Connect with us

Opini

Pasca Serangan ke Iran, Netanyahu Hadapi Amarah Rakyatnya

Published

on

Pada malam Sabtu, 28 Juni 2025, mereka kembali turun ke jalan. Para ibu, ayah, dan kerabat para sandera yang masih ditahan di Gaza—bersama ribuan warga Israel lainnya—berkumpul di Lapangan Sandera, di luar Museum Tel Aviv. Dua pekan mereka diam, terhalang larangan berkumpul akibat hujan rudal dari Iran. Tapi malam itu, diam tak lagi menjadi pilihan. Mereka ingin didengar, dan yang lebih penting, mereka ingin dilihat.

Di tengah sisa-sisa bayang perang melawan Iran yang hanya berlangsung dua belas hari namun mengguncang atmosfer politik dan sosial Israel, mereka membawa pesan yang lebih dalam dari sekadar tuntutan pembebasan. Mereka membawa luka. Bukan luka karena perang besar, melainkan luka karena merasa ditinggalkan oleh pemerintah sendiri. Mereka memanggil-manggil nama para pemimpin, bukan untuk meminta perang dilanjutkan, tapi untuk menyudahi semuanya—dengan satu tujuan: membawa pulang orang-orang yang mereka cintai.

Donasi ke Vichara via Saweria

Dukung Vichara dengan berdonasi 💛

Ada 50 sandera yang masih berada di tangan Hamas, termasuk 20 yang diyakini masih hidup. Sisanya—setidaknya 28—telah dikonfirmasi tewas, tubuhnya belum dipulangkan. Sebuah fakta yang membekukan napas. Di antara mereka, ada juga jenazah seorang prajurit Israel yang telah ditahan sejak tahun 2014. Pertanyaannya sederhana: mengapa mereka masih di sana? Apa sebenarnya yang lebih penting dari nyawa warga sendiri?

Netanyahu dan para jenderalnya menyebut operasi militer sebagai ‘misi suci’ demi keamanan jangka panjang. Tapi di bawah eufemisme itu, tersembunyi kenyataan pahit: perang yang tak kunjung selesai justru memperpanjang penderitaan para keluarga sandera. Bahkan dalam gencatan senjata terbatas beberapa bulan lalu, yang menyelamatkan puluhan warga sipil, langkah-langkah negosiasi justru terlihat sebagai manuver politik, bukan prioritas kemanusiaan.

Antara Januari dan Maret, Hamas membebaskan 30 sandera: 20 warga sipil Israel, lima tentara, lima warga Thailand. Delapan jenazah juga diserahkan. Satu sandera berkewarganegaraan ganda Amerika-Israel dibebaskan sebagai “gestur” kepada Amerika Serikat. Dan pada masa-masa awal perang, Hamas membebaskan 105 sandera dalam satu minggu gencatan senjata. Itu terjadi bukan karena tekanan militer, tapi karena adanya ruang diplomatik. Di sisi lain, Israel telah membebaskan sekitar 2.000 tahanan Palestina—termasuk yang disebut ‘teroris’ oleh pemerintahnya sendiri.

Jika pembebasan bisa terjadi melalui negosiasi, mengapa pemerintah Israel terus memilih jalur yang menambah korban? Bahkan ada fakta memilukan: tiga sandera tewas bukan oleh musuh, tapi oleh tentara Israel sendiri, yang salah mengira mereka sebagai lawan saat mencoba kabur. Apa artinya semua ini? Apakah mereka benar-benar ingin semua sandera pulang? Ataukah para sandera ini telah berubah menjadi sekadar instrumen tawar-menawar politik?

Pada Kamis sebelumnya, demonstrasi tatap muka pertama sejak pecahnya perang Iran digelar di Rabin Square, Tel Aviv. Yang berbicara adalah para ibu dari tentara yang bertugas di Gaza. Suara mereka getir, tak banyak retorika, hanya rasa lelah dan kehilangan yang diungkapkan. Satu hari sebelum itu, tujuh tentara Israel dilaporkan tewas di Khan Younis. Sebuah lingkaran setan kekerasan yang terus menelan nyawa tanpa hasil nyata.

Dalam narasi politik resmi, kemenangan disebut telah dicapai. Operasi di Iran dipuji sebagai sukses strategis. Tapi bagi para keluarga yang masih menanti anak, suami, atau saudara yang tak kunjung kembali, tak ada makna dalam istilah “kemenangan”. Mereka tak butuh perayaan. Mereka hanya butuh jawaban—dan tindakan nyata. Di sinilah kegagalan pemerintah menjadi sangat terang. Kemenangan militer tak berarti apa-apa bila tak membawa pulang mereka yang ditawan.

Pernyataan dari penyelenggara demonstrasi itu terasa tajam sekaligus mendesak: “Waktu kesepakatan parsial telah berakhir! Ini saatnya untuk kesepakatan penuh, dan mengakhiri pertempuran dengan membawa semua orang pulang sekaligus.” Mereka tak lagi ingin mendengar janji. Mereka ingin keputusan. Dan mereka melihat bahwa momen pasca operasi Iran adalah jendela sejarah yang bisa digunakan—atau disia-siakan—untuk menyelamatkan nyawa.

Menariknya, langkah keluarga sandera tak hanya diarahkan ke dalam negeri. Mereka kini bergerak untuk bertemu langsung dengan Presiden AS, Donald Trump. Laporan menyebutkan mereka sedang mengatur pertemuan itu bersama pejabat senior AS. Langkah ini bukan hanya menunjukkan kegigihan mereka, tetapi juga menggambarkan keputusasaan terhadap pemerintah sendiri. Bayangkan: warga negara harus mencari bantuan ke pemimpin asing untuk menyelamatkan anggota keluarganya. Bukankah ini alarm moral bagi sebuah negara?

Sementara itu, tekanan dari AS pun meningkat. Media Israel melaporkan bahwa Trump secara pribadi mendorong Netanyahu untuk mengakhiri perang Gaza, terutama setelah keberhasilan operasi singkat melawan Iran. Ini tentu bukan karena belas kasihan semata, tapi ada kalkulasi geopolitik dan kepentingan elektoral AS. Namun yang menarik, dorongan dari luar tampak lebih menjanjikan dibanding langkah nyata dari dalam pemerintahan sendiri.

Apa sebenarnya yang sedang dipertaruhkan Netanyahu? Kursi kekuasaan? Koalisi politik rapuh yang bisa runtuh kapan saja? Ataukah ego militer yang menuntut dominasi total atas Gaza dan Hamas, meski harus dibayar dengan nyawa sandera? Ketika sebuah negara lebih memilih menghancurkan lawan sepenuhnya daripada menyelamatkan warganya sendiri, maka ada sesuatu yang salah bukan pada strategi—tapi pada nilai dasar kebangsaan itu sendiri.

Akhirnya, jalan pulang bagi para sandera bukan hanya tentang diplomasi atau strategi militer. Ini tentang keberanian pemerintah untuk mendengarkan suara rakyatnya sendiri. Tentang kesediaan mengakui bahwa kekuatan sejati bukan diukur dari jumlah rudal yang ditembakkan, tapi dari seberapa besar nyawa yang bisa diselamatkan. Jika pemerintah Israel terus menunda keputusan penting ini, maka sejarah akan mencatat bahwa di tengah bisingnya perang dan politik, mereka gagal mendengar tangis dari Lapangan Sandera.

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer