tom Barrack dan “intervensi intensif” Donald Trump hanya menegaskan pola lama: keamanan Israel adalah prioritas, kedaulatan Suriah sekadar catatan kaki. Kita pernah melihat drama serupa di Oslo, di Camp David, dan hasilnya selalu sama—Palestina atau pihak Arab lain menelan janji yang hambar.

Beberapa orang mungkin berkata, lebih baik perjanjian timpang daripada tidak ada kesepakatan. Saya tak setuju. Perjanjian yang lahir dari ketidaksetaraan cenderung menabur bara baru. Ingat Gaza: gencatan senjata sementara sering kali hanya jeda sebelum babak kekerasan berikutnya. Dengan memberi Israel legalitas de facto untuk mengontrol udara Suriah, dunia justru memperkuat logika serangan pre-emptive yang sudah lama merusak Timur Tengah.

Saya membayangkan warga di Quneitra atau Daraa yang setiap malam menatap langit, tak tahu kapan suara pesawat akan kembali. Apakah mereka merasa lebih aman jika kesepakatan ini diteken? Atau justru lebih terperangkap karena negara mereka sendiri dilarang mengirim jet untuk melindungi mereka? Seperti warga desa di lereng Merapi yang tahu gunung akan meletus tetapi dilarang menyiapkan jalur evakuasi, mereka dipaksa percaya pada janji pihak lain yang memegang kunci.

Israel tentu paham kekuatan posisinya. Mereka mengulang pola tawar: berikan kami kontrol total, kami akan “mengurangi” serangan, mungkin mundur setapak dari pos tertentu. Namun Gunung Hermon—pos penting yang baru direbut—akan tetap mereka pertahankan. “Penarikan bertahap,” istilah yang terdengar manis, padahal artinya “kami tinggal selama yang kami mau”.

Suriah mungkin akan menyodorkan kontra-proposal, berharap mengembalikan mekanisme perjanjian 1974, menuntut penghentian serangan udara, dan memulihkan zona penyangga lama. Tetapi siapa yang percaya Israel mau menerima? Rekam jejak mereka dengan Palestina adalah cermin telanjang: janji dua negara tak kunjung jadi kenyataan, pemukiman terus meluas, dan setiap pelanggaran selalu dibenarkan atas nama keamanan.

Di sini absurditas mencapai puncak. Negara yang rutin melanggar kedaulatan tetangga kini menawarkan resep “keamanan bersama”. Rasanya seperti serigala yang menulis manual menjaga kandang domba. Dunia mungkin akan menyebutnya “terobosan diplomatik”, media Barat mungkin menyanjung “kematangan politik,” tetapi bagi warga Suriah, ini hanyalah formalitas untuk menormalisasi pendudukan.

Saya teringat analogi sederhana: di kampung, bila seorang tetangga menempati pekarangan rumah Anda lalu menawarkan “perjanjian damai” asalkan Anda tidak menanam pohon di setengah tanah yang tersisa, apakah itu kesepakatan? Atau perampasan yang disulap menjadi kontrak? Kita semua tahu jawabannya, meski bahasa hukum mencoba menipunya.

Suriah memang butuh jeda, dunia Arab mungkin lelah berperang, dan banyak orang di luar sana ingin percikan optimisme. Tetapi optimisme palsu lebih berbahaya daripada konflik terbuka. Kesepakatan yang timpang hanya menunda benturan berikutnya, sambil memberi Israel cap legal atas kekuasaan yang sudah mereka jalankan. Ini bukan jalan damai; ini jalan lingkar yang berakhir di tempat sama.

Ketika kelak pertemuan Baku selesai dan lampu konferensi dipadamkan, kita mungkin akan mendengar pengumuman tentang “kemajuan signifikan”. Saya sarankan kita membaca setiap kata dengan curiga. Di balik setiap “zona demiliterisasi” ada rambu besar: kekuasaan yang dilanggengkan. Israel menggoda Suriah dengan bayangan Sinai, tetapi kali ini tak ada imbalan setara, tak ada kembalinya wilayah, tak ada janji perdamaian. Hanya ilusi keamanan yang menuntut kedaulatan sebagai korban. Dan itu, saya rasa, lebih menakutkan daripada perang yang terbuka.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer