Connect with us

Opini

Ketika Pemerintah ‘Takut’ One Piece: Bajak Laut Melawan Negara?

Published

on

“Ini cara-cara provokatif yang ingin menjatuhkan pemerintahan, tidak boleh,” kata seorang legislator dengan nada serius, seakan sedang mengumumkan darurat nasional. Bukan karena korupsi. Bukan karena kemiskinan atau defisit pangan. Tapi karena sebuah bendera—ya, bendera bajak laut dari anime One Piece—berkibar di belakang truk-truk rakyat menjelang 17 Agustus. Tak pelak, kain hitam bergambar tengkorak itu pun masuk daftar musuh negara.

Kita hidup di zaman yang aneh. Di mana simbol fiksi dari budaya pop bisa lebih mengundang kekhawatiran negara dibanding barisan mafia anggaran atau pengemplang pajak. Seolah-olah kru Topi Jerami benar-benar berlayar dari Dunia Baru ke Pelabuhan Tanjung Priok untuk menggulingkan pemerintahan. Dan negara, dengan seluruh perangkat intelijennya, merasa perlu siaga satu.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Padahal, bendera Jolly Roger itu bukan manifesto revolusi. Ia bukan selebaran makar atau panggilan jihad. Ia hanya simbol dari sebuah cerita petualangan yang sangat disukai anak muda. Namun di tangan penguasa yang gelisah, bendera itu berubah menjadi senjata imajinatif yang konon bisa memecah belah bangsa. Kita sungguh sedang hidup di zaman di mana ironi tak lagi harus ditulis dalam puisi—cukup buka berita hari ini, dan absurditas sudah mengalir deras dari gedung parlemen.

Yang lebih ironis lagi, saat anak muda mengibarkan simbol fiksi sebagai bentuk ekspresi, reaksi pertama dari sebagian elite bukanlah memahami, tapi menuduh. “Makhluk asing apa ini? Bajak laut? Tengkorak? Wah, pasti ini bagian dari upaya sistematis untuk memecah persatuan nasional!” Kata seorang pejabat, seolah-olah negeri ini sedang terancam oleh kartun Jepang, bukan oleh oligarki, pencucian uang, atau politisi pelupa LHKPN.

Ketakutan berlebihan ini mengingatkan kita pada sindrom klasik rezim yang kehilangan sentuhan dengan rakyatnya: menganggap kritik sebagai permusuhan, kreativitas sebagai ancaman, dan ekspresi sebagai makar. Semua dibungkus dalam nama ‘persatuan bangsa’—frasa suci yang sayangnya terlalu sering digunakan untuk mengebiri perbedaan dan membungkam kebebasan.

Dan sungguh, satu hal yang patut dicatat: negara yang besar tak akan runtuh karena bendera anime. Tapi negara bisa goyah jika pejabatnya panik pada simbol, dan abai pada substansi. Negara bisa kehilangan kepercayaan warganya bukan karena meme bajak laut, melainkan karena merasa alergi terhadap imajinasi rakyat sendiri.

Mari kita lihat lebih jernih. Dalam One Piece, Jolly Roger bukan simbol kehancuran. Ia adalah lambang persahabatan, loyalitas, kebebasan, dan tekad untuk melawan ketidakadilan. Luffy dan kru-nya bukan bajak laut yang membakar desa atau menjarah rakyat—mereka justru menolong yang lemah, menjatuhkan penguasa korup, dan memberi harapan. Jika ada yang merasa tersindir oleh simbol itu, mungkin pertanyaannya bukan “mengapa rakyat mengibarkan Jolly Roger?” tetapi “mengapa pemerintah merasa sedang berperan sebagai World Government?”

Inilah barangkali yang paling membuat gelisah mereka: bahwa rakyat, bahkan lewat simbol fiksi, sedang menyuarakan sesuatu yang nyata. Bahwa mereka lelah—lelah melihat kebijakan yang lebih memanjakan investor ketimbang petani. Lelah dengan birokrasi yang ribet untuk rakyat kecil tapi longgar bagi konglomerat. Lelah karena kata “merdeka” terasa makin semu, terutama saat melihat penguasa yang semakin anti kritik namun semakin mesra dengan kekuasaan itu sendiri.

Simbol adalah cermin. Dan Jolly Roger hari ini mungkin sedang mencerminkan wajah kekuasaan yang kehilangan kemampuannya untuk bercermin. Ketika anak-anak muda lebih bangga mengibarkan bendera bajak laut ketimbang Merah Putih, itu bukan berarti mereka anti-NKRI. Itu sinyal bahwa simbol resmi negara telah kehilangan makna emosionalnya di mata mereka. Bahwa patriotisme tak bisa sekadar dinyanyikan di upacara, tapi harus dirasakan dalam perlakuan negara sehari-hari.

Jika bendera Jolly Roger dianggap lebih “mewakili” perasaan rakyat ketimbang bendera negara, maka itu bukan masalah pada rakyatnya. Itu krisis pada negara, yang gagal menjadikan dirinya layak dicintai.

Lalu datanglah solusi klise dari para elit: interogasi! Pembinaan! Pemantauan media sosial! Sebuah respons khas dari negara yang lebih memilih pendekatan keamanan daripada pendekatan kebudayaan. Tapi apakah negara serius ingin menginterogasi seluruh penggemar One Piece di Indonesia? Jumlah mereka jutaan. Apakah ingin membina mereka agar hanya boleh menonton sinetron dan parade marching band saat 17-an? Kalau iya, silakan, tapi bersiaplah kehilangan satu generasi yang sedang tumbuh dalam era global, digital, dan penuh referensi lintas budaya.

Kenyataannya, ekspresi rakyat tak bisa dibatasi oleh selera elite. Di tengah ruang publik yang makin sempit, simbol-simbol kreatif justru menjadi bahasa perlawanan yang lebih elegan. Karena saat tak bisa berteriak, orang memilih tersenyum getir. Saat tak bisa protes, mereka membuat parodi. Dan saat tak bisa menyampaikan kritik dengan kata-kata, mereka menggantinya dengan selembar kain bertengkorak.

Masalahnya bukan pada rakyat yang kreatif. Masalahnya ada pada negara yang gagal menjadi relevan di mata rakyatnya sendiri.

Tentu, tak semua yang mengibarkan bendera Jolly Roger punya kesadaran politik. Sebagian hanya ikut tren. Tapi bukankah tren itu sendiri adalah indikator arah arus bawah masyarakat? Bahwa mereka merasa bosan dengan formalitas, ingin ekspresi baru yang lebih dekat dengan dunia mereka. Bukankah itu justru peluang emas bagi negara untuk mendekat, bukan menjauh?

Alih-alih memusuhi, mengapa tidak merangkul? Mengapa tidak justru mengajak komunitas penggemar anime untuk berpartisipasi dalam parade kemerdekaan dengan cara mereka sendiri? Mengapa tak menjadikan cosplay Luffy dan kawan-kawan sebagai bagian dari semangat kemerdekaan yang inklusif? Tapi tentu, itu butuh keberanian untuk berpikir di luar seragam dan protokol. Dan itulah yang seringkali kurang di ruang kekuasaan: keberanian untuk mendengarkan rakyat tanpa syarat.

Pada akhirnya, yang memecah bangsa bukanlah simbol bajak laut. Tapi ketidakadilan yang dibiarkan tumbuh. Ketika rakyat tak merasa didengar, tak merasa dihargai, dan tak merasa dilindungi, mereka akan menciptakan bahasa mereka sendiri. Entah lewat lagu, mural, meme, atau bahkan bendera anime. Dan jika itu semua dianggap sebagai ancaman, maka barangkali yang sejatinya sedang rapuh bukan kesatuan bangsa—melainkan kepercayaan rakyat pada wibawa negara.

Karena negeri ini tidak akan goyah oleh simbol fiksi. Tapi bisa runtuh jika terus-terusan mengabaikan kenyataan. Dan hari ini, kenyataan itu sedang dikibarkan dari belakang truk-truk, dalam bentuk bendera tengkorak, dengan pesan sunyi yang keras: kami mencintai negeri ini, tapi kami muak dengan cara kalian memimpinnya.

Sumber:

 

3 Comments

3 Comments

  1. Pingback: Pati: Peringatan bagi Semua Pemimpin - vichara.id

  2. Pingback: Wawancara Eksklusif dengan Dandhy Laksono - vichara.id

  3. Pingback: Prabowo, Bendera One Piece, dan Satire Rakyat

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer