Opini
Narasi Israel Tak Bisa Lawan Perut Kosong Anak Gaza
Mereka bilang: “Tak ada kelaparan di Gaza.” Padahal tubuh-tubuh mungil anak-anak yang kurus kering dan mata mereka yang kosong adalah bukti paling telanjang dari dusta yang dipelihara dengan angkuh. Di tengah reruntuhan rumah sakit dan sekolah yang kini hanya menyisakan debu dan darah, para bocah Palestina bukan hanya kehilangan tempat berlindung, tapi juga kehilangan hak paling dasar dalam hidup: makan. Dan ironisnya, tragedi ini diperdebatkan seperti statistik yang bisa dinegosiasikan. Ada yang benar-benar mati. Ada yang sibuk mencari alasan untuk membenarkan kematian.
Bayangkan ini terjadi di Jakarta. Anak-anak di Tambora, Cipinang, atau Cibitung, menunggu bantuan yang tak kunjung datang, lalu tumbang satu per satu karena tak ada sebutir nasi pun yang bisa dikunyah. Lalu seorang pejabat berdasi berkata di televisi: “Mereka tidak lapar. Mereka cuma kurus karena penyakit.” Kira-kira, berapa hari kita bisa menahan marah sebelum jalanan meledak oleh amarah rakyat?
Tapi ini Gaza. Negeri yang oleh sebagian dunia, nyawanya seperti sudah diskon dari dulu. Harga satu kematian di sana tak setara satu cuitan trending di X, apalagi satu lembar proposal kerja sama dagang dengan negara agresor. Dan ketika laporan-laporan mengerikan membanjiri ruang media—anak-anak mati kelaparan, rumah sakit penuh sesak, ratusan orang tewas saat antre bantuan—pemerintah Israel justru meluncurkan kampanye komunikasi. Seolah perang ini cuma soal narasi yang bisa ditambal dengan retorika.
“Tak ada kelaparan di Gaza,” kata mereka. “Yang ada hanyalah kelaparan akan kebenaran.” Bunyinya hampir puitis, andai tidak begitu menyakitkan. Pernyataan ini muncul dari bibir David Mencer, juru bicara pemerintah Israel, yang tampaknya lebih sibuk merapikan metafora daripada merapikan konvoi bantuan kemanusiaan yang dicegat di jalan. Sementara itu, WHO menyebutnya secara gamblang: ini “kelaparan massal buatan manusia.” Tapi tampaknya, bagi sebagian politisi, kenyataan hanya valid jika sesuai dengan naskah propaganda mereka.
Dalam perang ini, Israel tak hanya mengandalkan senjata, tapi juga kata-kata. Namun rupanya, propaganda bukan tandingan rasa lapar. Anak-anak Gaza tak bisa diberi makan dengan pernyataan pers. Tidak bisa kenyang hanya dengan bantahan bahwa “itu bukan salah kami”. Ketika perut kosong menjerit, narasi menjadi bisu.
Ada pula yang lebih jujur, dalam artian yang paling mengerikan. Menteri Warisan Israel, Amichai Eliyahu, menyatakan bahwa mereka sedang bekerja keras untuk “menghapus Gaza” dan menggantinya dengan pemukim Israel. Lebih jauh lagi, dia bilang, “Tak perlu peduli soal kelaparan. Biar dunia saja yang pusing.” Betapa nyaman hidup sebagai penguasa yang punya kekuatan membunuh sekaligus membantahnya, dan dunia pun hanya bergumam pelan, menghindari konflik dagang, sambil menatap layar sambil makan malam.
UNICEF mencatat lonjakan gila-gilaan dalam angka anak yang dirawat karena malnutrisi di Gaza. Dalam sebulan, lebih dari 6.500 anak menjalani perawatan karena kurang gizi. Dan ini bukan malnutrisi ringan seperti kurang makan sayur. Ini malnutrisi yang mengubah tubuh menjadi kerangka hidup. Gizi yang kurang bukan hanya membuat anak-anak lamban tumbuh, tapi juga lamban bernapas—hingga akhirnya benar-benar berhenti. Tapi di layar televisi, semua itu berubah menjadi sekadar ‘kompleksitas konflik’. Begitulah bahasa diplomasi: membuat kematian tampak sopan.
Sementara Israel sibuk menuduh Hamas sebagai penyebab krisis, data justru menunjukkan sebaliknya. Laporan bocoran dari pemerintah AS—bukan dari LSM kiri atau aktivis jalanan—menyebutkan bahwa tidak ada bukti bahwa Hamas mencuri bantuan dari 156 pengiriman bantuan AS. Tidak ada. Nol. Tapi mitos terus dipelihara, karena lebih mudah menyalahkan ‘teroris’ daripada mengakui bahwa narasi itu tak mampu menyembunyikan perut-perut lapar yang terus bertambah jumlahnya.
Israel terus membangun dunia paralel: satu realitas di lapangan, satu lagi di panggung konferensi pers. Dalam dunia kedua ini, Gaza tidak kelaparan, hanya “bermasalah logistik.” Anak-anak yang kurus tinggal hasil “penyakit lama.” Bantuan yang terhambat? Salah PBB. Bantuan yang diserang? Salah rakyat yang terlalu rakus mengantri. Tapi dunia yang jujur tahu: tak ada narasi sehebat apapun yang bisa membantah kenyataan seorang anak yang mati di pelukan ibunya karena tak ada susu yang bisa diminum.
Di tengah semua ini, terdapat sebuah upaya sistematis untuk menghapus bukan hanya manusia, tapi juga memori tentang mereka. UNRWA, badan PBB yang jadi tulang punggung bantuan di Gaza, dilarang beroperasi oleh Israel. Yang menggantikan adalah Gaza Humanitarian Foundation, badan swasta yang tak punya pengalaman, tak punya jaringan, tapi punya restu dari Tel Aviv dan Washington. Bantuan jadi ajang eksperimen, dan rakyat Gaza jadi kelinci percobaannya. Beberapa pusat distribusi bahkan menjadi lokasi pembantaian: 1.092 orang dibunuh ketika sedang mengantre bantuan, dan lebih dari 7.000 terluka. Narasi boleh ditulis ulang, tapi darah tak bisa disensor.
Mungkin sebagian kita merasa ini jauh, terlalu asing. Tapi mari sedikit berimajinasi: bagaimana jika 83 anak Indonesia tewas karena kelaparan dalam 5 bulan? Kita akan menyebutnya bencana nasional. Akan ada sidang, demonstrasi, headline, dan gelombang empati. Tapi untuk Gaza, angka ini hanya masuk ke grafik yang diperbarui tiap pekan, seperti statistik cuaca.
Yang paling menyakitkan bukan hanya kenyataan bahwa ini dibiarkan, tapi bahwa sebagian dunia tidak mau peduli. Bahkan sebagian aktif membela. Negara-negara seperti AS, Inggris, Jerman, dan Prancis—yang kerap bersuara soal hak asasi dan kebebasan—justru menjadi simpul utama dari dukungan yang memperpanjang penderitaan. Lalu kita bertanya, untuk apa ada Konvensi Jenewa jika tidak pernah ditegakkan saat yang paling dibutuhkan? Untuk apa ada Mahkamah Kriminal Internasional kalau yang diseret ke sana hanya musuh-musuh Barat?
Lebih dari 122 orang mati kelaparan. Termasuk 83 anak. Ini bukan hanya statistik—ini adalah penghakiman terhadap peradaban modern. Dan Gaza, kota yang bahkan tak bisa menyambut kelahiran anak-anaknya tanpa takut akan kematian, kini terpaksa menjadi pengingat paling menyayat bahwa dunia tak sebaik yang kita kira.
Narasi demi narasi terus diproduksi oleh Tel Aviv. Tapi perut-perut kosong di Gaza bukan ruang sunting berita. Mereka nyata, lapar, dan makin lama makin sepi. Bahkan diamnya mereka bukan karena tunduk, tapi karena tak lagi punya energi untuk menangis. Ketika Israel berkata “tak ada kelaparan,” yang mereka tolak bukan fakta, tapi rasa malu.
Kita tidak hanya dihadapkan pada kekejaman, tapi juga pada absurditas yang merayap dalam bahasa-bahasa resmi. Pejabat yang berkata, “Kalau mereka benar-benar lapar, mereka pasti kembalikan sandera,” seolah menyamakan anak-anak yang kelaparan dengan pion politik. Betapa ringan lidah mereka bermain di atas luka manusia. Betapa dalam luka itu menganga saat dunia memilih membisu atau pura-pura tak paham.
Dan kita? Kita berada di antara rasa frustasi dan sikap bingung. Mengirim doa, menulis status, kadang menyumbang. Tapi nyawa tak bisa dibeli dengan kata-kata. Maka barangkali, yang tersisa hanyalah satu pilihan: jangan biarkan tragedi ini menjadi biasa. Jangan biarkan angka-angka kematian ini larut dalam kejenuhan kita menonton berita. Jadikan ia kegelisahan yang tak lekang. Biarkan ia tumbuh menjadi desakan, bahkan jika hanya dari sudut ruang kecil bernama hati nurani.
Sebab pada akhirnya, tak ada narasi sehebat apapun yang bisa menipu tubuh-tubuh mungil yang mati karena tak ada yang bisa dimakan. Dan Israel, betapapun canggih retorikanya, tak akan pernah bisa menang melawan perut kosong anak-anak Gaza.
Sumber:
