Connect with us

Opini

Netanyahu: Malaikat untuk Druze, Algojo untuk Gaza

Published

on

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam balutan jas rapi dan suara lantang penuh keyakinan, berdiri di depan kamera pada 17 Juli kemarin. Dengan nada penuh tekad, ia menyampaikan bahwa Israel akan terus menggunakan kekuatan militer di Suriah demi dua hal yang disebutnya sebagai “garis merah”: mencegah militerisasi wilayah selatan Suriah dan melindungi komunitas Druze di Suwayda. Kedengarannya seperti pidato penyelamat. Seolah langit mengguncang bumi demi suara-suara lemah yang tak terdengar. Tapi, mari kita tarik napas dan mengunyah kata-kata itu perlahan. Karena di balik janji suci itu, aroma kepalsuan tercium bahkan dari kejauhan.

Netanyahu bilang bahwa pemerintah Suriah telah melanggar garis merah: mereka mengirim pasukan ke wilayah selatan dan—katanya—melakukan pembantaian terhadap warga Druze. Maka Israel pun turun tangan. Bukan dengan surat diplomatik atau tekanan PBB, bukan dengan negosiasi atau pembicaraan damai, tapi dengan jet tempur dan rudal. Kota-kota seperti Daraa dan Suwayda dihujani bom. Bahkan dekat istana presiden di Damaskus tak luput dari serangan. Semua atas nama perlindungan, katanya. Atas nama saudara-saudara Druze yang “harus dijaga.”

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Kita hidup di zaman yang aneh. Ketika penjajah bisa mengklaim diri sebagai pembela keadilan, dan pelaku genosida menjelma malaikat pelindung minoritas. Ironi tak lagi sekadar hiasan sastra; ia menjadi realitas politik yang ditayangkan dalam kualitas HD, lengkap dengan juru bicara, konferensi pers, dan narasi yang siap dikunyah media arus utama. Apa yang dilakukan Netanyahu di Suriah bukanlah tindakan heroik. Itu kalkulasi geopolitik yang dibungkus drama kemanusiaan. Seolah-olah Israel adalah garda terdepan HAM di Timur Tengah—padahal jejak darah masih segar di Gaza, dan puing-puing rumah warga Palestina belum sempat kering dari tangisan.

Laporan The Cradle menyebut bahwa serangan zionis ini terjadi hanya sehari setelah deklarasi gencatan senjata oleh pemerintah Suriah. Netanyahu dengan bangga mengatakan bahwa gencatan senjata itu bukan hasil diplomasi, tapi hasil dari tekanan kekuatan. Dari serangan. Dari ledakan. Dari kematian. Sebuah kalimat yang, jika Anda berhenti sejenak untuk merenungkan, terdengar seperti pengakuan dosa yang dibungkus dalam kebanggaan militeristik. Perdamaian bukan untuk dicapai, tapi untuk dipaksa. Bukan lewat negosiasi, tapi lewat pemboman.

Jika Anda belum tersedak oleh absurditas ini, mari kita lanjutkan. Di Gaza, Netanyahu berdiri sebagai pemimpin yang mengatur pembantaian besar-besaran terhadap warga sipil. Anak-anak, ibu hamil, jurnalis, bahkan pekerja medis menjadi korban. Rumah sakit dibom. Sekolah dijadikan puing. Ribuan nyawa melayang—tanpa peringatan, tanpa pengadilan. Di hadapan dunia, Israel menyebut itu sebagai “hak membela diri”. Tapi ketika pemerintah Suriah mengirim pasukan ke wilayah dalam negaranya sendiri—ya, Suriah masih berdaulat, bukan wilayah bebas serangan—Netanyahu menyebutnya sebagai pelanggaran garis merah. Lalu melancarkan serangan. Di situ letak jenakanya. Tapi jenaka yang berdarah.

Bagaimana mungkin seorang pemimpin yang memimpin genosida bisa bicara tentang perlindungan terhadap minoritas? Dunia seolah punya memori yang pendek—atau barangkali, terlalu selektif. Netanyahu ingin dikenal sebagai pelindung Druze, padahal tangan yang sama yang mengulurkan “perlindungan” itu adalah tangan yang menekan tombol rudal ke rumah sakit Al-Ahli di Gaza. Dalam dunia fiksi, ini akan dianggap plot yang terlalu murahan. Tapi kita hidup di dunia nyata, di mana murahan dan mematikan bisa berjalan berdampingan.

Konflik di Suwayda memang rumit. Ada ketegangan antara kelompok Druze dan milisi Bedouin pro-Damaskus, pemicu sektarian, dan tentu saja, konflik kepentingan antara pusat dan daerah. Tapi, apakah solusinya adalah bom dari luar negeri? Apakah jawaban terhadap krisis sektarian internal adalah serangan udara yang menewaskan warga sipil lainnya? Syrian Observatory for Human Rights melaporkan lebih dari 250 korban tewas sejak konflik meletus. Termasuk eksekusi di luar hukum, penculikan tetua Druze, dan penganiayaan simbolik seperti mencukur kumis mereka—sebuah penghinaan yang sangat serius dalam budaya lokal. Tapi apakah jet tempur Israel membuat keadaan lebih baik? Atau malah memperkeruh?

Lalu kita bertanya: mengapa Netanyahu begitu peduli pada komunitas Druze di Suriah, tapi abai total terhadap penderitaan komunitas Druze di Palestina? Ya, ada ribuan warga Druze yang tinggal di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel sejak 1967. Mereka hidup di bawah pendudukan, identitas mereka dirampas, budaya mereka dikontrol. Tapi tidak ada pidato bombastis tentang “perlindungan” untuk mereka. Tidak ada rudal yang diluncurkan untuk membela hak mereka atas tanah dan bahasa. Rupanya, kepedulian Netanyahu pada Druze bersifat geografis—hanya muncul jika berguna untuk melemahkan musuh.

Di Indonesia, kita juga mengenal fenomena semacam ini. Ketika penguasa bisa dengan enteng berbicara tentang “persatuan” sambil membiarkan aparat membubarkan pengajian yang berbeda mazhab. Ketika simbol-simbol keadilan digunakan untuk menutupi praktik kekuasaan yang menindas. Maka kita belajar satu hal: retorika tanpa konsistensi hanyalah propaganda. Dan dalam kasus Netanyahu, propaganda itu berlumur darah.

Tentu, banyak dari kita sudah terlalu lelah untuk marah. Dunia seolah tidak punya kapasitas lagi untuk merasa ngeri, apalagi bertindak. Tapi mungkin, kita masih bisa tertawa getir. Melihat bagaimana sang algojo berdiri di podium, memoles dirinya sebagai pelindung. Mencitrakan diri sebagai perisai kaum lemah, padahal di belakangnya masih mengalir air mata dari Gaza, dari Rafah, dari Jenin.

Netanyahu tidak berubah. Hanya panggungnya yang berpindah. Dari Gaza ke Suwayda. Dari satu reruntuhan ke reruntuhan berikutnya. Yang berubah hanya nama korban. Tapi modusnya tetap: klaim moral, tindakan brutal. Dunia mungkin akan terus mendengar pidato-pidato penuh retorika, tapi kita yang berpikir—yang masih menyimpan nalar dan nurani—tidak boleh ikut hanyut. Kita punya tanggung jawab untuk terus mengingatkan: bahwa di dunia ini, tidak semua yang berbicara atas nama perdamaian benar-benar menginginkannya.

Kadang, mereka hanya butuh alasan baru untuk perang lama.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer