Opini
Turki: Ahli Diplomasi atau Sang Maestro Kekacauan Suriah?
Oleh: Lutfi Awaludin Basori
Suriah, 13 tahun setelah perang, akhirnya bisa bernafas lega—setidaknya jika kita mengabaikan sedikit hal kecil seperti, oh, misalnya, kehancuran infrastrukturnya, pengungsi yang berlarian, dan—tentu saja—pengambilalihan negara ini yang penuh dengan nuansa “konsolidasi politik.” Tidak perlu khawatir, meski perang hampir berakhir, Turki dengan penuh perhatian memberikan hadiah kejutan untuk Suriah: “Selamat datang dalam pertemuan persahabatan yang penuh dengan pertanyaan besar dan jawaban kecil.”
Siapa yang tidak mengenal Hakan Fidan, Menteri Luar Negeri Turki yang baru saja berkunjung ke Damascus? Dia datang dengan kabar gembira: sanksi terhadap Suriah harus segera dicabut. Sungguh, siapa yang tidak ingin melihat ekonomi yang hancur itu bangkit kembali, terutama ketika mereka sendiri yang telah lama berperan dalam merusak beberapa bagian dari peta ekonomi tersebut?
Tentu saja, Turki tidak sedang mencari keuntungan politik dalam mendorong pencabutan sanksi—mereka hanya ingin melihat “saudaranya” Suriah kembali berdiri dengan megah. Tanpa sedikit pun niatan untuk mencaplok atau mengatur ulang wilayah—hanya sedikit perhatian diplomatik yang diiringi dengan pertemuan “baik-baik” antara Turki dan Hay’at Tahrir al-Sham (HTS). Oh, jangan khawatir, Turki tidak secara langsung mendukung HTS. Itu cuma semacam “teman lama yang pernah bekerja sama dalam beberapa proyek rahasia,” sebuah rekam jejak diplomasi yang sudah pasti bisa dibuktikan oleh siapapun yang mencari dengan cermat.
Tapi tentu, jika kita mendengarkan komentar Donald Trump—yang mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa Turki adalah pihak yang mengatur panggung untuk menggulingkan Bashar al-Assad—semua ini mulai terlihat seperti sebuah sandiwara politik. Trump mungkin tidak menyebutkan ini dengan kata-kata yang tepat, tapi satu hal yang pasti: Turki mungkin tidak hanya sekadar menyaksikan kekacauan ini dari jauh, tetapi terlibat langsung dalam menciptakan dan mengatur ketidakstabilan. Ini seperti orang yang menawarkan tiket untuk sebuah konser kerusuhan, lalu berpura-pura menjadi manajer acara setelah kerusuhan dimulai.
Dan sekarang, kita menyaksikan upaya Turki untuk “mengubah” Suriah melalui pembuatan konstitusi yang didorong oleh berbagai aktor—termasuk HTS, meskipun Turki tidak ingin diakui sebagai sponsor utama. Tetapi apakah ini hanya langkah lanjutan dalam konsolidasi politik Turki untuk mengkoutasi Suriah? Jawaban dari diplomasi ini sangat jelas: Konsolidasi, konsolidasi, dan lebih banyak konsolidasi. Turki tahu betul bahwa siapa yang menguasai Suriah, menguasai kawasan.
Namun, tak ada yang lebih menggembirakan daripada melihat Erdogan dengan percaya diri berkomentar tentang “pembangunan kembali Suriah,” sembari berusaha menenangkan para pengungsi Suriah yang berlarian ke Turki. Sungguh, jika ada negara yang tahu bagaimana “membangun kembali” negara tetangga, itu adalah Turki—setelah hampir satu dekade mengatur banyak wilayah di Suriah dengan sentuhan kebijakan yang hampir tanpa cela. Lalu, setelah itu, Erdogan bisa duduk dengan bangga—”Lihat, kami membantu membangun Suriah kembali!” (Sambil melirik beberapa bagian dari Suriah yang telah jatuh ke tangan kelompok yang juga memiliki hubungan lama dengan Turki.)
Kita semua tentu berharap sanksi terhadap Suriah akan dicabut segera, bukan? Karena itu pasti akan membantu membangun kembali ekonomi Suriah—pasti akan sangat bermanfaat bagi semua pihak, kecuali mereka yang berpendapat bahwa ‘membangun kembali’ berarti memasukkan lebih banyak intervensi asing, dengan tangan-tangan yang tak terlihat menggerakkan marionet Suriah.
Kita bisa saja berharap agar Turki terus melangkah dengan penuh kebijaksanaan dalam kebijakan luar negeri mereka, tetapi satu hal yang pasti: mereka yang mengatur acara di Suriah, mereka yang tahu cara memainkannya.
