Connect with us

Opini

Serangan AS ke Venezuela: Babak Baru Politik Hegemoni

Published

on

Ilustrasi editorial ketegangan laut Karibia, kapal nelayan Venezuela kecil berhadapan dengan bayangan kapal perang AS yang besar di bawah langit gelap.

Langit Karibia selalu tampak tenang dari kejauhan. Biru, luas, seolah tak pernah punya urusan dengan ambisi manusia. Tetapi di bawah permukaan yang tampak teduh itu, kapal-kapal bersenjata, misil, dan kapal selam nuklir menyelinap seperti bayangan gelap. Di situlah absurditas dunia kita berdiam: satu negara adidaya menembakkan rudal ke kapal kecil milik bangsa lain, lalu menyebutnya “operasi melawan narkotika”. Saya rasa, siapa pun yang masih percaya bahwa ini sekadar perang melawan obat terlarang mungkin juga percaya dongeng tentang peri yang menabur bubuk bintang di malam hari. Serangan AS ke Venezuela—ya, sebut saja apa adanya—adalah babak baru dari politik hegemoni yang sudah terlalu sering kita lihat, dan entah mengapa kita masih terkejut.

Kita semua tahu sejarah tak pernah lelah mengulang dirinya, hanya mengganti kostum. Sejak era minyak Venezuela menjadi rebutan, Washington selalu hadir, kadang dengan senyum diplomatik, kadang dengan tinju ekonomi. Kudeta 2002 yang nyaris menyingkirkan Hugo Chávez, sanksi demi sanksi yang mencekik ekonomi Caracas, hingga dukungan terang-terangan kepada “presiden interim” Juan Guaidó pada 2019—semua itu puzzle dari pola yang sama: kendalikan sumber daya, patahkan siapa pun yang berani menolak. Kini, dua kapal Venezuela diserang dalam dua minggu, tiga nyawa melayang, dan alasan resmi yang dilontarkan Presiden AS hanyalah “menghentikan penyelundup narkoba”. Ironi yang terlalu tipis untuk menyamarkan niat.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Maduro, tentu saja, menanggapi dengan kemarahan yang wajar. Ia menyebutnya “perang tidak etis”, sebuah frasa yang di telinga saya terdengar seperti teriakan yang mencoba tetap anggun. Ia bicara tentang “imperialis” dan “pelanggaran hukum internasional”. Bagi sebagian orang, kata-kata itu mungkin terasa usang, tapi coba pikir lagi: bukankah kapal USS Jason Dunham yang disebut “secara ilegal menghadang kapal nelayan” adalah bukti nyata pelanggaran? Kita mungkin lelah mendengar jargon anti-imperialis, namun kenyataan di laut tak butuh retorika—rudal dan kapal selam tak berbohong.

Serangan AS ke Venezuela kali ini, saya rasa, lebih berani karena dunia sedang sibuk dengan krisis lain. Gaza, Ukraina, persaingan Tiongkok–AS, semuanya menyedot perhatian. Dalam hiruk-pikuk itu, siapa yang sempat menoleh pada nelayan Karibia? Trump, dengan gaya kampanye permanennya, tentu tahu momentum: pukul ketika sorotan kamera mengarah ke tempat lain. Sebagian singkat, to the point, dan kadang kejam—itulah politik adidaya.

Apakah upaya ini akan berhasil? Sejarah berkata tidak mudah. Venezuela bukan boneka kertas. Militer tetap setia, rakyatnya, meski lelah dan miskin, punya kebanggaan nasional yang keras kepala. Dukungan dari Rusia, Tiongkok, Iran—meski bukan cinta murni—cukup untuk menjaga ekonomi berdenyut. Washington sudah mencoba sanksi, blokade, pengakuan presiden tandingan. Hasilnya? Maduro masih berdiri, bahkan terlihat semakin kebal. Menurut saya, justru setiap serangan semacam ini hanya mempertebal narasi perlawanan di mata rakyatnya.

