Connect with us

Opini

Boikot Akademik Israel Meluas di Kampus Dunia

Published

on

Ilustrasi universitas dunia memutus kerja sama akademik dengan Israel.

Ada sesuatu yang menggelitik sekaligus mengusik nurani ketika kampus-kampus besar, tempat kita biasa membayangkan kebebasan berpikir dan kejujuran intelektual, tiba-tiba memutuskan hubungan dengan universitas di Israel. Bagi sebagian orang, itu mungkin dianggap langkah ekstrem, berlebihan, bahkan melanggar prinsip kebebasan akademik. Tapi mari jujur: apa artinya kebebasan akademik jika ia berubah menjadi jubah mewah untuk menutupi keterlibatan dalam perang, pendudukan, dan penindasan yang berlangsung puluhan tahun?

Saya rasa, absurditasnya justru terlihat jelas. Israel yang selama ini menjual diri sebagai negara inovatif dengan universitas kelas dunia, ternyata menghadapi kenyataan pahit: reputasi akademianya kini dilihat bukan sebagai menara gading pengetahuan, melainkan bagian dari mesin perang. Boikot akademik Israel bukan sekadar pemutusan kerja sama riset; ini tamparan moral, semacam pengingat bahwa ilmu tidak bisa berdiri di atas darah anak-anak Gaza yang dibantai tanpa ampun.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi đź’›

Laporan The Guardian mencatat, universitas di Brasil, Norwegia, Belgia, hingga Spanyol sudah mengambil langkah berani. Trinity College Dublin dan University of Amsterdam menyusul. Asosiasi Antropolog Sosial Eropa pun menyerukan hal serupa. Ini bukan gerakan kecil. Ini gelombang. Gelombang yang mungkin terasa sepi di layar berita utama, tapi berdentum keras di ruang-ruang akademik, ruang yang biasanya begitu takut terlihat berpihak.

Tentu ada yang protes. Di Inggris, Prancis, dan Jerman, banyak kampus menolak ikut arus. Mereka bersembunyi di balik kata-kata indah tentang “kebebasan akademik” dan “ketidakadilan jika menghukum akademisi yang kritis pada pemerintahnya sendiri.” Tapi di balik dalih itu, kita bisa bertanya: sejak kapan diam dianggap cukup? Jika sebagian akademisi Israel benar-benar menolak kebijakan Netanyahu, mengapa suara mereka nyaris tak terdengar? Dan jika universitas di Israel memang tidak bersalah, mengapa begitu dekat dengan militer, bahkan ikut melatih aparat yang menindas Palestina?

Ilan Pappé, sejarawan Israel yang dikenal lantang, menegaskan hal itu: sebagian besar akademisi Israel tidak menentang kebijakan negara, tidak menolak wajib militer, bahkan berperan dalam mendukung institusi penindasan. Ironinya jelas—universitas yang mestinya melahirkan pikiran bebas justru ikut menjaga pagar apartheid. Maka ketika dunia luar memilih untuk memutus tali kerja sama, yang ditampar bukan hanya pemerintah Israel, tapi juga wajah akademianya yang penuh kemunafikan.

Namun, mari kita bicara dampak. Di permukaan, riset Israel mungkin tidak langsung lumpuh. Mereka masih punya sumber daya domestik, masih punya mitra yang loyal. Tetapi, bayangkan efek jangka panjang ketika Horizon Europe, program pendanaan riset terbesar di Eropa, mulai mengurangi kucuran dana. Antara 2021 dan 2024, Israel menerima hampir €876 juta dari program ini. Jika angka itu menyusut, maka bukan hanya laboratorium yang kekurangan dana, tapi juga reputasi sebagai pusat inovasi yang selama ini dijadikan “soft power” Israel akan perlahan hancur.

Saya kira inilah yang membuat pemerintah Israel panik hingga harus menggelontorkan €22 juta hanya untuk melawan boikot akademik. Aneh tapi nyata: negara yang terbiasa mengandalkan militer, kini harus berperang melawan para profesor, peneliti, dan mahasiswa. Pertarungan reputasi ini bukan soal peluru atau rudal, tapi soal siapa yang berhak menentukan makna moral dari sebuah universitas. Dan Israel tampaknya mulai kalah di medan ini.

Tentu, kritik tetap berdatangan. Venki Ramakrishnan, ilmuwan peraih Nobel, misalnya, mengatakan bahwa boikot bisa menghukum akademisi yang menentang kebijakan pemerintah. Saya tidak menafikan kegelisahan itu. Namun, mari kita bandingkan skala ketidakadilan. Apa yang lebih parah: beberapa akademisi merasa tidak nyaman karena boikot, atau ribuan nyawa di Gaza hilang karena bom yang sebagian teknologinya dikembangkan dengan dukungan riset universitas Israel? Di titik ini, argumen kebebasan akademik jadi terdengar rapuh, seolah lebih peduli pada kenyamanan segelintir orang daripada penderitaan jutaan manusia.

Dalam konteks Indonesia, kita bisa melihat cerminnya. Bayangkan jika sebuah universitas di negeri kita ikut mendukung program yang menindas rakyat kecil, apakah kita akan diam saja dengan alasan “kebebasan akademik”? Saya rasa tidak. Kita tahu benar bahwa ilmu pengetahuan tanpa moral adalah hampa. Kampus bukan hanya tempat mencetak sarjana, tapi juga tempat menumbuhkan nurani. Dan jika nurani itu mati, maka secanggih apa pun penelitian yang dilakukan hanya akan menjadi catatan hitam sejarah.

Gerakan boikot akademik Israel mengingatkan kita pada perjuangan melawan apartheid Afrika Selatan dulu. Awalnya ditertawakan, dianggap tidak efektif, bahkan disebut berbahaya. Tapi lambat laun, isolasi di bidang akademik, olahraga, dan budaya menumpuk menjadi tekanan global yang tak tertahankan. Kini, Israel sedang menghadapi bibit yang sama. Bukan mustahil, jika gelombang ini membesar, reputasi internasional mereka akan runtuh bukan karena tank atau senjata, melainkan karena mahasiswa dan dosen yang menolak bekerja sama.

Dan di sinilah ironinya yang paling getir. Israel mungkin bisa mengabaikan kecaman politik, bisa bertahan dari embargo diplomatik, bahkan bisa menekan media dengan lobi-lobi kuat. Tapi menghadapi para akademisi dunia yang perlahan-lahan memutus hubungan, mereka menghadapi musuh yang jauh lebih berbahaya: hilangnya legitimasi moral. Begitu dunia akademik—yang sering jadi panutan dalam hal etika dan kebebasan berpikir—menutup pintu, citra Israel sebagai negara modern dan progresif berubah menjadi negara yang kotor oleh darah.

Boikot akademik Israel meluas di kampus dunia bukan sekadar berita biasa. Ia adalah tanda zaman, isyarat bahwa nurani global sedang bergerak. Gerakan ini mungkin tidak cepat, tidak spektakuler, tapi ia konsisten dan menyakitkan. Seperti tetes air yang perlahan mengikis batu, ia bisa melubangi legitimasi yang selama ini dianggap kokoh. Dan bagi Israel, ini lebih berbahaya daripada rudal yang datang dari langit Gaza. Sebab rudal bisa dihadang, tapi hilangnya rasa hormat dari komunitas akademik global adalah luka yang tak mudah sembuh.

2 Comments

2 Comments

  1. Pingback: Boikot Pangan: Senjata Sunyi Mengguncang Zionis

  2. Pingback: Boikot Akademik Israel Pecahkan Netralitas Ilmu

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer