Opini
AS Siap Membakar Laut Karibia?
Laut Karibia yang dulu identik dengan pantai berpasir putih, musik salsa, dan kapal pesiar kini berubah jadi panggung ketegangan. Di balik hamparan biru air laut, ada suara gemuruh mesin F-35 yang menderu dari Puerto Rico. Sepuluh pesawat tempur siluman, simbol arogan teknologi militer Amerika, disiapkan seolah-olah narkotika hanya bisa diberantas dengan misil berkecepatan supersonik. Ironi mencolok. Bagaimana mungkin perang melawan kartel justru dipentaskan dengan jet yang biasa dipakai untuk mengintai Rusia atau Tiongkok?
Inilah absurditas yang kita hadapi. Washington, dengan dalih perang melawan narkoba, menebarkan kapal perang, kapal selam nuklir, dan ribuan marinir di depan rumah Venezuela. Bukan satu atau dua perahu patroli, melainkan armada besar yang cukup untuk membuka babak perang baru. Lalu Trump, dengan gaya khasnya yang bombastis, menyebut Venezuela sebagai negara kriminal, bahkan menuduh Maduro sebagai kepala kartel. Seakan-akan dunia belum cukup lelah dengan narasi palsu ala “senjata pemusnah massal” di Irak. Seakan sejarah hanya untuk dilupakan, bukan dipelajari.
Saya rasa kita semua bisa membaca pola ini. Narkotika hanyalah tirai tipis. Di baliknya, ada obsesi lama Washington untuk menggulingkan pemerintah Caracas. Rezim Maduro dianggap batu sandungan bagi kepentingan AS di Amerika Latin. Tak heran jika Laut Karibia kini dipersiapkan seperti panggung perang, lengkap dengan aktor-aktor bersenjata dan dialog penuh ancaman. Maduro menyebutnya sebagai “ancaman terbesar dalam satu abad.” Mungkin terdengar berlebihan bagi sebagian orang, tapi siapa yang bisa menyangkal bahwa ancaman ini nyata ketika kapal perang Amerika berlayar dengan 1.200 misil siap tembak?
Mari kita tarik napas sejenak. Bayangkan jika negara kita yang diperlakukan demikian. Kapal tempur asing mondar-mandir di perairan kita, dengan alasan memberantas narkoba, tapi target sebenarnya adalah pemerintah kita. Saya yakin, reaksi rakyat Indonesia pun tak jauh berbeda dengan yang terjadi di Venezuela. Nasionalisme bangkit bukan karena jargon, melainkan karena harga diri diinjak-injak. Orang yang merasa ditindas justru lebih berani melawan. Itu hukum sosial yang sederhana, sesuatu yang seharusnya juga dipahami oleh Pentagon.
Tapi logika kadang kalah oleh arogansi. Amerika tampaknya tak peduli bahwa setiap manuver militer hanya akan memperkuat posisi Maduro di dalam negeri. Ia mungkin tengah menghadapi krisis ekonomi, inflasi gila-gilaan, dan eksodus jutaan warganya, tetapi ancaman asing membuatnya bisa kembali tampil sebagai simbol perlawanan. Bukankah sejarah Amerika Latin penuh dengan tokoh yang dilahirkan justru dari bayang-bayang intervensi AS? Dari Che Guevara hingga Hugo Chávez, narasi “melawan imperialisme” selalu menjadi pupuk subur bagi politik lokal.
Namun di sinilah letak paradoksnya. Washington tahu betul hal itu, tapi tetap saja mengulangi pola lama. Apakah ini ketidaktahuan atau memang kesengajaan? Saya cenderung melihatnya sebagai strategi politik domestik di Amerika. Trump, yang senang sekali tampil garang di panggung internasional, membutuhkan “musuh baru” untuk meneguhkan citra jagoannya di mata publik. Dan Venezuela, negara yang ekonominya porak-poranda dan reputasinya dicitrakan buruk di media Barat, adalah target yang mudah. Seperti seorang petinju kelas berat yang memilih tanding melawan lawan yang sudah pincang, hanya agar bisa memamerkan pukulannya.
Namun risiko yang dihasilkan tidak bisa disepelekan. Laut Karibia bukan arena tinju pribadi. Ia adalah jalur vital perdagangan, tempat hidup jutaan orang yang bergantung pada pariwisata, perikanan, dan logistik. Jika konflik meledak, dampaknya akan menyapu seluruh kawasan, bahkan mungkin meluas ke benua lain. Negara-negara Amerika Latin yang sudah lama jenuh dengan “gunboat diplomacy” pasti akan melihat ini sebagai provokasi terang-terangan. Dan kita tahu, setiap provokasi menimbulkan respons. Laut yang tenang bisa jadi kobaran api hanya karena satu percikan.
Lebih ironis lagi, operasi kontra-narkotika yang digembar-gemborkan seolah-olah suci itu ternyata diwarnai dengan pembunuhan di laut. Sebuah kapal diledakkan oleh pasukan AS, sebelas orang tewas, dan Washington buru-buru menuding bahwa kapal itu milik jaringan Tren de Aragua. Caracas membalas dengan tuduhan bahwa video operasi yang dipakai sebagai bukti adalah rekayasa kecerdasan buatan. Entah benar atau tidak, yang jelas darah sudah tumpah, dan setiap tetesnya akan menambah bara dalam api.
Saya jadi teringat pada pepatah lama: “Jika semua yang kau punya adalah palu, maka semua masalah akan tampak seperti paku.” Bagi Amerika, palu itu adalah kekuatan militer. Dan masalah narkoba? Tentu saja harus dipukul dengan kapal perang. Padahal kita tahu, perdagangan narkotika adalah jaringan sosial-ekonomi yang jauh lebih rumit, melibatkan mafia lintas negara, pasar gelap, hingga kolusi pejabat. Tapi alih-alih membangun kerjasama intelijen atau memperkuat aparat sipil, mereka justru memilih menyalakan mesin jet tempur.
Dari perspektif kita di Indonesia, langkah ini memberi pelajaran penting. Bahwa dalih “keamanan global” bisa berubah menjadi ancaman bagi kedaulatan negara. Bahwa istilah “narkoterroris” atau “narco-state” bisa digunakan untuk melabeli siapa saja yang tak sejalan dengan kepentingan Washington. Hari ini Venezuela, besok bisa siapa pun. Di sinilah pentingnya solidaritas antarnegara Selatan, solidaritas yang bukan hanya romantis, tapi juga strategis. Jika tidak, kita semua bisa berakhir jadi sasaran berikutnya dari logika intervensi yang tidak pernah puas.
Pada akhirnya, pertanyaan yang paling menggelitik adalah ini: apakah Amerika benar-benar siap membakar Laut Karibia? Ataukah semua ini hanya pertunjukan teatrikal untuk menakut-nakuti Caracas dan memuaskan ego Trump di dalam negeri? Jujur saja, saya berharap jawabannya yang kedua. Tapi sejarah terlalu sering membuktikan bahwa ancaman seperti ini bukan sekadar retorika. Dan kalau perang benar-benar meletus, yang terbakar bukan hanya Karibia, melainkan juga wajah kemanusiaan kita. Sebab pada detik itu, kita kembali menyaksikan dunia yang gagal belajar dari kesalahan lama—dunia yang masih percaya bahwa misil lebih ampuh daripada dialog, bahwa kekuatan senjata lebih mulia daripada kedaulatan sebuah bangsa.
Saya rasa, di titik ini, kita hanya bisa tersenyum getir. Getir karena absurditasnya begitu jelas, getir karena kita tahu apa yang akan terjadi jika api benar-benar menyala. Tapi juga getir karena, sekali lagi, kita melihat betapa rapuhnya hukum internasional ketika berhadapan dengan ambisi sebuah negara adidaya. Dan itulah alasan mengapa, bahkan dari jauh di Indonesia, kita patut waspada. Sebab api yang membakar Karibia bisa dengan mudah merambat ke mana saja.
Sumber:

Pingback: Donald Trump dan Pola Lama Kekerasan Amerika