Namun kita juga tidak boleh naif. Serangan AS ke Venezuela bukan sekadar teatrikal. Ini tekanan nyata yang perlahan menggigit. Rudal mungkin hanya awal. Sanksi bisa diperketat, jalur perdagangan diganggu, kampanye informasi disebar. Semua dilakukan sambil mengibarkan bendera “perang narkoba” yang terdengar heroik di telinga publik Amerika. Bukankah ini mirip cerita lama di Amerika Latin? Dari Guatemala hingga Panama, selalu ada alasan mulia yang membungkus kepentingan minyak, pangkalan militer, atau sekadar pamer kuasa.

Di tengah absurditas ini, saya jadi teringat obrolan warung kopi di Jakarta ketika harga BBM naik. Kita sering mengeluh soal kebijakan dalam negeri, tetapi jarang menyadari bahwa permainan minyak dunia yang dimainkan Washington dan Caracas juga berdenyut di pom bensin kita. Ketika Venezuela, negara dengan cadangan minyak terbesar di planet ini, terus diguncang, pasar global ikut bergetar. Harga di SPBU kampung kita pun bisa melonjak karena kapal nelayan di Karibia ditembaki. Jauh? Tidak juga. Dunia ini terlalu kecil untuk pura-pura buta.

Yang membuat getir adalah sikap “dunia” yang konon beradab. Perserikatan Bangsa-Bangsa mungkin akan mengeluarkan pernyataan datar, menyerukan de-eskalasi. Eropa, sibuk dengan ekonominya sendiri, paling banter mengerutkan kening. Sementara negara-negara Selatan, yang biasanya jadi penyokong Caracas, akan menegaskan solidaritas tapi jarang berani mengirim apa pun selain kata-kata. Dunia tidak akan menolong Venezuela seperti dulu, setidaknya bukan dengan cara yang bisa menahan kapal perang AS. Kita semua, saya dan Anda, akan menonton dari layar ponsel, mungkin membagikan tagar, lalu melanjutkan rutinitas. Ironis, ya?

Serangan AS ke Venezuela menyingkap wajah telanjang politik internasional: hukum hanya berlaku bila sesuai kepentingan yang punya senjata lebih besar. Trump bisa berdalih tentang narkotika, tapi siapa yang mengawasi pengawas? Kita semua tahu jawabannya. Negara-negara kecil hanya bisa berharap pada solidaritas rapuh dan diplomasi yang lamban. Dalam bahasa sederhana: kalau bukan kita yang bersuara, siapa lagi?

Saya tidak romantis terhadap Maduro. Pemerintahannya punya catatan pelanggaran hak asasi, inflasi gila, dan korupsi. Tetapi ketidakberesan internal bukan cek kosong bagi kekuatan asing untuk mengebom kapal dan mengatur masa depan negara lain. Kita boleh mengkritik Caracas, tapi kita juga harus menolak arogansi yang mengira Karibia adalah halaman belakang Washington.

Maka, ketika misil itu melesat, yang terluka bukan hanya nelayan Venezuela, tapi juga gagasan bahwa dunia modern menghormati kedaulatan. Kita semua ikut kehilangan sedikit harga diri. Dunia yang diam membiarkan preseden berbahaya ini, dan besok siapa tahu giliran siapa. Serangan AS ke Venezuela bukan sekadar cerita jauh di seberang lautan. Ia cermin yang memantulkan betapa rapuhnya kedaulatan jika kekuasaan jadi hukum. Dan cermin itu, suka atau tidak, menghadap langsung kepada kita.

3 Comments

3 Comments

  1. Pingback: Perang Kartel: Dunia di Ujung Tanduk - vichara.id

  2. Pingback: Kegagalan F-35: Ambisi Militer Amerika yang Runtuh

  3. Pingback: Dunia yang Diam: Ancaman Amerika terhadap Venezuela

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer