Connect with us

Opini

Netanyahu Main Catur Tanpa Papan

Published

on

Bayangkan sebuah papan catur tanpa kotak. Raja dan ratu, benteng dan kuda, semua bergerak tanpa aturan, tanpa batas, hanya mengikuti insting dan ambisi semu. Itulah gambaran yang paling mendekati strategi Netanyahu dalam pendudukan Gaza saat ini. Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Eyal Zamir, mengaku terang-terangan bahwa pemerintah tak pernah menjelaskan rencana pasca-operasi. Tentara, yang seharusnya menjadi mesin terkoordinasi, malah berjalan dalam kegelapan. Kita bisa menyebutnya absurd, tapi di dunia nyata ini, absurditas itu berdampak nyata—ledakan, reruntuhan, dan kematian warga sipil.

Ketidakjelasan ini bukan hanya soal militer. Ini soal arah politik, soal legitimasi internasional, dan soal moralitas dasar yang seharusnya jadi fondasi kepemimpinan. Zamir mengingatkan bahwa jika memang tujuan Netanyahu adalah pemerintahan militer di Gaza, katakan saja. Tapi tidak. Alih-alih memberikan peta jalan, Netanyahu memilih diam, sementara bom terus berjatuhan, dan Gaza City berubah menjadi ladang reruntuhan. Pendudukan Gaza yang direncanakan bukan operasi yang cermat, melainkan eksperimen kekerasan yang menantang akal sehat.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi đź’›

Dua tahun perang yang disebut “genosida” tidak membuat Hamas runtuh. Justru sebaliknya, mereka tetap memiliki kekuatan tempur, kemampuan organisasi, dan jaringan perlawanan yang tangguh. Zamir sendiri menyatakan bahwa Hamas tidak akan bisa dikalahkan secara militer maupun politik, bahkan setelah kota besar itu dikuasai. Ini bukan sekadar pernyataan jenderal yang cemas. Ini pengakuan bahwa strategi pemerintah Israel mandek, sebuah langkah tanpa kalkulasi rasional. Kita semua tahu, perang tanpa rencana pasca-kemenangan sama berbahayanya dengan perang tanpa target.

Beban moral di pihak militer juga kian berat. Operasi rumah ke rumah, risiko bagi sandera, dan tekanan psikologis terhadap pasukan—semua itu sudah diingatkan Zamir. Namun, pemerintah tetap bersikeras melanjutkan pendudukan Gaza seolah itu sekadar langkah birokrasi. Ada ironi di sini: tentara yang menilai risiko, politikus yang menutup mata. Di lapangan, realitasnya jauh dari permainan strategi yang bersih. Pendudukan Gaza bukan kemenangan yang dirayakan, tapi perang yang menelan nyawa dan kehancuran infrastruktur.

Situasi ini kian rumit karena diplomasi internasional hancur berantakan. Israel bahkan menargetkan Doha untuk menyerang pimpinan Hamas saat mereka bertemu membahas gencatan senjata. Proposal gencatan senjata yang disetujui Hamas sejak 18 Agustus ditolak mentah-mentah. Netanyahu menuntut penyerahan total: semua tawanan dibebaskan sekaligus, Hamas menyerahkan kekuasaan, dan senjata mereka dilucuti. Realistis? Jelas tidak. Pendudukan Gaza seperti menuntut keajaiban, tapi tak pernah memberi jalan damai.

Di sini kita bisa melihat pola absurditas yang lebih besar: keputusan politik yang diambil tanpa masukan strategis, tentara yang mengetahui risiko tapi tak punya kata dalam eksekusi, dan warga sipil yang menjadi korban. Zamir menentang pendudukan dan pemerintahan militer, bukan karena lemah, tapi karena cerdas. Dia memahami bahwa pendudukan Gaza akan menimbulkan luka panjang, yang tidak bisa ditambal dengan bom atau propaganda. Ironisnya, suara rasional itu justru ditinggalkan, sementara kebijakan sembrono terus dijalankan.

Kita bisa membayangkan kehidupan sehari-hari di Gaza: listrik yang padam, sekolah yang hancur, anak-anak yang hidup di reruntuhan. Semua ini akibat keputusan yang seolah dibuat di ruang rapat tanpa peta, tanpa skenario pasca-operasi. Pendudukan Gaza bukan sekadar soal taktik militer; ini tentang kemanusiaan yang digadaikan demi ambisi politik. Dan kita di luar sana, membaca laporan dan statistik, hanya bisa tercengang melihat absurditasnya.

Zamir juga menyinggung mekanisme bantuan US-Israeli, Gaza Humanitarian Foundation, sebagai “kegagalan.” Sebuah frasa yang sederhana, tapi mengandung kritik mendalam: bantuan yang seharusnya meringankan penderitaan justru tak efektif. Di satu sisi, bom berjatuhan; di sisi lain, bantuan tak sampai. Pendudukan Gaza berjalan tanpa visi kemanusiaan, tanpa pertimbangan diplomatik, dan tanpa perhitungan nyata atas konsekuensi politiknya.

Yang lebih menyedihkan, retakan antara Netanyahu dan militer membuka cermin bagi publik Israel sendiri. Jenderal terhormat mempertanyakan tujuan perang, mengingatkan risiko, dan menilai operasi ini sia-sia. Tapi pemerintah tetap memaksakan kehendak. Bagi warga dunia, ini bukan hanya tentang konflik Israel-Palestina; ini tentang bagaimana ambisi politik bisa menenggelamkan akal sehat dan etika dasar.

Jika kita mundur selangkah, absurditas ini terlihat lebih jelas. Selama dekade terakhir, pendudukan Gaza selalu menjadi tema retoris: siapa pun yang memimpin Israel selalu mengklaim kontrol, keamanan, dan stabilitas. Nyatanya, dua tahun perang genosidal, ratusan serangan udara, dan ribuan korban tidak mengubah satu hal mendasar: Hamas tetap ada, warga sipil menderita, dan kota itu hancur. Pendudukan Gaza tidak menyelesaikan masalah; ia hanya menumpuk masalah baru di atas masalah lama.

Di sisi lain, kita bisa menertawakan getirnya situasi ini, tapi pahitnya terasa di setiap laporan kemanusiaan. Anak-anak yang kehilangan rumah, keluarga yang kehilangan sumber penghidupan, dan masyarakat yang hidup di reruntuhan bukan sekadar statistik. Mereka adalah manusia yang terjebak dalam eksperimen politik dan militer tanpa peta jalan. Jika catur bisa dimainkan tanpa papan, manusia jelas tidak. Dan pendudukan Gaza adalah bukti paling nyata dari ketidakmampuan memisahkan ambisi politik dari tanggung jawab moral.

Akhirnya, kita sampai pada satu kesimpulan: pendudukan Gaza, sebagaimana dirancang saat ini, adalah permainan catur tanpa papan. Tidak ada aturan, tidak ada rencana pasca-kemenangan, hanya langkah impulsif dan ambisi kosong. Netanyahu bisa mengklaim setiap bom sebagai kemenangan, tapi kenyataannya, kerusakan yang ditinggalkan tidak bisa diukur dalam jargon militer atau narasi politik. Zamir tahu, tentara tahu, dan dunia tahu: perang tanpa peta adalah tragedi yang berulang, bukan kemenangan yang dibanggakan.

Kita semua bisa tersenyum getir melihat absurditas ini, tapi senyum itu pahit. Karena di baliknya, manusia—bukan pion atau raja catur—menjadi korban. Dan ketika perang berakhir, siapa yang akan menanggung konsekuensi? Pendudukan Gaza seharusnya menjadi pelajaran: strategi tanpa visi, kekerasan tanpa moral, dan ambisi tanpa batas hanya menimbulkan puing. Netanyahu boleh main catur tanpa papan, tapi dunia melihat dan mengingat.

Kini lebih jelas: strategi Netanyahu di Gaza bukan soal kemenangan, tapi soal mempertahankan ambisi politik tanpa batas. Dan kita, yang mengamati dari jauh, hanya bisa merenung, membaca laporan, dan bertanya pada diri sendiri—apa harga manusia yang harus dibayar untuk catur tanpa papan ini?

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Netanyahu Kian Rapuh Saat Tekanan Gaza Memuncak

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer