Opini
Solidaritas Dunia Islam Masih Sekadar Retorika
Di Doha, di bawah kilau gedung-gedung kaca yang memantulkan ambisi dan ketegangan, para pemimpin dunia Arab dan Islam berkumpul. Mereka duduk di meja yang seharusnya menjadi simbol kesatuan, tetapi kenyataannya lebih mirip panggung drama. Qatar, yang selama ini dikenal sebagai mediator andal, kini menjadi korban langsung agresi Israel. Serangan ke Doha bukan lagi isu teoretis tentang Palestina atau Gaza; ini adalah agresi yang menimpa rumah sendiri, wilayah sendiri. Dan dunia Islam berkumpul untuk menegaskan solidaritasnya terhadap Qatar. Atau setidaknya, itulah yang seharusnya terjadi.
Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani berbicara dengan nada yang jarang terdengar: tegas, marah, dan retoris. Ia menuding Israel sebagai “cowardly and treacherous” karena menyerang Doha, menekankan bahwa agresi ini bisa menjadi preseden bagi negara Arab dan Muslim lain, dan mempertanyakan logika serangan terhadap tuan rumah diplomasi. Pidato ini bukan sekadar soal Palestina atau Gaza, melainkan tentang Qatar sendiri yang kini berada di bawah ancaman langsung. Seharusnya, respons dunia Islam bisa menjadi peringatan kolektif bagi agresor. Tetapi kenyataannya, retorika yang keras bertemu dengan tindakan yang minimal.
Kita bisa melihat bagaimana perpecahan itu muncul di meja KTT. Negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain, menahan diri. Mereka mengamati situasi Doha dari jarak aman, merayakan lima tahun Abraham Accords, sambil menepuk pundak Sheikh Tamim secara simbolis. Solidaritas dunia Islam, yang seharusnya bersatu menghadapi agresi terang-terangan, justru terbelah di persimpangan kepentingan nasional, diplomasi, dan kenyamanan politik. Pidato heroik tidak selalu diikuti langkah berani.
Hasil KTT menunjukkan betapa fragmentarisnya solidaritas dunia Islam. Hanya ada himbauan umum agar negara-negara mengambil “legal and effective measures” terhadap Israel, tanpa rincian konkrit. Tidak ada ancaman nyata. Tidak ada sanksi ekonomi yang tegas. Tidak ada pemutusan hubungan diplomatik signifikan. Bahkan Dewan Kerjasama Teluk yang mengklaim akan “mengaktifkan mekanisme pertahanan bersama” tidak menjelaskan langkah konkret. Solidaritas dunia Islam berakhir di garis bibir dan pidato. Panggungnya megah, tetapi kosong dari aksi nyata.
Kontras antara klaim solidaritas dan kenyataan ini terasa tragis. Qatar diserang, negara-negara Arab dan Muslim berkumpul untuk menegaskan dukungan, tetapi agresi Israel tidak terhalangi. Solidaritas dunia Islam yang seharusnya menjadi mekanisme kolektif untuk melindungi anggota dari serangan eksternal, tetap simbolik. Ini membuka mata tentang ketidakmampuan dunia Islam menegakkan tekanan nyata terhadap agresor.
KTT Doha juga menjadi cermin perubahan dan stagnasi politik regional. Iran, sebagai penentang Israel yang vokal, menekankan isolasi agresor. Turki berbicara tentang sanksi ekonomi yang bisa diterapkan, sedangkan Malaysia menyerukan tindakan tegas terhadap Israel. Sementara itu, negara-negara Teluk yang memiliki hubungan dengan Israel tetap menjaga jarak. Solidaritas dunia Islam tampak tegas dalam pidato, tetapi fragmentaris dalam implementasi. Tanpa langkah nyata, agresi Israel ke Doha menjadi semacam izin tak tertulis: tekan korban, tapi jangan ganggu kepentingan diplomatik negara lain.
Yang lebih menyedihkan adalah bagaimana tragedi ini mengingatkan kita pada situasi Palestina. Meskipun fokus KTT Doha adalah solidaritas terhadap Qatar, serangan Israel ke Gaza tetap menjadi latar geopolitik yang tidak bisa diabaikan. Lebih dari 64.000 warga Palestina tewas dalam ofensif Israel, separuhnya perempuan dan anak-anak. Solidaritas dunia Islam, yang seharusnya hadir untuk Qatar, juga diharapkan menekan agresi Israel terhadap Palestina. Tetapi hasil KTT menunjukkan bahwa solidaritas yang retoris tidak mampu mengubah fakta di lapangan.
Dalam perspektif ini, Doha menjadi simbol ironi. Kota mediator, yang dulunya netral dan mampu menjembatani konflik, kini menjadi korban dan pusat drama diplomatik. Negara-negara yang seharusnya mengeksekusi solidaritas nyata, justru berperan sebagai penonton. Mereka berdiri tegak di podium internasional, menepuk pundak Qatar, tetapi tangan mereka tetap di saku. Kritik ini bukan sekadar kemarahan emosional; ini refleksi logis terhadap ketidakmampuan politik kolektif. Solidaritas dunia Islam yang kita puja, yang seharusnya menjadi perisai moral dan politik bagi Qatar maupun Palestina, tetap terbelah.
Masa depan Timur Tengah pun terlihat suram jika pola ini berlanjut. Israel tetap agresif, Qatar tetap rentan, Palestina tetap menderita, dan solidaritas dunia Islam tetap simbolik. Tanpa tekanan nyata—sanksi ekonomi, pemutusan hubungan diplomatik, atau dukungan strategis—pidato dan pernyataan bersama hanyalah formalitas. KTT Doha, yang semestinya menjadi momen krusial untuk menegakkan solidaritas kolektif, justru memperlihatkan bahwa fragmentasi masih mendominasi.
Satu hal yang patut direnungkan adalah paradoks Qatar sebagai mediator. Qatar selalu hadir sebagai saluran diplomasi, menjadi penghubung antara Hamas dan Israel. Namun, serangan ke Doha menunjukkan batasannya: posisi mediator sekaligus korban membuat Qatar rentan. Jika mereka terlalu aktif menekan Israel, mereka bisa kehilangan dukungan regional. Jika diam, mereka terancam sendiri. Solidaritas dunia Islam yang retoris tidak cukup untuk melindungi Qatar dari agresi nyata.
Retorika keras Sheikh Tamim, pidato Iran, dan usulan Turki menegaskan frustrasi yang nyata. Tetapi kesadaran tanpa aksi konkret tetap kosong. Solidaritas dunia Islam seharusnya bukan sekadar kata-kata heroik di media, tetapi mekanisme nyata yang mampu menekan agresor. KTT Doha menegaskan bahwa solidaritas dunia Islam masih jauh dari kemampuan praktis.
Ironi lainnya, meskipun semua mata tertuju pada Doha, fragmentasi telah jelas bahkan sebelum pertemuan dimulai.
Negara-negara Teluk tetap menjaga jarak dari langkah berani, memilih retorika hati-hati dan diplomasi simbolik, sementara Iran sudah mengambil langkah nyata, termasuk serangan militer terhadap pangkalan AS di Qatar dan penembakan rudal ke Israel pada perang 12 hari Juni lalu. Turki di sisi lain lebih sibuk mengulang argumen moral dan tekanan ekonomi, tanpa aksi militer langsung. Solidaritas dunia Islam tidak teruji dalam praktik nyata. Kata-kata di podium tidak menyelamatkan warga Qatar dari ancaman, sama seperti pidato heroik tidak menyelamatkan Gaza dari bom dan rudal.
Akhirnya, KTT Doha adalah cermin absurditas realitas Timur Tengah. Solidaritas dunia Islam masih terbelah. Peta regional mungkin tetap sama karena agresi Israel tidak dihentikan oleh himbauan semu. Doha, yang menjadi simbol diplomasi, justru menegaskan satu kenyataan pahit: solidaritas dunia Islam masih sebatas kata-kata dan pidato, bukan kekuatan kolektif yang nyata. Qatar mungkin selamat dari serangan lanjutan, tetapi harga yang dibayar adalah kenyataan pahit bahwa dunia Islam belum mampu bertindak secara tegas.
Kritik ini tegas: dunia Islam perlu refleksi serius. Solidaritas yang hanya retoris dan fragmentaris tidak cukup, baik untuk melindungi Qatar maupun Palestina. Tanpa langkah konkret—tekanan politik, sanksi ekonomi, atau dukungan strategis—solidaritas dunia Islam akan terus menjadi slogan kosong. KTT Doha membuka mata, tapi mata itu hanya melihat fragmentasi moral dan politik, bukan kekuatan nyata yang seharusnya hadir.
Di penghujungnya, kita bisa menyimpulkan: solidaritas dunia Islam saat ini masih seperti bayangan, bukan cahaya nyata. Kata-kata menggelegar, tetapi aksi nyata tidak ada. Pemimpin berpidato heroik, tetapi konflik tetap berjalan tanpa terhentikan. Doha menjadi simbol bahwa solidaritas dunia Islam, yang seharusnya menjadi mekanisme perlindungan dan tekanan, masih terbatas pada retorika semata. Sejarah dan generasi mendatang akan mengingat bahwa solidaritas retoris tidak menyelamatkan nyawa, baik di Gaza maupun di Doha.
